Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Meski memiliki dana yang tidak begitu besar, tetapi bank syariah di tanah air memiliki hasrat besar untuk turut mendukung proyek infrastruktur pemerintah. Kebanyakan mereka masuk ke proyek tersebut melalui sindikasi dengan bank lain.
BNI Syariah misalnya, dengan dana sekitar Rp 500 miliar, ikut membiayai proyek infrastruktur di sektor kelistrikan. Direktur Bisnis BNI Syariah Imam Teguh Saptono menjelaskan ketertarikan BNI Syariah pada proyek tersebut disebabkan besarnya dampak sektor ini terhadap negara dengan risiko yang aman.
" Kita ada tapi masuk dari sindikasi sesama bank syariah, sektornya kelistrikan karena eksposurnya besar dan risiko terkendali. Ada Rp 500 miliar yang sebagian besar uuntuk proyek tersebut," ujar Imam di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2015.
Sementara itu, Direktur Keuangan dan Strategi Bank Syariah Mandiri, Agus Dwi Handaya menyatakan pihaknya juga mengambil jatah dari bank induknya, Bank Mandiri, untuk masuk dalam pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah. Salah satunya, jalan tol Medan-Kualanamu. Pengambilan jatah dari bank induk ini karena kecilnya Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) BSM, yaitu senilai Rp 1 triliun.
" Kita ada di proyek pelabuhan, jalan tol Medan ke Kualanamu. Untuk jalan tol, nilai pembaiayaannya Rp 200 miliar melalui sindikasi beberapa bank, jadi kita ambil porsi Bank Mandiri," ujarnya beberpa waktu lalu.
Begitupun dengan bank syariah swasta. Bank Muamalat berencana masuk dalam program infrastruktur pemerintah. Salah satunya adalah proyek perawatan pesawat.
Hal ini disampaikan Direktur Utama Bank Muamalat Endy Abdurrahman di Jakarta beberapa waktu lalu.
" Kami berniat mendukung program pemerintah untuk infrastruktur. Bengkel perawatan pesawat," ujarnya.
Endy menyebutkan besarnya kebutuhan dana untuk proyek ini sekitar USD 125 juta. Namun, bantuan pembiayaannya tidak dilakukan sepenuhnya oleh Bank Muamalat, melainkan berbentuk sindikasi dengan bank lain.
" Kita nanti dana ke IFC, anak usaha Bank Dunia. Nanti dengan bank-bank lain, kita bagi-bagi berapa persennya," tandasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya