MERS, Jawaban Saudi Atas Kritikan Sejumlah Ahli

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 26 Mei 2014 13:45
MERS, Jawaban Saudi Atas Kritikan Sejumlah Ahli
Para ahli mengatakan infeksi dan kematian ini seharusnya bisa dicegah dalam waktu dua tahun sejak pertama kali MERS terdeteksi.

Dream - Semakin meningkatnya korban yang terjangkit virus Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-COV), menyudutkan posisi pemerintah Arab Saudi. Virus yang pertama kali ditemukan pada September 2012 itu, telah menelan korban nyawa 175 orang.

Para ilmuwan Barat pun mengeluarkan pernyataan yang isinya menyayangkan sikap pemerintah Arab Saudi yang bersikeras tidak menerima bantuan luar negeri, sehingga virus itu menyebar ke seluruh wilayah Saudi dan mencapai Malaysia, Yunani, Lebanon dan Amerika Serikat melalui Inggris.

MERS adalah 'sepupu' dari SARS, mantan virus pertama yang muncul di Timur Tengah dan ditemukan pada September 2012 di Qatar oleh seorang pria yang telah melakukan perjalanan ke Arab Saudi.

Virus yang menyebabkan batuk, demam dan radang paru-paru ini tidak tampak sebagai penyakit menular seperti SARS. Namun sudah menginfeksi sekitar 8.273 orang dan membunuh sekitar 10 persen dari mereka.

Para ahli mengatakan bahwa infeksi dan kematian ini seharusnya bisa dicegah dalam waktu dua tahun sejak pertama kali MERS terdeteksi. Hal ini bisa diwujudkan andai pemerintah Saudi bersikap lebih terbuka menerima bantuan dari luar berupa tim spesialis dan teknologi lebih maju.

Namun para ilmuwan yang terlibat dalam pelacakan MERS selama dua tahun terakhir mengatakan, Saudi menolak bantuan yang berulang kali ditawarkan, termasuk ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), para spesialis dari Belanda di Erasmus Medical Center Rotterdam serta tim dari London yang bekerja untuk Public Health England (PHE).

Di Arab Saudi, sejauh ini belum ada studi pengendalian kasus yang dilakukan secara tuntas. Ini berarti permasalahan dasar belum terpecahkan, termasuk asal dan potensi kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh virus MERS di masa mendatang.

" Ini benar-benar tragedi bagi mereka yang sakit," ujar David Heymann, seorang profesor epidemiologi penyakit menular, ketua PHE dan kepala keamanan kesehatan global di Royal Institute of International Affairs, Inggris.

" Sangat disayangkan sekali kita tidak mengetahui bagaimana proses infeksi virus tersebut terjadi dan korban terus berjatuhan. Padahal ini bisa dihindari seandainya kita tahu lebih tentang virus ini," imbuhnya.

Tanggapan Pemerintah Saudi

Menanggapi hal ini, Menteri Kesehatan Saudi, Ziad Memish mengatakan kepada Reuters bahwa dia " terkejut" mendengar kritik tersebut.

Ia menjelaskan sejak munculnya penyakit ini kinerja yang dilakukan Departemen Kesehatan Saudi sangat 'kolaboratif." Lebih jauh ia mencontohkan, para ilmuwan yang masih terus berjuang memahami virus lain. Bahkan selama beberapa dekade sejak pertama kali virus tersebut diidentifikasi.

" Saya senang dengan cara pemerintah Saudi menangani wabah virus ini dan akan terus melibatkan lebih banyak pihak untuk menguak secara detail virus," katanya dalam sebuah email yang ia kirim ke Reuters.

Beri Komentar