Jenius (1): Anak-anak Jenius Indonesia

Reporter : Syahid Latif
Rabu, 9 September 2015 20:05
Jenius (1): Anak-anak Jenius Indonesia
Usia 13 tahun sendirian tinggal di luar negeri. Usia 14 tahun sudah masuk kampus. Anak-anak ini mengalahkan usianya.

Dream - “ Ayo ke depan. Lari keluar dari situ. Lari bro!”

Perintah itu melengking lewat pengeras suara. Mengegas seorang remaja tanggung, yang duduk berjejalan dengan  ribuan orang. Bercaping rupa-rupa warna,  anak-anak muda itu memenuhi Graha Sabha Pramana, Universitas Gajah Mada (UGM). Ya, para mahasiswa baru itu tengah mengikuti acara Ospek, tradisi tahunan yang umumnya digelar di berbagai kampus di seluruh Indonesia.

Pria berpostur tinggi yang memberi perintah itu, berdiri di tengah lapangan. Dia terlihat gagah. Berbaur dengan ribuan mahasiswa baru. Berpanas-panasan, memakai celana jeans dipadu dengan kemeja putih polos. Dan ini sungguh tak biasa,  lelaki itu adalah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang karir politiknya dirakit lewat PDI Perjuangan.

Jika kemudian dia hadir di situ, dan memberi perintah pula, itu bukan karena Ganjar menjadi orang nomor satu di Jawa Tengah, tapi karena dia adalah Ketua Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama), yang lulusannya banyak yang menjadi petinggi negeri ini, sebagai misal, Presiden Indonesia Joko Widodo dan begitu banyak menteri, juga ilmuwan.  

Dan pemuda tanggung yang digegas sang gubernur itu berlari maju. Dia berperawakan ceking, rambut klimis. Kacamata minus melindungi dua matanya. Sedikit tergopoh-gopoh. Dan sekilas tak ada yang istimewa dari penampilannya, sehingga orang lain tak tahu mengapa dia yang meraih kehormatan itu.

Jaket hijau lumut, ciri khas kampus itu, yang membalut tubuhnya terlihat kedodoran. Tapi bersanding dengan sang gubernur dia berusaha  gagah berdiri. Tak canggung. Ribuan mata yang mematut ke arahnya juga tak membuat kikuk.

Pada Selasa, 18 Agustus 2015 iu, Aldo Meyolla Geraldino, begitu nama anak muda itu, dinobatkan sebagai mahasiswa termuda. Dari 9.536 mahasiswa baru tahun akademik 2015-2016 di kampus itu. Dan tampangnya memang terlihat seperti remaja tanggung. Usianya 14 tahun, 7 bulan, 29 hari.  Pada usia yang terbilang belia untuk kuliah itu, dia lulus bersaing dengan ribuan orang, masuk Fakultas Kedokteran.

Ketika ribuan anak-anak seusianya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Aldo sudah menyandang status mahasiswa. Dia tidak hanya cerdas, tapi juga menyimpan mental yang prima. Tak kikuk ketika menjawab sang gubernur, meski pertanyaannya bersifat “ dilematis.”

" Do, kalau kamu melihat tetangga kanan kirimu, yang untuk urusan makan saja susah dan jatuh sakit tapi tidak ada yang menolong, apa yang kamu lakukan?" tanya Ganjar. Aldo menjawab dengan tenang bahwa pertama-tama dia akan membeli makanan, “ Kemudian saya suruh makan dan baru diobati.”  Ganjar kemudian bertanya lagi, “ Disuruh bayar?” " Enggak usah," cepat Aldo menjawab.

Ganjar lalu memberi sanjungan bahwa Aldo adalah dokter masa depan yang dimimpikan Indonesia. Memberi selamat, memberi semangat. “ Aldo keren," puji Ganjar, yang disambut tepuk tangan membahana ribuan tangan. Dan semenjak hari itulah nama Aldo menjadi sohor. Para netizen ramai menyanjung di media sosial. Dikagumi banyak orang. Media massa juga antri mewawancara, mengali kisah hidup hingga tips belajar. Dia kemudian disemat sebagai bocah jenius Indonesia.

***

Mencetak anak jenius seperti Aldo sudah pastilah susah. Anak-anak yang mengalahkan usianya itu memang langka. Bahkan di negeri maju yang gizi dan kurikulumnya paling manjur sekalipun. Jumlahnya sedikit.

Lihatlah data Mensa Indonesia, sebuah perkumpulan untuk orang-orang yang ber-IQ tinggi berikut ini. Dari setidaknya 250 juta penduduk bumi pertiwi ini, hanya sekitar 2 persen yang bisa disebut jenius. Dan mirisnya lagi, sebagian dari orang jenius itu memilih berkiprah di luar negeri ketimbang di tanah air.

Secara umum, di seluruh dunia, jumlah rasio orang jenius yang biasa-biasa saja terpaut jauh. Psikolog dari Ohio State University, Joanne Ruthsatz, bahkan ragu menyebut jumlahnya. " Saya hanya bisa mengatakan, anak ajaib sesungguhnya sangat langka, mungkin hanya ada 1 dari 5 juta atau 1 dari 10 juta orang di dunia," katanya mengutip  popsci.com.

Berapa jumlah pasti orang jenius di seluruh dunia, belum ada juga data pastinya. Hanya perkiraan kasar. Cuma sekitar 2 hingga 5 persen dari total penduduk dunia. Nilai IQ memang masih menjadi standar kejeniusan seseorang. National Association for Gifted Children  menyebut anak dengan IQ rentang 130-144, layak disebut jenius moderat. Sementara IQ 145-159 disebut sangat jenius.

Dari dua tingkatan itu, posisi terhormat diberikan bagi anak ber-IQ lebih dari 180. Anak dengan IQ setinggi ini bisa dipastikan sebagai anak superjenius.

Menilai kejeniusan memang menjadi relatif. Mensa internasional sendiri hanya menyebut tanda-tanda seorang anak layak disebut jenius. Memiliki kemampuan mengingat tak biasa, membaca di usia lebih cepat, punya hobi atau ketertarikan unik, serta melek dengan kejadian di dunia.

Tak hanya itu, anak jenius cenderung menunjukan tanda-tanda sering bertanya, punya selera humor, suka musik, senang berkuasa, dan seringkali menambahkan aturan sendiri dalam sebuah permainan.  Aldo, remaja tanggung calon dokter masa depan cukup layak disebut jenius. Pada usia 14 tahun dia menjadi mahasiswa. Fakultas kedokteran. Tempat yang diincar puluhan ribu siswa di seluruh negeri.

***

Dengan jumlah penduduk 250 juta, sudah pastilah negeri ini menyimpan begitu banyak bocah jenius. Bahkan sudah banyak yang sukses di negeri orang. Lihatlah Irfan Rulianto dan Rinaldo Wilopo.  Masih belia, tapi mereka sukses mengalahkan usianya, bahkan tinggal beribu kilo dari orangtua.

Irfan Rulianto, misalnya, semenjak berusia 13 tahun sudah menetap di Korea Selatan, negeri yang tidak hanya sohor dengan musik dan sinetronnya ke sekujur bumi, tapi juga terdepan di bidang teknologi informasi. Ketika teman-teman seusianya masih merajuk, dia sudah harus hidup mandiri di negeri itu.

Di bumi K-Pop itu, Irfan melaju jauh melampaui usianya. Dia  menimba ilmu di Korea Science Academy of Korea Advance Institute of Science and Technology (KSA of KAIST), sekolah yang setara dengan SMA di Negeri Ginseng itu. Tinggal sendirian di negeri jauh itu, tentunya bukan perkara mudah untuk anak seusia Irfan. Jauh dari orang tua, serta adik-adiknya. Dan saban hari akan bertemu wajah-wajah asing.

Tapi dia sukses melewatinya dengan sempurna.Tiga tahun berkelana di negeri itu,  Irfan sukses mengalahkan segenap ketakutannya. Kini, dia sudah menjadi mahasiswa di Ulsan National Institute of Science and Technology (UNIST).

Entah karena asyik berkelana dengan pengetahuan, anak-anak jenius umumnya berada jauh dari orang tua. Juga lebih mandiri. Selain Irfan, lihatlah juga Rinaldi Wilopo. Dari tanah Minang, remaja 15 tahun ini melalang buana sendirian ke tanah Pasundan. Di usia yang terbilang muda itu, Rinaldi diterima sebagai mahasiswa Universitas Padjadjaran.
 
Merendah karena merasa bukan murid istimewa, Rinaldi menyelesaikan masa SMP dan SMA lebih cepat dibandingkan teman sebayanya.  “ Di SMP Maria Padang, saya ikut akselerasi, jadi hanya 2 tahun. SMA 2 tahun juga, karena di Don Bosco, saya juga ikut program akselerasi," ujar anak laki-laki berkacamata itu.

Aldo, Irfan, dan Rinaldi, hanyalah tiga dari begitu banyak anak-anak Indonesia, yang  tidak saja melampui usianya, tapi juga memberi kita harapan. Harapan bahwa di antara berita buruk yang bertaburan saban hari, dari rupiah yang terjungkal hingga koruptor yang membuat emosi kita melaju ke ubun-ubun, kita masih menyimpan permata, setidaknya ini adalah berita gembira.

Baca Profil :

Aldo Meyolla : Mahasiswa Termuda UGM

Jenius (1): Anak-anak Jenius Indonesia© Dream

Irfan Rulianto : Si Imut Menggebrak Korea

Jenius (1): Anak-anak Jenius Indonesia© Dream

Rinaldi : Menembus Unpad di Usia 15 Tahun

Jenius (1): Anak-anak Jenius Indonesia© Dream

Beri Komentar