Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Tanpa dukungan sentimen positif yang muncul, indeks acuan saham syariah di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya tersungkur. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan terhempas hampir 2 persen.
Kondisi domestik yang tak kondusif serta bergugurannya indeks utama saham Asia membuat bursa saham nasional terpuruk di zona negatif.
Pada penutupan perdagangan BEI, Jakarta, Senin, 15 Juni 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) terpangkas 3,663 poin (2,30%) ke level 155,740.
Laju ISSI tersungkur melemahnya harga saham dari 162 emiten syariah. ISSI tak bisa berharap banyak dari menguatnya harga saham 30 emiten syariah dan 40 lainnya yang bergerak stagnan.
Transaksi perdagangan saham syariah mencapai Rp 2,40 triliun dengan 30,12 miliar saham yang berpindahtangan.
Sepanjang perdagangan ISSI memang tak punya peluru untuk menembus zona hijau. Puncaknya, aksi jual jelang penutupan memaksa ISSI makin jatuh lebih dalam.
ISSI hanya mampu mencetak level tertinggi di 159,078 dan terendah di 155,740.
Koreksi lebih dalam dialami indeks saham bluechips syariah. Hanya menyisakan satu emiten di zona hijau, Jakarta Islamic Index (JII) menutup perdagangan dengan melemah 17,620 poin (2,65%) ke level 648,038.
JII terseret pelemahan harga saham dari 27 emiten unggulan syariah. Sisanya, 2 emiten JII bertahan stagnan.
Motor penggerak JII seolah tak berdaya melawan aksi jual pelaku pasar. Terlihat dari penghuni top gainer yang dihuni saham-saham favorit investor.
Dipuncak top gainer terdapat emiten UNVR yang melemah Rp 925 per saham. Disusul AALI yang turun Rp 725, LPPF Rp 675, ICBP Rp 650, dan UNTR Rp 300 per saham.
Satu-satunya emiten yang masih diburu investor adalah SILO yang naik Rp 100 per saham.
Aksi jual saham memang tak bisa dihindari pelaku pasar yang tengah dilanda kepanikan. Lihat saja laju IHSG. Seharian di zona merah, IHSG menutup perdagangan dengan terjun bebas 98,023 poin (1,99%) ke level 4.837,794.
Transaksi jual beli di awal pekan ini terbilang minim dengan hanya mencetak nilai Rp 3,59 triliun. Dari jumlah tersebut, asing berupaya mengoleksi saham-saham murah dan mencetak nett buy Rp 5,95 miliar.
Emiten yang terserang aksi jual klaiimi berasal dari sektor properti yang turun 3,31 persen. Diikuti pertanian 3,10 persen, industri anake 2,91 persen, dan barang konsumsi 2,41 persen.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya