Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di Indonesia dimulai pada April 2019. Prediksi itu berdasarkan pantauan di seluruh wilayah Tanah Air sudah masuk musim hujan pada Februari 2019.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, mengatakan, menjelang peralihan musim, kondisi El-Nino termasuk kategori lemah. Sehingga masyarakat tidak perlu kekhawatiran mengenai anomali cuaca.
" El-Nino kategori lemah ini ditandai oleh kondisi lebih panasnya suhu muka laut di wilayah Pasifik ekuator bagian tengah berada pada kisaran 0,5 - 1 derajat Celcius, di atas normalnya sejak Oktober 2018 diikuti oleh melemahnya Sirkulasi Walker (Angin Pasat Samudera Pasifik Tropis) dari kondisi normalnya," ujar Herizal dikutip dari laman resmi BMKG, Senin 18 Maret 2019.
El-Nino lemah ini diprediksi akan bertahan hingga Juli 2019. Selain itu, El-Nino lemah juga diperkirakan tidak akan berdampak signifikan terhadap Sirkulasi Monsun.

Herizal mengatakan, dampak El-Nino punya waktu berbeda di tiap wilayah Indonesia. Ada yang terjadi pada periode Maret, April hingga Mei. Tidak meratanya dampak El-Nino mengartikan tidak akan mempengaruhi peralihan musim hujan ke kemarau.
Menurut Herizal, musim kemarau berkaitan erat dengan peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi angin Timuran (Monsun Australia).
Untuk wilayah Nusantara yang akan masuk musim kemarau pada April 2019 mendatang yakni sebagian wilayah Nusa Tenggara, Bali, dan Jawa. Sebagian Bali, Jawa, Sumatera, dan sebagian Sulawesi, akan masuk kemarau ada Mei 2019.
Serta sebagian lain Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua akan masuk awal musim kemaraunya di bulan Juni 2019.
BMKG memprediksi, puncak musim kemarau 2019 terjadi antara bulan Agustus hingga September. Untuk itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah untuk mengantisipasi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam