Dari Afrika, Omicron Merangsek Nusantara

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 17 Januari 2022 11:37
Dari Afrika, Omicron Merangsek Nusantara
Lebih menular. Kebal vaksin.

Dream - Kasur itu kosong. Hanya ada selimut berwarna coklat yang berantakan di atasnya. Di belakang kasur, sebuah jam dinding tengah menunjuk pukul sebelas lewat enam belas menit. Tidak jelas, apakah jam itu menunjuk waktu siang atau malam.

Di atas foto kasur dan selimut berantakan itu, Ashanty, 38 tahun, istri penyanyi dan musisi kondang Anang Hermansyah, menulis status di dinding Instagramnya, Jumat 7 Januari 2022.

" Buat teman-teman dan media di luar sana maaf saya harus posting ini supaya beritanya benar. Begitu sampai di Indonesia saya PCR dan hasilnya positif," tulis Ashanty.

“ Saya dua kali PCR di Istanbul ketika mau pulang, di hotel mau pun di bandara negatif. Akhirnya sampai di hotel karantina saya menunggu hasil PCR dari bandara dan ternyata positif," tulisnya.

Ya, Ashanty positif Covid-19. Ia kini dirawat di rumah sakit di kawasan Bintaro Jakarta Selatan karena memiliki penyakit bawaan atau komorbid autoimun. Mungkin, saat menulis status di Instagramnya, dia tengah berada di kamar rumah sakit.

Ia kemungkinan besar terpapar varian Omicron. Hasil S-Gene Target Failure (SGTF) Ashanty menunjukkan dia terindikasi terpapar Omicron. Sebelumnya, dia memang berlibur di Turki selama dua pekan di penghujung tahun 2021. Ia berangkat bersama keluarga besarnya.

Belakangan, menurut Kementrian Kesehatan, tidak hanya Ashanty yang terpapar Omicron. Namun juga enam anggota rombongannya.

Menurut Daily Sabah, pada Jumat 7 Januari 2021, Turki sendiri mencatat 63.214 kasus baru varian Omicron.  Kasus Omicron di Turki meningkat lebih dari dua kali lipat hanya dalam waktu seminggu. Varian Omicron telah menjadi varian dominan di negara tersebut.

Kasus Ashanty menarik. Karena, seperti diketahui, Ashanty pernah terpapar Covid-19 sebelumnya. Ia terpapar Covid-19 pertama kali di Jakarta pada pertengahan bulan Februari 2021. Ia lalu sembuh pada pekan pertama Maret 2021.

Tak hanya itu. Ashanty juga telah mendapat vaksinasi pada bulan April 2021. Ia menggunakan Vaksinasi Nusantara yang digagas mantan Menteri Kesehatan dr Terawan Agus Putranto. Darahnya diambil, lalu disuntikkan kembali ke tubuhnya delapan hari kemudian untuk mengembangkan antibodi anti-Covid. Ia menerima Vaksin Nusantara bersama suaminya Anang.

Kasus Ashanty menunjukkan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO benar, saat merilis varian B.1.1.529 yang pertama kali dilaporkan negara Afrika Selatan ke WHO tanggal 24 November 2021.

Pada 26 November 2021, Kelompok Penasehat Teknis WHO terhadap Evolusi Virus SARS-CoV-2 menyatakan bahwa varian B.1.1.529 adalah sebuah varian baru yang perlu diwaspadai. WHO lalu memberikan nama varian baru itu: Omicron.

Pada saat itu WHO menyebut varian Omicorn lebih menular dari varian sebelumnya. Omicron juga bisa menginfeksi ulang atau reinfeksi pada orang yang pernah terpapar Covid-19. Juga bisa menular pada orang yang telah divaksinasi lengkap. Dalam kasus Ashanty, peringatan WHO itu terbukti benar!

Kasus penyebaran pertama Omicron ke pelosok dunia tercatat terjadi tanggal 11 November 2021. Seseorang diketahui terpapar Omicorn saat tiba di Hong Kong setelah terbang dari Afrika Selatan via Qatar. Dan seorang lagi di tanggal itu terpapar Omicron saat tiba di Belgia setelah terbang dari Afrika Selatan via Turki.

Dan, pada 7 Januari 2022, varian itu sudah tersebar di 135 negara. Termasuk Indonesia.

Yang menarik, meski di Indonesia peningkatan kasus Omicron lebih didominasi kasus impor atau pelaku perjalanan ke luar negeri seperti dalam kasus Ashanty, klaster penularan lokal juga sudah terjadi. Terutama di Jakarta dan Surabaya.

Kasus lokal pertama diumumkan secara daring oleh Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmidzi, Selasa 28 Desember 2021.

“ Yang terbaru adalah kasus laki-laki usia 37 tahun yang tidak ada riwayat perjalanan ke luar negeri dalam beberapa bulan terakhir. Ataupun kontak dengan pelaku perjalanan luar negeri,” kata dr. Nadia.

Pasien kasus transmisi lokal pertama itu bersama istri tinggal di Medan. Ia  ke Jakarta setiap satu bulan sekali. Pada tanggal 6 Desember 2021 mereka tiba di Jakarta. Tanggal 17 Desember 2021 dia sempat mengunjungi Mall Astha District 8 SCBD.

Selanjutnya pada tanggal 19 Desember 2021 mereka melakukan pemeriksaan antigen di Rumah Sakit Grand Family Jakarta untuk kembali ke Medan. Pemeriksaan tersebut menunjukkan hasil positif COVID-19 pada pasien, sementara hasil pemeriksaan antigen istrinya negatif.

Kemudian dilakukan PCR pada tanggal 20 Desember 2021. Setelah dilakukan pemeriksaan di laboratorium ketahuan dia terkonfirmasi terpapar Omicron pada tanggal 26 Desember 2021.

Tak hanya di Jakarta, kasus penularan lokal juga terjadi di Surabaya. " Dua orang warga Surabaya, diketahui habis berlibur ke Bali bersama keluarga besar," kata dr Siti Nadia Tarmizi dalam keterangan resmi, Minggu 2 Januari 2022.

Menurut Siti, pasangan suami istri warga Surabaya berlibur ke Bali menggunakan kendaraan pribadi selama lima hari. Setelah pulang ke Surabaya, seorang di antaranya mengeluhkan batuk berlendir. Orang itu  melakukan PCR dengan hasil positif. Hasil pemeriksaan S-Gene Target Failure (SGTF) menunjukkan orang itu positif varian Omicron.

Sementara itu, hingga Selasa 11 Januari 2021, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat kasus baru Ibu Kota sudah ada 498 kasus infeksi Omicron. Sebanyak 82,1 persen atau 409 orang merupakan pelaku perjalanan luar negeri. Sementara 89 kasus lainnya adalah transmisi lokal.

Dengan demikian, boleh dibilang Omicron yang berasal dari Afrika telah merangsek ke Nusantara. Karena transmisi lokal sudah terjadi, cepat atau lambat kasus infeksi Omicron di Indonesia bakal melonjak tajam.

Paling tidak itulah pelajaran dari pengalaman Amerika Serikat, Inggris, India dan Australia. Di negara-negara itu, varian Omicorn, mulai mendominasi dan memicu peningkatan kasus baru.

Menurut The New York Times, pada Senin 10 Januari 2022, kasus baru di Amerika mencapai 1.417,493, sebuah rekor kasus Omicron tertinggi di dunia, naik 203 persen ketimbang dua minggu lalu. Jumlah kematian rata-rata perhari tercatat 1.653 atau naik 36 persen ketimbang dua minggu lalu.

Padahal angka vaksinasi di Amerika Serikat sudah tinggi. Menurut data, penduduk Amerika Serikat yang sudah menerima dosis pertama  berjumlah 243.653.518 (74,6 persen). Yang sudah menerima vaksinasi lengkap sebanyak 205.413.206 (62,3 persen). Dan yang sudah menerima vaksin booster suntikan ketiga sebanyak 75.875.052 (22 persen). Tapi Omicorn tetap melonjak dan menjadi varian dominan di negara itu.

Kondisi yang sama juga terjadi Inggris. Menurut BBC, sejauh ini sudah 90 persen penduduk di Inggris dari usia 12 tahun ke atas yang sudah menerima vaksinasi pertama. Sebanyak 83 persen sudah menerima vaksin lengkap. Dan 61 persen sudah menerima vaksin booster. Namun pada Senin 10 Januari 2022 Inggris masih mencatat 150.154 kasus baru dan 97 kematian.

Yang menarik adalah India. Setelah jumlah infeksi Covid-19 sempat turun drastis setelah diamuk varian Delta bulan Juni 2021 lalu, India kini mencatat peningkatan kasus baru Omicorn. Menurut Times of India, sampai Senin 10 Januari 2022, India mencatat kasus baru sebanyak 179.723 kasus, naik dari 159.632 kasus sehari sebelumnya atau naik 20 persen.

Padahal 871.088.714 atau 63,1 persen penduduk India sudah menerima vaksin dosis pertama. Sementara 620.902.308 atau 45 persen warga India telah menerima vaksin dosis lengkap.

Negara tetangga yang cukup dekat dengan negara kita, Australia, kini juga tengah kelimpungan gara-gara Omicron. Negara yang selama dua tahun terakhir berhasil menekan rendah angka infeksi Covid-19, kini mengalami lonjakan kasus yang cukup gila-gilaan.

Menurut SBS News, sampai Sabtu 8 Januari 2022, negara bagian Victoria di Australia mencatat 51.356 kasus baru, meningkat dari jumlah sehari sebelumnya yang hanya 21.278 kasus. Di negara bagian South Wales, mencatat 45.098 kasus baru, meningkat dari kasus baru sehari sebelumnya yang hanya 38.625 kasus. Total dalam hari itu Australia mencatat 116.000 kasus baru. Sebuah rekor tertinggi sejak pandemi Covid-19 dua tahun lalu.

Fakta itu ironis mengingat 20.529.932 atau 79,9 persen penduduk Australia telah menerima vaksin dosis pertama. Sebanyak 19,904.821 atau 77,5 persen telah menerima vaksin dosis lengkap. Sedangkan yang menerima vaksin ketiga atau booster sebanyak 3.651.855 atau 14,2 persen. Tapi semua itu belum cukup untuk membendung Omicron.

Tapi yang tak kalah menariknya adalah data terbaru dari Afrika Selatan. Tempat awal terdeteksinya varian Omicron itu, kini mencatatkan penurunan kasus terus-menerus. Setelah kasus baru Omicron beranjak naik mulai tanggal 21 November 2021 dan mencapai puncaknya pada 14 Desember 2021 dengan 24.785 kasus baru, kini pada hari Senin 10 Januari 2022, kasus baru yang tercatat hanya 2.409, turun nyaris separuh dari kasus baru sebanyak 4.482 pada sehari sebelumnya, Data itu menunjukkan kasus baru sudah turun lebih dari 90 persen dari puncak kasus dalam waktu 1,5 bulan. Sebuah kabar yang sedikit menyejukkan.

Yang juga melegakan, menurut CBS News, para dokter yang mempelajari penyebaran Omicron di seluruh dunia telah menemukan petunjuk baru tentang pola gejala Omicron, yang menurut sejumlah laporan ilmiah lebih cepat menular dibandingkan varian Delta.

Bukti awal menunjukkan bahwa pada banyak pasien, Omicron mengarah ke tren baru gejala ringan yang sebagian besar mempengaruhi sistem pernapasan bagian atas: hidung, mulut dan tenggorokan. Itu mungkin membantu menjelaskan mengapa Omicron menimbulkan risiko lebih kecil pada individu untuk dirawat di rumah sakit atau terkena penyakit parah daripada jenis virus sebelumnya yang sering menyerang paru-paru.

" Yang menjadi lebih jelas ... adalah bahwa Omicron tampaknya memiliki dampak yang lebih rendah pada paru-paru daripada varian sebelumnya," kata Dr. Ronald Whelan, Kepala Tim Tugas COVID-19 Discovery Health.

Perusahaan asuransi kesehatan terbesar di Afrika Selatan baru-baru ini juga merilis laporan awal tentang gelombang Omicron di sana. Analisis mereka menemukan bahwa sakit tenggorokan termasuk di antara gejala awal Omicron yang paling umum, serta batuk kering dan nyeri punggung bagian bawah. Masa inkubasi atau waktu dari infeksi hingga gejala muncul hanya tiga hari. Itu beberapa hari lebih cepat dari jenis virus sebelumnya.

Walau gejalanya cukup ringan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan agar tidak menggambarkan varian Omicron sebagai varian ringan. Karena varian Omicron tetap saja bisa membunuh.

Apalagi, kata Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, seperti dikutip BBC, rekor jumlah orang yang tertular telah membuat sistem pelayanan kesehatan kini berada di bawah tekanan berat.

WHO mengatakan jumlah kasus global telah meningkat sebesar 71 persen pada minggu lalu, dan di Amerika sebesar 100 persen. Menurutnya di antara kasus-kasus parah akibat Omicron di seluruh dunia, 90 persen di antaranya karena belum menerima vaksin.

" Meskipun Omicron tampaknya tidak terlalu parah dibandingkan dengan Delta, terutama pada mereka yang telah divaksinasi, itu tidak berarti harus dikategorikan sebagai penyakit ringan," kata Dr Tedros.

" Sama seperti varian sebelumnya, Omicron membuat orang dirawat di rumah sakit dan membunuh orang,” katanya.

" Faktanya, tsunami kasus ini sangat besar dan cepat sehingga membuat kewalahan sistem kesehatan di seluruh dunia," ujarnya.

Omicron sangat menular dan dapat menginfeksi bahkan jika seseorang telah divaksinasi lengkap. Namun, vaksin tetap penting karena membantu melindungi dari penyakit parah yang dapat membuat seseorang dirawat di rumah sakit atau meninggal dunia.

Selain itu menurut El Pais, Omicron adalah virus yang paling cepat menyebar yang diketahui umat manusia. Hampir sebulan setelah terdeteksi di Afrika Selatan, varian baru virus corona ini sudah dominan di negara-negara di seluruh dunia. “ Penyebarannya sangat cepat,” kata Dokter Roby Bhattacharyya, ahli penyakit menular di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Amerika Serikat.

Sejarawan dan Dokter Anton Erkoreka yang meneliti epidemi pada masa lalu, terperangah melihat kecepatan penyebaran Omicron. “ Ini adalah virus paling eksplosif dan penyebaran tercepat dalam sejarah,” katanya.

Dr Erkoreka, Direktur Museum Sejarah Kedokteran Basque, mengenang bahwa Wabah Hitam (abad ke-14) dan kolera abad ke-19 membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyebar ke seluruh dunia.

Apa yang disebut flu Rusia tahun 1889, membutuhkan waktu tiga bulan untuk menyebar ke planet ini. Itu mirip dengan waktu yang dibutuhkan oleh varian asli SARS-CoV-2, yang terdeteksi pada Desember 2019 di Wuhan dan sudah ada di mana-mana pada Maret 2020. “ Varian Omicron telah mengalahkan rekor ekspansi itu,” kata Erkoreka.

Jadi, jangan pernah meremehkan Omicron. Apalagi Omicron sudah menancapkan kukunya di beranda Nusantara. (eha)

Sumber: Daily Sabah, New York Times, BBC, Times of India, SBS News, CBS News, El Pais   

Beri Komentar