Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

`Cita Tenun` Geber Pelestarian Kain Indonesia

Reporter : Kusmiyati
Jumat, 19 Desember 2014 16:04
`Cita Tenun` Geber Pelestarian Kain Indonesia
Sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya, salah satu organisasi yang peduli dengan wastra Indonesia, Cita Tenun Indonesia (CTI) memiliki program pelatihan bagi para pengrajin kain daerah.

Dream - Indonesia begitu kaya dengan warisan budaya. Produk kain seperti songket dan tenun misalnya. Namun sayang warisan ini tidak banyak dikenakan oleh generasi muda. Bahkan bisa dibilang peminatnya mengalami penurunan.

Sebagai upaya untuk melestarikannya, salah satu organisasi yang peduli dengan wastra Indonesia, Cita Tenun Indonesia (CTI) memiliki program pelatihan bagi para pengrajin kain daerah.

Organisasi yang dipimpin Okke Rajasa ini bertujuan untuk membangkitkan produk kain nusantara. Program organisasi yang pernah mendapat penghargaan dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ini dilakukan selama satu tahun dengan agenda pelestarian, pembinaan, pelatihan, serta pemasaran.

" Program ini akan menghidupkan industri rumahan ibu-ibu," kata Okke saat ditemui pada Bincang Wastra Festival Songket Sumatera di Museum Tekstil Jakarta, Tanah Abang, Jakarta Barat. 

Okke juga menambahkan, salah satu pembinaan yang dilakukan yakni pemberian inspirasi mengenai pengemasan kain tradisional. Hal ini berkaitan dengan tujuan CTI yang ingin mensejahterakan pengrajin dengan menggali kreativitas untuk dijadikan aspek mata pencaharian baru.

Sependapat dengan Okke, pecinta songket yang juga peneliti di Institut Teknologi Bandung (ITB), Ratna Panggabean mengatakan, dengan adanya pelatihan ini ekonomi para pengrajin mengalami perubahan.

" Mereka itu sebelum ada CTI penghasilannya begitu kecil sekitar Rp 250 ribu untuk dua tenun atau songket. Sekarang ada pelatihan CTI penghasilannya bertambah sekitar Rp. 700 ribu hingga Rp 1 juta," kata Ratna ditemui ditempat yang sama.

Dengan adanya pelatihan memanfaatkan kain tidak hanya untuk busana. Ini tujuannya agar tercipta diferensiasi produk, pengolahan kain tradisional, terutama songket untuk menjadi sebuah produk properti juga cukup menguntungkan perajin. Waktu tenun yang lebih singkat dan memiliki keunikan serta bisa dipasarkan dengan harga bersaing.

" Kebutuhan kain untuk fashion dengan untuk interior sangat berbeda. Kalau fashion kan harus bagus motifnya. Kami ajarkan kalau untuk interior yang penting tahan lama, tidak tipis, tidak harus panjang-panjang," tambah istri dari Ketua Umum PAN Hatta Rajasa ini.

Beberapa produk itu antara lain motif kain Bali yang diaplikasikan di atas ubin marmer. Ada pula kain songket yang dijadikan motif papan catur atau menjadi aksen pada lampu meja. Sejumlah batik juga kerap dikemas menjadi sarung bantal.

Okke berharap warisan budaya bangsa selalu bisa dinikmati sepanjang masa. " Kami ingin anak cucu cicit semua bisa menikmati ragam budaya bangsa. Mereka diharapkan bisa lebih mencintainya," harap Okke. (Ism)

Beri Komentar