Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Ini berangkat dari ide mulia sekelompok siswa di Sekolah Dasar Kaligi Ranganathan Montford di Perambur, Chennai, India. Akibat ide mulia itu, seorang pengemis bisa mengecap kehidupan yang lebih baik.
R Naagar, 52 tahun, telah bekerja sebagai pengemis selama tiga tahun. Awalnya Naagar adalah penjual sayur di pasar Perambur. Usahanya itu kemudian bangkrut karena ditipu temannya.
Untuk mencari nafkah, dia sempat menjadi penjual lukisan dinding. Namun dia jatuh hingga mengalami patah pinggul. Karena tidak memiliki keluarga lainnya, dia memutuskan menjadi pengemis.
Namun sejak dua bulan lalu, Naagar sudah beralih profesi sebagai penjual cokelat di depan pintu masuk Candi Ayyappan, Perambur setelah mendapat bantuan dari siswa Kaligi Ranganathan Montford.
Semuanya berawal saat 13 siswa Kaligi Ranganathan Montford melihat seorang laki-laki dan seorang anak perempuan mengemis di depan sekolah mereka.
Mereka merasa iba sekaligus risih hingga ingin melakukan sesuatu untuk mengentas para pengemis itu. Selanjutnya, mereka mencari para pengemis di sekitar lingkungan mereka dan menawarkan pekerjaan lebih layak.
Dari hasil penelusuran di sekitar candi dan taman, didapatkan 30 pengemis, salah satunya Naagar.
Para siswa ini kemudian mengumpulkan uang saku mereka dan membantu beberapa pengemis itu membuka toko kecil-kecilan dengan modal masing-masing 2.500 rupee (Rp 489 ribu).
" Kami sedang mencarikan pekerjaan bagi mereka, mulai dari penyapu jalanan hingga personel keamanan," kata M Roshni, salah seorang kelompok siswa itu.
" Kami juga bertemu walikota dengan membawa ide tersebut. Ia bahkan menawarkan pinjaman kepada pengemis yang kami data."
Tidak semua pengemis berhak menerima bantuan tersebut. " Kami melakukan tes darah pada mereka untuk memastikan mereka bukan pecandu alkohol atau perokok," kata kepala sekolah sekolah Anitha Daniel.
Beberapa pengemis mencoba untuk memanfaatkan kami, kata anak-anak lain. " Beberapa dari mereka mengajukan syarat dalam mencari nafkah. Kami berhati-hati dalam memilih. Hanya mereka yang ingin menjalani kehidupan yang layak yang kami pilih," kata AC Hariharan, siswa lain.
Naagar senang bahwa ia tidak lagi mengulurkan tangan untuk meminta-minta. Untuk sementara, dia makan, mandi dan tidur di sekitar candi. Pada sore hari, beberapa pemilik toko di sekitar candi berbaik hati untuk menjualkan cokelatnya pada malam hari.
Para siswa Kaligi Ranganathan Montford bahkan meresmikan misi mereka sebagai hari anti- mengemis pada Sabtu lalu.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya