Dibangun Pendiri Taj Mahal, Masjid Berusia 450 Tahun Terancam Hilang

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 13 November 2019 09:01
Dibangun Pendiri Taj Mahal, Masjid Berusia 450 Tahun Terancam Hilang
Putusan ini mengejutkan banyak pihak.

Dream - Kasus Masjid Babri di Ayodhya, Uttar Pradesh, India memasuki babak baru. Situs Islam bersejarah itu ditetapkan berdiri di atas lahan milik umat Hindu oleh Mahkamah Agung India lewat putusannya yang dibacakan pada 9 November lalu.

Kasus sengketa lahan ini berlangsung ratusan tahun, yang dikenal dengan Sengketa Ayodhya (Ayodhya Verdict). Sengketa ini berkembang dari isu agama menjadi politik dan rasial serta memicu konflik antara komunitas Muslim dan Hindu.

MA India menyatakan sebagian lahan tempat berdirinya masjid yang telah berusia 460 tahun itu harus diserahkan kepada otoritas umat Hindu untuk dibangun kuil Raja Ram. Lahan yang dimaksud yaitu tempat yang pernah dihancurkan umat Hindu pada 1992.

Sementara, MA India juga menyatakan terdapat lahan yang cocok seluas 5 hektare akan diserahkan kepada Badan Wakaf Sunni untuk membangun masjid baru.

Putusan tersebut membuat umat Islam India, khususnya Badan Wakaf Sunni terkaget. Sebabnya, mereka memiliki dokumen pemilikan yang sah atas lahan di mana Masjid Babri berdiri.

Dewan Pengacara Personal Muslim Seluruh India (AIMPLB) selaku kelompok advokat yang getol memperjuangkan Masjid Babri menyatakan ketidakpuasan atas putusan tersebut.

" Kami menghormati perintah (MA) tapi kami tidak puas dengan putusan atas sengketa ini. Kami akan rumuskan tindakan lebih lanjut," kata salah satu pengacara anggota AIMPLB, Zafaryab Jilani, dikutip dari Daily Sabah.

1 dari 5 halaman

Diklaim Tanah Lahir Dewa Ram

Masjid Babri dibangun pada 1528 di bawah kekuasaan Dinasti Mughal yang menganut Islam. Masjid itu berdiri di atas lahan seluas 2,77 hektara di Ayodhya yang merupakan Ibu Kota Negara Bagian Uttar Pradesh.

Masjid itu pernah dihancurkan oleh kelompok ekstremis Hindu pada 1992. Umat Hindu mengklaim sesembahan mereka Dewa Ram, penjelmaan Dewa Wisnu lahir di situs yang ditempati Masjid Babri.

Pemerintah Uttar Pradesh memperketat keamanan menyusul dibacakannya putusan tersebut. Sementara Perdana Menteri India, Narendra Modi, meminta semua pihak menahan diri seraya menyebut putusan yang ditetapkan bukanlah kekalahan maupun kemenangan pihak manapun.

 

2 dari 5 halaman

Konflik Berabad-abad Lamanya

Selama beberapa abad sejak didirikan, umat Islam di Ayodhya selalu sholat di Masjid Babri. Kala itu, Ayodhya merupakan kota di distrik Faizabad di era kekuasaan Dinasti Moghul.

Pada 1853, untuk pertama kalinya umat Hindu mengklaim lahan yang ditempati masjid sebagai tanah kelahiran Raja Rama dan menuding Masjid Babri dibangun dengan menghancurkan kuil lebih dulu. Tudingan tersebut menciptakan konflik antara umat Islam dengan Hindu.

Saat Inggris berkuasa, Masjid Babri dibagi menjadi dua. Bagian dalam masjid ditetapkan milik umat Islam sementara bagian luarnya milik umat Hindu. Namun ternyata, keputusan itu ternyata memicu konflik membesar dan berlangsung selama berabad-abad lamanya.

Baru pada 1995, kasus Masjid Babri masuk ke pengadilan. Tetapi, keputusan yang muncul tak pernah bisa menyelesaikan ketegangan yang terjadi antar dua umat beragama dan malah berkembang menjadi isu politik dan rasial.

3 dari 5 halaman

Sengketa Warisan, Anak di Pare-pare Gugat Orangtua

Dream - Seorang anak menggugat ayah kandungnya akibat sengketa pembagian harta warisan di dalam perusahaan milik keluarga. Kasus tersebut terjadi di Parepare, Sulawesi Selatan.

Dilaporkan Portal Makassar, Ibrahim Mukti menggugat ayah kandungnya Abd. Mukti Rachim dan meminta hasil pendapatan perusahaan PR Imam Laega Jaya Bersama.

Dalam akta perusahaan ini, tercatat ada tujuh anak Abd.Mukti dan istrinya. Hanya Ibrahim yang mempermasalahkan dan menggugat orang tua dan enam saudaranya.

Saat ini, gugatan Ibrahim sudah memasuki sidang kelima. Pada sidang perdata ini, majelis hakim di Pengadilan Negeri Parepare Kelas II, mengundang saksi dari pihak penggugat, yang juga pamannya, yang bernama Lukman Hakim.

 

4 dari 5 halaman

Anak Durhaka

Dalam sidang yang digelar Rabu, 6 November 2019, Moh Rendy, kuasa hukum Ibrahim, mengatakan, tuntutan ini tidak ada yang salah secara hukum.

" Secara perasaan mungkin salah, tapi menyangkut hukum tidak ada perasaan. Dan hasilnya bisa damai," ucap Rendy

Abd. Mukti yang menghadiri sidang dengan menggunakan kursi roda merasa kecewa yang dilakukan anak kandungnya. Dia merasa, usaha yang ia jalankan itu telah banyak membiayai anak-anaknya hingga mandiri. 

Oleh sebab itu, dia hanya ingin kasus ini cepat selesai. “ Anak durhaka. Anak durhaka, anak durhaka. Tidak tahu diri. Saya sudah besarkan, sekolahkan, kasih menikah dan kasih SPBU,” kata Abd. Mukti. (mut)

5 dari 5 halaman

Anak Gugat Orang Tua karena Angpau Rp124 Juta

Dream – Salah satu tradisi yang selalu dinantikan anak kecil saat merayakan hari besar adalah hadiah berupa uang yang diberikan langsung atau dimasukkan dalam amplop. Hadiah itu biasanya diberikan orang tuanya, sanak famili, atau kolega orang tua dengan beragam alasan.

Setelah menerima hadiah atau angpau, biasanya orang tua akan mengambil dari anak-anak agar tidak hilang. Mereka akan menyimpan uang itu dan memberikannya saat sang anak meminta atau menabungkan untuk kebutuhan di masa depan.

Namun tindakan seorang anak yang baru menerima angpao itu tak terduga. Dia menggugat orang tuanya karena dianggap telah mengambil uang angpau selama beberapa tahun. 

Dilansir dari World of Buzz, Kamis 22 Februari 2018, seorang anak di Tiongkok bernama Juan menggugat orang tuanya karena dituduh telah menggelapkan uang angpau senilai 58 ribu yuan (Rp124,62 juta).

Tak disangka, gugatan si anak dimenangkan oleh pengadilan. Hakim meminta orang tuanya untuk membayar 1.500 yuan (R3,22 juta) per bulan kepada anaknya.

Ternyata kasus hampir mirip juga terjadi di tempat lain. Seorang pria menggugat mantan istrinya karena telah menggelapkan uang angpao tiga anaknya sebesar 560 ribu yuan (Rp1,2 miliar).

Pria ini berpendapat uang itu milik anak-anak mereka.

(Sah)

Beri Komentar
Pengalaman Hidup Berharga Chiki Fawzi di Desa Ronting