6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?
Ilustrasi Permen Cokelat.
Dream – Negara yang mayoritas penduduknya beragama Muslim menjadi pasar yang berkembang pesat untuk komoditas cokelat, khususnya cokelat halal. Malaysia memprediksi kebutuhan negara tersebut akan makanan ini akan tinggi.
Dilansir dari Gulf Times, Kamis 6 Juni 2017, Malaysia memang tidak punya banyak perkebunan kakao, tetapi terkenal sebagai produsen cokelat nomor dua dengan menggiling biji kakao yang dipasok dari Indonesia. Karena mayoritas penduduknya beragama Islam, negara ini menjual cokelat yang sesuai dengan prinsip halal, yaitu tidak menggunakan alkohol dan produk hewani.
Nah, pasar Muslim sendiri menjadi “ kue” yang menarik bagi cokelat halal. Menurut riset Pew Research Center, Islam termasuk agama yang berkembang pesat di dunia dan diprediksi akan memiliki 2,8 miliar pemeluknya pada 2050.
Penjualan produk cokelat halal di pasar global pun diprediksi akan mencapai US$1,7 miliar (Rp22,74 triliun) pada 2020 dan pertumbuhan rata-rata tahunannya sebesar 5 persen, berdasarkan Furomonitor International Ltd.
Melihat pasar yang menggiurkan ini, Malaysia berharap pertumbuhan ini bisa mendorong ekspor produk cokelat halal.
“ Sertifikat halal ini penting di pasar negara berkembang—negara yang mayoritas penduduknya Muslim, Indonesia dan Malaysia. Di pasar ini, produk yang bersertifikat halal lebih disukai daripada yang tidak,” kata pakar analis senior di Furomonitor, Emil Fazira.
Emil mengatakan sertifikat halal ini tidak hanya melihat pada bahan baku, tetapi juga proses produksinya. Misalnya, mesin produksi harus bebas dari alcohol.
Distributor cokelat premium (couverture) dan cokelat konsumsi, Dazzle Food Sdn, menjadi halal pada 2009. Perusahaan yang menjual produk cokelat seperti Mr. Coco dan Marie Coco ini mengklaim sertifikat halal bisa mendongkrak penjualan 20-30 persen selama tiga tahun.
“ Permintaan bisa tumbuh lebih tinggi tahun ini,” kata Dazzle.
Negara yang penduduknya mayoritas beragam Islam di Asia Tengah dan Timur Tengah memberikan kesempatan besar untuk meningkatkan ekspor cokelat halal. menurut Dewan Kakao Nasional Malaysia, produk makanan halal bukan hanya merupakan ceruk pasar, melainkan juga makanan pokok.
“ Di kawasan Asia Tengah, industri kembang gula mereka berkembang pesat dan tumbuh. Komunitas Muslim harus berhati-hati. Jika tidak membawa logo halal, Anda tidak bisa menangkap pasar mereka,” kata Direktur Umum Dewan Kakao Nasional Malaysia, Norhaini Udin.
Norhaini mengatakan Malaysia tidak hanya menjual cokelat, tetapi juga produk kakao lainnya yang bersertifikat halal. Tahun lalu, ekspor biji kakao dan produk kakao Malaysia sebesar US$1,3 miliar (Rp17,39 triliun).(Sah)
Advertisement

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan

Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih

6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya

Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?