6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
(Foto: Shutterstock)
Dream - Pandemik Covid-19 yang menyerang Jepang beberapa waktu lalu membuat seorang ibu untuk pertama kalinya membersihkan kamar putrinya yang kosong hampir selama 19 tahun. Bukan karena malas, ibu itu tak kuasa untuk masuk ke kamar bekas mendiang putrinya.
Yuki Tsukamoto, nama ibu tersebut merupakan seorang warga yang tinggal di Takarazuka, Prefektur Hyogo, Jepang. Dia selama ini merasa takut untuk masuk dan membersihkan satu kamar di rumahnya.
Pandemik Covid-19 yang membuat orang harus memastikan seluruh ruangan bebas dari virus, memaksa Yuki memberanikan diri masuk ke kamar putrinya.
Selama bertahun-tahun, wanita 53 tahun ini hanya berdiri setiap kali berada di depan kamar yang terletak di lantai dua tersebut.
Mengutip laman Asahi Simbun seperti dilaporkan Liputan6.com, Yuki tak berani masuk karena kamar itu masih berisi barang-barang milik Kana, putri sulungnya yang meninggal 19 tahun silam.
Kana adalah satu dari 8 korban pembunuhan di Sekolas Dasar Ikeda, Prefektur Osaka.
Pada tahun 2020 ini dimana muncul fenomena pandemi Corona Covid-19, segalanya terasa berbeda bagi Tsukamoto. Perlahan-lahan, dirinya mulai berani melakukan hal yang selama ini tak mampu ia lakukan. Ia membersihkan buku-buku, aksesoris, pakaian, foto, dan mainan yang mulai usang di ruangan itu.
Tsukamoto mengatakan keinginan untuk membersihkan kamar Kana sebetulnya sudah sejak lama muncul. Tetapi ia selalu mengurungkan niatnya karena tak bisa melupakan rasa kehilangan putrinya itu.
Pandemi virus Corona Covid-19 telah membuka pikiran wanita yang bekerja menjadi pengasuh di pusat penitipan anak dengan sebuah pertanyaan, 'Jika saya meninggal karena Covid-19, siapa yang akan mengurus barang-barang Kana?', dikutip dari The Asahi Shimbun.
Selain itu, Tsukamoto tidak ingin barang-barang putrinya itu disentuh orang lain. Untuk mengurangi kesedihannya, Tsukamoto membuang sebagian barang-barang milik Kana. Dia hanya menyisakan piyama yang dipakai Kana di pagi hari sebelum terbunuh. Selain piyama, meja belajar dan kursi milik Kana tetap disimpan oleh Tsukamoto dan sekarang dipakai anak laki-lakinya.
Kenangan tentang Kana membuat Tsukamoto tenggelam dalam kesedihan saat mulai memutuskan untuk membersihkan kamar tersebut.
Pada tanggal 8 Juni 2001, terjadi kasus dimana seorang pria memasuki sekolah dasar dengan pisau. Pria itu menebas dan menikam siapa saja yang ada di hadapannya.
Tujuh anak perempuan kelas dua dan satu anak laki-laki kelas satu terbunuh. Selain itu, 15 siswa dan guru terluka. Kana yang saat itu masih berusia 7 tahun, menjadi salah satu korban dan meninggal dunia. Pelaku pun akhirnya dihukum mati pada 2004.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
