Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ada Tiga Kemungkinan Yang Menyebabkan Kita Memiliki Toleransi Terhadap Kafein. (Foto: Shutterstock)
Dream - Mengonsumi kafein dikenal sebagai salah satu cara mengatasi kantuk dan meningkatkan stamina. Namun dalam beberapa kasus, hal tersebut tidak memberikan pengaruh signifikan.
Kenapa demikian? Karena keadaan ini dapat terjadi adanya toleransi kafein dalam diri kita.
Hal ini tentu terjadi bukan tanpa alasan. Dilansir Insider.com, Senin, 1 Maret 2021, ada tiga kemungkinan yang menyebabkan kita memiliki toleransi terhadap kafein.
Apa saja?

Genetika dapat memainkan faktor sensitivitas ketika tubuh bereaksi dengan kafein. Ketika mengonsumsi kafein, membutuhkan waktu sekitar 45 menit bagi tubuh untuk menyerapnya. Molekul-molekul kafein kemudian dengan cepat berpindah ke otak.
Di dalam otak, molekul-molekul kafein mengikat reseptor neurotransmitter yang biasanya dipasangkan dengan adenosin. Proses ini kemudian menghalangi adenosin untuk mencapai reseptor tersebut, sehingga menghambat rasa kantuk.
Namun dalam beberapa kasus, faktor genetik dapat menentukan seberapa efektif reseptor adenosin dalam mengikat molekul-molekul kafein, sehingga dapat menghambat rasa kantuk.
Minum kopi di pagi hari mungkin tidak lagi dapat mencegah kita untuk merasakan kantuk, karena tubuh kita sudah membentuk toleransi terhadap kafein. Toleransi ini justru dapat terjadi karena kebiasaan rutin kita dalam mengonsumsi kafein.
Ketika rutin mengonsumi kafein dalam jumlah yang banyak serta dengan frekuensi terlalu sering, sensitivitas tubuh kita terhadap kafein justru makin menurun.

Dosis maksimum kafein yang dianjurkan untuk dikonsumsi adalah 400 mg per hari, yaitu sekitar empat cangkir kopi.
Ketika tubuh kita tidak merasakan efek stimulasi kafein pada batas yang disarankan, maka dapat dipastikan tubuh kita mungkin telah membangun toleransi yang terlalu tinggi terhadap kafein.
Kafein sejatinya bukanlah obat yang dapat mengatasi rasa kantuk. Jika kita mengalami kelelahan hebat, tubuh justru sangat memerlukan waktu tidur yang cukup, sehingga kafein mungkin tidak akan bekerja untuk mencegah rasa kantuk.
Dalam kasus ini, sangat disarankan untuk memiliki waktu istirahat yang cukup, tanpa adanya gangguan. Meditasi sebelum tidur lebih awal mungkin dapat menjadi opsi untuk meningkatkan kualitas istirahat yang cukup.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya