Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Bunyi orang mengunyah permen karet, menyeruput kopi atau makan kerupuk bukan sesuatu yang mengganggu.
Semua bunyi itu adalah kejadian biasa. Dan akan terdengar setiap saat di mana pun kita berada.
Namun, bagi penderita misofonia, bunyi-bunyi itu sangat mengganggu hingga ke tingkat yang ekstrem.
Misofonia, juga dikenal sebagai Selective Sound Sensitivity. Digambarkan sebagai respons emosional atau fisiologis yang kuat terhadap bunyi-bunyi tertentu yang biasanya dihasilkan oleh manusia.
Jadi, bunyi orang menggigit makanan renyah, menjentikkan jari, atau bahkan bernafas, dianggap sebagai gangguan yang tak tertahankan.
Reaksi yang paling umum dari penderita misofonia saat mendengar bunyi-bunyi tertentu adalah tidak suka atau marah.
Namun penderita misofonia juga bisa mengalami masalah psikologis seperti kecemasan dan rasa jijik.

Reaksi itu terkadang diikuti dengan pelepasan adrenalin. Yang menyebabkan jantung berdebar, badan gemetar, berkeringat berlebihan, hingga meningkatnya denyut nadi.
Ini akan membuat semua yang dianggap biasa oleh kebanyakan orang, menjadi sesuatu yang tak tertahankan bagi penderita misofonia.
Salah satu penderita misofonia adalah Margot Noel dari Inggris. Kisah hidupnya bersama misofonia didokumentasikan oleh BBC.
Margot sendiri tidak ingat sejak kapan dia menderita misofonia. Dia hanya tahu tidak suka atau benci dengan bunyi-bunyi tertentu.
Beberapa bunyi tersebut di antaranya suara orang berbisik. Bunyi klik pena saat ditekan dan bunyi krek saat jari-jari ditarik atau ditekuk.

Margot bukan hanya tidak suka bunyi-bunyi tersebut, tapi juga membenci benda-bendanya.
" Bunyi-bunyi itu membuat saya ketakutan, dan saya akan melakukan apa pun untuk menghentikannya," kata Margot.
Bunyi yang paling dibenci oleh gadis 28 tahun ini adalah bunyi krek saat jari ditarik atau ditekuk.
" Tidak hanya pada taraf tidak suka, tapi bunyinya membuat saya mual. Saya merasa cemas yang amat sangat," katanya.
Margot bahkan menyamakannya dengan kondisi ketika seseorang menodongkan pistol di kepalanya.
![]()
Margot mengaku sangat menderita dan tertekan. Dia tidak mungkin melarang orang-orang sekitarnya melakukan hal normal tapi dibencinya.
Margot baru mengetahui bahwa dia menderita misofonia sekitar tiga tahun lalu. Setelah merasa sangat terganggu ketika menyaksikan pertunjukan teater.
Pada awalnya dia menikmati pertunjukan itu. Tetapi tiba-tiba bunyi napas seseorang yang duduk dekatnya menarik perhatiannya.
Bunyi itu terdengar sangat mengganggu hingga mengalihkan perhatiannya dari pertunjukan teater.

Ilustrasi penderita Misofonia. (Foto: Unsplash.com)
Begitu pulang, Margot langsung mencari informasi di Internet tentang gejala yang mirip dengan yang dialaminya.
Ketika membaca tentang misofonia, Margot merasa lega karena dia setidaknya mengerti apa yang sedang terjadi.
Setelah mengetahui ada studi misofonia dilakukan di Newcastle, Margot menghubungi salah satu ilmuwan yang terlibat dalam penelitian tersebut.
Margot akhirnya menjadi bagian dari penelitian misofonia itu. Dia menjalani enam uji coba untuk mengukur respons terhadap pemicu misofonia.
Sayang, Margot hanya mampu melalui dua uji coba karena yang lainnya benar-benar tak tertahankan baginya.
" Bukannya saya menyerah, karena saya benar-benar ingin menjalaninya. Tapi mereka bilang saya harus berhenti karena terlalu tertekan dan itu mengacaukan hasil uji coba," katanya.

Sejak itu, Margot berusaha bisa hidup bersama misofonia. Dalam kehidupan sehari-hari, Margot selalu memakai penutup telinga atau headphone untuk menghalangi suara yang membuatnya gila.
" Saya menjadikan musik sebagai pelindung dari bunyi-bunyi gila itu. Saat menonton film, saya hanya menutup telinga setiap kali mendengar bunyi yang memicu respons emosional yang tidak terkendali ini," pungkas Margot.
(ism, Sumber: OddityCentral.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya