Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Membuat anak makan makanan sehat, kerap menguji kesabaran orangtua. Paparan media sosial seperti aplikasi berbagi foto, Instagram, rupanya menambah pekerjaan rumah orangtua dalam hal membiasakan anak mengonsumsi makanan sehat.
Hal ini terungkap dalam penelitian tim dari University of Liverpool, Inggris yang dipublikasi di Journal Pediatrics. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang melihat gambar camilan tidak sehat di platform media sosial cenderung mengonsumsi lebih banyak kalori dari camilan tidak sehat.
" Kondisi ini semakin mempengaruhi karena juga dilakukan oleh para selebritas dan influencer, yang menunjukkan makanan tidak sehat. Sementara, dukungan pada makanan sehat hanya sedikit," kata salah satu peneliti, Anna Coate, dikutip dari The Health Site.
Penelitian ini dilakukan dengan menguji pengaruh pemasaran media sosial makanan ringan (sehat dan tidak sehat), melalui halaman Instagram, terhadap asupan makanan ringan anak-anak.
Selama penelitian, 176 anak-anak, berusia antara 9 dan 11 tahun, secara acak dibagi menjadi tiga kelompok yang sama. Mereka diperlihatkan laman-laman Instagram seputar makanan baik yang sehat maupun tak sehat.
Satu kelompok diperlihatkan gambar influencer dengan camilan yang tidak sehat, kelompok kedua diperlihatkan gambar influencer dengan camilan sehat dan kelompok ketiga diperlihatkan gambar vlogger dengan produk non-makanan.
Hasilnya, anak-anak dalam kelompok yang melihat gambar camilan tidak sehat mengkonsumsi 32 persen lebih banyak. Pemasaran makanan tidak sehat juga meningkatkan asupan makanan kalori tinggi anak-anak.
" Orang-orang muda lebih memercayai influencer sehingga dukungan mereka mungkin lebih berdampak dan eksploitatif," kata Coate.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya