Arab Saudi Larang Jemaah Haji Pegang Kabah dan Cium Hajar Aswad Selama Pandemik

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Selasa, 7 Juli 2020 15:00
Arab Saudi Larang Jemaah Haji Pegang Kabah dan Cium Hajar Aswad Selama Pandemik
Salah satu protokol khusus yang dikeluarkan yakni larangan menyentuh Kaabah dan Hajar Aswad.

Dream - Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan pembatasan jamaah haji 2020 dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Keputusan tersebut dibuat untuk melindungi para jemaah haji dan warga Saudi dari pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

Pada awal Juni lalu, Menteri Kesehatan Arab Saudi, Dr. Tawfiq Al Rabiah secara resmi mengumukan pembatasan jumlah jemaah haji 2020.

Keputusan itu diambil kerajaan Saudi sebagai salah satu upaya mengurangi kemungkinan tingkat infeksi dan memastikan keselamatan jemaah. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Arab Saudi juga telah menetapkan protokol khusus untuk seluruh lokasi ibadah haji.

1 dari 3 halaman

Salah satu protokol khusus yang dikeluarkan adalah larangan menyentuh Kabah dan Hajar Aswad.

Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Mohammed Saleh Benten, mengatakan keputusan untuk membatasi jumlah jemaah tersebut diambil dengan tujuan melindungi orang di atas segalanya, yang telah menjadi prioritas negara Kerajaan sejak pandemi mulai muncul" .

Mulai 19 Juli, pihak berwenang akan membatasi akses masuk ke Mina, Muzdalifah, dan Arafah bagi yang tidak memiliki izin, demikian seperti dilansir dari Liputan6.com, Selasa 7 Juli 2020.

2 dari 3 halaman

Tindakan Pencegahan dan Aturan Ibadah Haji

Selain itu, petunjuk dan peringatan terkait pencegahan Corona COVID-19 akan ditempatkan di semua area dan ditulis dalam berbagai bahasa.

Penyelenggara diharuskan mengatur jamaah haji untuk mengurangi kepadatan pengunjung di area Tawaf di sekitar Kabah. Penjagaan jarak hingga setidaknya 1,5 meter akan diminta bagi para jamaah.

Adapun aturan lainnya adalah jemaah haji harus mengikuti garis yang telah disediakan pengurus Masjidil Haram saat melakukan ibadah Sai yaitu berlari kecil di antara bukit Safa dan Marwah. 

Petugas dipastikan akan membersihkan area ibadah itu sebelum dan sesudah para jamaah tiba.

Dengan adanya larangan untuk menyentuh Kabah dan Hajar Aswad, penghalang akan dipasang untuk mencegah jamaah mendekati situs suci tersebut.

Karpet-karpet juga tidak akan dipasang dan setiap jamaah dianjutkan membawa sajadah pribadi ketika hendak beribadah untuk mengurangi risiko infeksi. Selain itu, para jamaah juga tidak akan diizinkan untuk makan di masjid.

Pemeriksaan suhu tubuh secara wajib akan diberlakukan bagi para jamaah maupun pemandu di setiap lokasi ibadah haji, termasuk masker dan pelindung wajah yang harus dikenakan setiap saat.

Sedangkan untuk lontar jamrah, jamaah yang tidak lebih dari 50 orang per kelompok yang hendak memasuki lokasi pun harus diatur oleh penyelenggara.

3 dari 3 halaman

Sterilisasi Fasilitas Umum

Protokol kesehatan dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Arab Saudi juga menyarankan bahwa tidak ada personil yang diizinkan untuk bekerja jika mereka mengalami gejala yang diantaranya seperti flu (demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, atau tiba-tiba kehilangan indera penciuman atau rasa) sampai gejala hilang dan berdasarkan oleh dokter.

Putaran desinfektan dan sanitasi harus dijadwalkan dan diorganisir Untuk memastikan kebersihan bagian fisik dari fasilitas tempat ibadah seperti pegangan pintu dan meja, hingga area tempat duduk umum dan area tunggu, desinfetan dan sanitasi harus diberikan secara berkala dan teroganisir.

Selain itu, sanitasi juga harus diberikan pada fasilitas ATM, termasuk mesin penjual otomatis sementara semua majalah cetak dan surat kabar akan dicabut untuk mengurangi risiko penularan.

Tak hanya itu, fasilitas pendingin air juga harus diberhentikan di Masjidil Haram dan di situs-situs suci.

Alih-alih, air Zamzam akan tersedia dan didistribusikan kepada para peziarah, termasuk makanan pra-paket individu.

Tanpa melupakan risiko penularan, pekerja yang mendistribusikan makanan tersebut harus mengikuti protokol ketat yang mencakup mencuci tangan tidak kurang dari 40 detik dengan menggunakan sabun dan air selama shift mereka.

Tetapi ketika mereka tidak dapat mengakses fasilitas cuci tangan, pembersih berbasis alkohol harus digunakan sebagai gantinya selama tidak kurang dari 20 detik.

(Sah, Sumber: Liputan6.com)

Beri Komentar