5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
OYO (Shutterstock/Najmi Arif)
Dream - Badai PHK belum usai. Kali ini startup perjalanan terbesar asal India, OYO, menyatakan telah melakukan PHK pada 600 karyawannya pada Sabtu, 3 Desember 2022.
OYO setidaknya memangkas 10 persen dari 3.700 karyawannya. Dalam waktu bersamaan, OYO juga menginformasikan telah merekrut 250 pekerja baru.
" OYO akan mengurangi 10 persen dari basis 3.700 karyawannya, termasuk perekrutan baru 250 anggota dan melepaskan 600 karyawan," kata manajemen OYO, dikutip dari The New Indian Express, Senin 5 Desember 2022.
Pekerja baru yang tergabung dalam perusahaan yang memiliki nama badan hukum Oravel Stays Ltd. itu akan ditempatkan dalam tim manajemen hubungan untuk memastikan kepuasan konsumen dan mitra yang lebih baik, serta tim pengembangan bisnis untuk membantu meningkatkan jumlah hotel dan rumah di platform OYO.
" Kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk memastikan bahwa sebagian besar orang yang harus kami keluarkan, mendapatkan pekerjaan yang menguntungkan. Setiap anggota tim OYO dan saya sendiri akan secara proaktif mendukung kekuatan masing-masing karyawan tersebut,” kata Founder dan CEO OYO Group, Ritesh Agarwal.
OYO mengklaim keputusan PHK karyawan itu adalah bagian dari perubahan luas dalam struktur organisasi mereka. Produk dan engineering akan dirampingkan.
Kemudian jumlah karyawan di kantor pusat perusahaan dan di OYO Vacation Homes juga akan diturunkan. Tim produk dan teknik sedang digabungkan untuk fungsi yang lebih lancar.
Sebelumnya, berdasarkan laporan Bloomberg, Soft Bank Group Corp yang merupakan pemegang saham terbesar OYO mengatakan bahwa OYO mengalami kerugian sebesar 3,33 miliar rupee.
Nilai itu setara US$41 million atau Rp629,84 miliar pada September, kuartal III-2022. Kerugian ini masih lebih kecil dari 4,14 miliar rupee pada kuartal sebelumnya.
Dream - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kenaikan tingkat hunian kamar hotel selama September 2022 menjadi 50,02 persen.
Pertumbuhan positif juga dirasakan OYO sebagai pelaku industri perhotelan, di mana selama empat tahun berdiri OYO Indonesia berhasil menarik lebih dari 13 juta pelanggan dengan pertumbuhan bisnisnya yang meningkat 15 kali lipat.
Sementara itu, hingga Oktober 2022, tercatat secara total OYO telah memiliki lebih dari 3.400 properti dan 48.000 kamar di lebih dari 160 kota seluruh Indonesia.
“ Empat tahun perjalanan kami dalam mengembangkan bisnis bukanlah hal yang mudah. Terdapat berbagai tantangan yang harus kami hadapi, khususnya di awal masa pandemi kemarin,” kata Country Head OYO Indonesia, Agus Hartono Wijaya, dalam keterangannya, dikutip Kamis 10 November 2022.
Capain tersebut menurut Agus, didukung oleh dua hal utama, yaitu adopsi layanan berbasis digital, baik bagi pelanggan maupun mitra bisnis, serta kolaborasi dengan mitra penginapan.
Di tahun ke empat OYO, Indonesia masih menjadi pasar penting bagi OYO Global. Salah satu alasannya karena Indonesia merupakan salah satu pasar yang paling matang dalam hal skala dan unit ekonomi.
OYO mempunyai target memiliki 1,2 hingga 1,5 juta perjalanan domestik di 2023.
“ Meski pandemi memberikan berbagai dampak negatif, OYO Indonesia telah membuktikan pertumbuhan bisnisnya, dengan menunjukkan peningkatan permintaan pelanggan yang mencapai 110% sejak pandemi,” kata Global CBO & CEO SEAME of OYO, Ankit Tandon.
Selama masa transisi pandemi menuju pascapandemi, OYO melihat adanya pergeseran tren wisatawan dalam hal menginap.
Sebelum pandemi, wisatawan rata-rata menginap selama satu hingga tiga hari per pemesanan. Namun, selama masa pandemi, wisatawan lebih memilih durasi menginap yang panjang sekitar lima hingga tujuh hari.
Kini, ketika memasuki masa transisi pasca pandemi, tren kembali normal dengan durasi menginap selama satu hingga hari.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
