Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Muslimah Di New York Berhijab (@sanahrashid)
Wanita-wanita cantik ini semua berhijab. Riuh meriung di sebuah restoran. Lalu, bergaya dengan rupa-rupa aksi di depan kamera. Jepret. Foto-foto itu kemudian menyebar ke seluruh dunia begitu cepat lewat media sosial. Instragram dan Facebook. Berhijab, mereka terlihat cantik, modis, permai di mata dan tentu saja tetap santun.
Para wanita muda itu bukan di Dubai, tapi di New York, kota di Amerika Serikat yang nyaris tak pernah mengaso. Dan berhijab kini menjadi trend di kalangan wanita muda muslimah di negeri itu. Kecenderungan itulah yang ditangkap Sana Rashid, yang kemudian menekuni dunia feysen muslim. Dan dia memulai dari dirinya sendiri. Saban hari berhijab.
Berhijab di negeri seperti Amerika Serikat memang mudah-mudah susah. Mudah karena memang bebas dipakai alias tak ada larangan. Susah, karena ada saja anggapan bahwa muslimah selalu hidup dalam keterpaksaan. Termasuk soal berhijab. Anak-anak muda ini membantah anggapan itu dengan cara mereka sendiri dan paling gampang. Berhijab dengan ceria dan tampil trendy.
" Saya melakukan semua sesuai keinginan saya," tegas Rashid sebagaimana ditulis New York Daily. Perempuan 31 tahun ini memang penyuka hijab. Akun media sosial Instagram dan Facebook penuh dengan foto-foto hijabnya.
Saking gandrungnya, muslimah kelahiran Pakistan ini aktif mempromosikan hijab melalui blog. Bukan sekedar bergaya. Lewat blog yang dibuat awal 2013 itu, Rashid ingin semua orang tahu betapa indahnya kehidupan muslimah.
" Saya ingin mereka melihat, inilah saya, seorang perempuan muslim, saya punya kehidupan yang normal," tuturnya.

Meski tumbuh di keluarga muslim, Rashid memang tidak berhijab sejak kecil. Tak ada arahan dari kedua orangtua. Apalagi ibunya juga tidak berhijab. Rashid baru memakai busana muslim itu ketika berusia 19 tahun. " Berhijab adalah ide saya sendiri," tambah lulusan fakultas farmasi ini.
Untuk mengurangi tekanan, Rashid punya siasat. Sebisa mungkin tak menggunakan hijab hitam. Sebab, warna hitam punya konotasi negatif bagi masyarakat Barat. Hijab hitam kerap diidentikkan dengan aliran garis keras.
“ Pada umumnya masyarakat suka memakai hijab hitam tapi ketika seorang muslimah mengenakannya dia tertekan,” kata dia. Tafsiran negatif itu pula yang membuat Rashid tampil modis. Pakaian favoritnya, celana modis--terkadang mengenakan jin, kemeja sutra oranye yang agak longgar dipadu dengan hijab sutra biru.
Rashid bukan satu-satunya penggila hijab di New York. Muslimah lain adalah Nailah Lymus, yang juga seorang desainer busana muslim. Lymus mengakui bahwa hijab berkembang pesat di AS, khususnya New York. “ Ada dampak industri busana muslimah dari tahun ke tahun,” tutur dia.
Busana rancangan Lymus selalu memadukan pola dengan warna-warna cerah. Dia selalu menampilkan rancangan-rancangan ciamik saat menggelar pameran busana muslimahnya.
Dalam berpakaian, Lymus pun tak pernah meninggalkan hijab. Berbagai bentuk penutup kepala telah dia coba. Sesekali dia memakai jilbab tradisional yang menutup rapat bagian rambut, telinga, leher, dan bahkan dada. Pada kesempatan lain dia mengikatkan kerudungnya sebagai sorban tebal yang menutupi kepala, namun membiarkan bagian lehernya terlihat.
Lain cerita dengan Husna Haq. Perempuan yang berhijab sejak usia sembilan tahun ini nyaris melepasnya karena merasa tertekan. Terutama setelah pembajakan pesawat yang kemudian ditabrakkan ke gedung World Trade Center atau WTC.
Namun Haq mencoba bertahan di bawah kecurigaan sekelilingnya. Dia berusaha selalu ramah dengan orang lain. Satu trik lagi, setiap hari dia memakai hijab yang berbeda warna. Lama-kelamaan kecurigaan masyarakat kepadanya luntur juga.
Haq akhirnya tetap menggunakan hijabnya saat kuliah. Bahkan saat wisuda dan wawancara kerja. Kini, Haq bekerja di Washington dengan tetap mengenakan hijab. (eko)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya