5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
(Foto: NextShark.com)
Dream - Ketika naik kereta komuter di Jepang, Sahabat Dream bakal menemukan fenomena yang tak akan dijumpai di mana pun.
Seperti fenomena para pekerja yang tidur seenaknya di komuter. Di sana, ini seperti pemandangan biasa.
Disebut dengan inemuri. Fenomena ini menjadi tanda bahwa orang Jepang adalah bangsa pekerja keras dan disiplin.
Mereka bisa sampai tidur di kereta saat berangkat atau pulang kerja, karena tubuh yang masih lelah atau mengantuk akibat beban pekerjaan yang berat.
Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana pelaku inemuri ini bisa tahu kapan mereka harus bangun dan turun dari komuter.

(Foto: NextShark.com)
Itu adalah fenomena yang luar biasa, sebab orang-orang Jepang tidak menggunakan alarm konvensional, baik di ponsel atau jam tangan.
Meskipun belum ada penelitian yang secara khusus menjelaskan pengamatan ini, dua dokter mengemukakan pendapat mereka.
Berbicara kepada Science of Us, Dr Marc I. Leavey, spesialis di Maryland, menyarankan tubuh-tubuh warga Jepang yang tidur di gerbong-gerbong komuter telah terbiasa untuk melakukan rutinitas.
" Tubuh mereka mampu menyesuaikan dengan rutinitas yang sudah menjadi sesuatu yang rutin," kata Dr Leavey.
Artinya, kebiasaan orang Jepang bisa bangun sebelum sampai di stasiun tujuan, disebabkan oleh tubuh yang terbiasa untuk tertidur dalam waktu singkat dan sama setiap hari.
Kebiasaan ini akan memengaruhi jam internal tubuh atau ritme sirkadian. Namun ritme sirkadian dibangun untuk siklus 24 jam, sehingga perannya bagi orang yang tertidur dan kemudian bangun dalam waktu yang sama masih diperdebatkan.

(Foto: NextShark.com)
Penjelasan lainnya datang dari Ronald Chervin, seorang ahli saraf dan Direktur Michigan Medicine’s Sleep Disorders Center.
Menurut Chervin, fenomena inemuri ini mungkin berasal dari fakta bahwa otak tetap bekerja bahkan meski kita sudah tidur.
Artinya, komuter Jepang ini bisa bangun setelah mendengar petunjuk tertentu seperti pengumuman kereta telah sampai atau suara yang tidak asing di stasiun tertentu.
" Otak kita terus melakukan skrining rangsangan selama tidur. Sehingga kita bisa tahu jika kereta sudah sampai di stasiun tertentu," jelas Chervin.
Lagipula, banyak orang Jepang yang sebenarnya tidak tidur dalam perjalanan. Meski menutup mata, mereka masih bisa mendengar atau mengetahui kondisi sekitar.
(Sumber: NextShark.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?