Daftar Obat Ini Sudah Dapat Izin BPOM untuk Covid-19, Tak Ada Ivermectin

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 7 Juli 2021 17:01
Daftar Obat Ini Sudah Dapat Izin BPOM untuk Covid-19, Tak Ada Ivermectin
Terdapat dua kandungan zat aktif pada daftar obat tersebut yaitu Remdesivir dan Favipiravir.

Dream - Badan Pengawas Obat dan Makanan telah mengeluarkan izin penggunaan darurat (EUA) sejumlah obat untuk penanganan Covid-19. Di antara daftar obat tersebut, terdapat dua jenis zat aktif yaitu Remdesivir dan Favipiravir namun tidak menyertakan Ivermectin.

" Ini adalah obat-obat yang telah mendapatkan persetujuan penggunaan dalam kondisi darurat dari Badan POM sebagai obat Covid-19, ada dua, Remdesivir dan Favipiravir," ujar Kepala BPOM, Penny Lukito.

Penny mengatakan izin diterbitkan BPOM mempertimbangkan prosedur ketetapan uji klinis yang sudah disetujui organisasi profesi. BPOM juga memberikan pendampingan untuk percepatan data masukan distribusi.

Selanjutnya, Penny mengatakan pihaknya telah mengeluarkan informatorium untuk obat Covid-19 di Indonesia. Informatorium tersebut disusun bersama lima organisasi profesi dan tenaga ahli.

" Saya kita di dalamnya juga sudah ada indikasi-indikasi untuk pengobatan pasien Covid-19 anak-anak," kata dia.

 

1 dari 4 halaman

Ini Daftarnya

Berikut informatorium obat Covid-19 yang telah diizinkan BPOM :

- Kategori zat aktif atau bentuk persediaan Remdesivir serbuk injeksi:

1. Remidia
2. Cipremi
3. Desrem
4. Jubi-R
5. Covifor
6. Remdac

Indikasi Remdesivir serbuk injeksi adalah pengobatan bagi pasien dewasa dan anak dalam perawatan di rumah sakit. Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dengan tingkat keparahan pada derajat berat.

- Kategori zat aktif atau bentuk persediaan Remdesivir larutan konsentrat untuk infus:

1. Remeva

Indikasi Remeva ialah pengobatan bagi pasien dewasa dan anak terkonfirmasi Covid-19 dengan derajat keparahan berat

- Kategori zat aktif atau bentuk persediaan Favipiravir tablet salut selaput:

1. Avigan
2. Favipiravir
3. Favikal
4. Avifavir
5. Covigon

Indikasi Favipiravir tablet salut selaput adalah pengobatan untuk pasien Covid-19 dengan derajat keparahan sampai sedang yang dikombinasi dengan standar, dikutip dari Merdeka.com.

2 dari 4 halaman

Dapat Izin BPOM, Moderna Jadi Vaksin Covid-19 mRNA Pertama di Indonesia

Dream - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) untuk vaksin Covid-19 Moderna. Vaksin ini siap digunakan pada vaksinasi nasional untuk usia 18-65 tahun.

" Kami menambahkan lagi satu jenis vaksin Covid-19 yang telah mendapatkan Emergency Use Authorization dari Badan POM dari Indonesia yaitu vaksin Moderna," ujar Kepala BPOM, Penny Lukito, dalam konferensi pers virtual disiarkan kanal YouTube Badan POM RI.

Vaksin Moderna menjadi produk pertama dengan metode mRNA yang digunakan di Indonesa. Dengan tipe yang sedikit berbeda, vaksin Moderna ini membutuhkan perlakuan khusus dibandingkan vaksin yang sudah digunakan lebih dulu seperti Sinovac, AstraZeneca, dan Sinopharm.

Vaksin Sinovac dan AstraZeneca, misalnya, merupakan vaksin yang dibuat dengan metode inactivated virus atau virus yang sudah tidak aktif. Dua vaksin ini dapat disimpan pada suhu 2-8 derajat celcius.

 

 

3 dari 4 halaman

Perlu Teknologi Khusus, Disimpan di Suhu -20 Derajat Celsius

Meski demikian, Penny menjelaskan produsen vaksin Moderna menyertakan teknologi penyimpanan vaksin ketika dikirim ke Indonesia. Menurut Penny, vaksin ini dapat bertahan pada suhu -20 derajat Celcius.

" Karena ini diterima melalui Covax Facility, mereka akan memberikan vaksin ini bersamaan dengan teknologi penyimpanan dan distribusinya, tentunya akan mempengaruhi juga target-target lokasi di mana vaksin ini akan diberikan," kata dia.

Untuk penggunaannya, Penny menerangkan vaksini ini diberikan dengan injeksi atau suntikan intramuscular dengan dosis 0,5 mililiter. Vaksin diberikan dengan dua dosis dalam jeda satu bulan.

 

4 dari 4 halaman

Dapat Disuntikkan Pada Penderita Komorbid Tertentu

Selanjutnya, Penny menjelaskan terdapat efek samping tertentu dari penggunaan vaksin ini. Berdasarkan data uji klinis, efek samping baru muncul usai penyuntikan dosis kedua.

" Kejadian ini umumnya didapatkan setelah mendapatkan penyuntikan kedua dan profil keamanan umumnya pada usia di bawah 65 tahun," terang dia.

Meski begitu, vaksin Moderna dapat diberikan kepada masyarakat yang memiliki komorbid tertentu. Di antaranya sakit paru kronis, jantung, obesitas besar, diabetes, liver, HIV/AIDS.

" Jadi bisa diberikan kepada populasi dengan komorbid berdasarkan hasil uji klinik fase 3," ucap Penny.(Sah)

Beri Komentar