Ketimpangan Vaksin Jadi Rahim Lahirnya Omicron

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 17 Januari 2022 11:25
Ketimpangan Vaksin Jadi Rahim Lahirnya Omicron
Baru tiga persen penduduk negara miskin yang sudah divaksinasi.

Dream - Setelah susah payah melewati dua tahun pandemi, warga dunia harus menyambut varian baru Covid-19: varian Omicron.

Varian dari negara Afrika ini disebut lebih menular ketimbang varian awal dan varian Delta. Ini karena negara kaya sibuk melakukan " booster" atau suntikan vaksinasi ketiga atau keempat atas surplus stok vaksin mereka ketimbang menyumbang vaksin ke negara miskin. Akibatnya varian baru yang lebih ganas dan menular bermutasi dan muncul kembali.

WHO benar: " no one safe until everyone is safe."   Tidak ada yang aman sebelum semuanya aman.

Artinya, memberi akses vaksin ke negara miskin jadi kewajiban negara kaya, justru untuk menyelamatkan nyawa diri mereka sendiri. Buktinya, negara-negara kaya macam Amerika Serikat dan Inggris kini kelimpungan dengan naiknya jumlah kasus Omicron di negara masing-masing.

Tulisan mantan Perdana Menteri Inggris 2007-2010, Gordon Brown, yang juga Duta Besar WHO di harian The Guardian edisi 28 November 2021, menyorot tajam ketimpangan vaksin dunia. Dia menyalahkan ketimpangan vaksin sebagai rahim dari lahirnya varian Covid-19 baru yang lebih  menular seperti varian Omicron.

Sebagai kontras vaksinasi di negara miskin dan kaya menurut Gordon Brown: hanya 3 persen penduduk di negara miskin yang sudah divaksinasi lengkap. Bandingkan dengan lebih dari 60 persen warga yang sudah mendapat vaksinasi lengkap di negara kaya.

Di negara Afrika, tempat kelahiran varian Omicron, tingkat vaksinasi di enam negara Afrika masih berada di bawah target 40 persen yang ditetapkan WHO untuk bulan Desember 2021. Di Zimbabwe, hanya 25 persen yang sudah mendapat vaksin pertama dan hanya 19 persen dari populasi yang divaksinasi lengkap.

Di Lesotho dan Eswatini, masing-masing hanya 27 persen dan 22 persen yang telah divaksinasi. Di Namibia angkanya bahkan lebih rendah: 14 persen divaksinasi dosis pertama dan hanya 12 persen yang telah divaksinasi lengkap. Sementara di Afrika Selatan tingkat vaksinasinya juga baru 27 persen.

Yang paling menyakitkan dari kegagalan kebijakan ini bukan karena dunia kekurangan vaksin. Masalahnya  sekarang bukan dalam segi produksi vaksin. Karena ada 2 miliar dosis vaksin yang diproduksi setiap bulan. Tetapi karena  tingkat distribusinya secara global yang tidak adil.

Cengkeraman yang dilakukan oleh negara-negara terkaya G20 sudah sedemikian rupa. Sehingga mereka telah memonopoli 89 persen pasokan vaksin, dan bahkan sekarang, 71 persen pengiriman di masa depan telah dijadwalkan untuk mereka.

Dalam pengarahan pertamanya untuk tahun 2022, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr Tedros Ghebreyesus mengulangi seruannya yang sudah berlangsung lama untuk kesetaraan vaksin. Seruan solidaritas itu bertujuan untuk mengalahkan krisis Covid-19 yang sekarang telah mencapai tahun ketiga.

“ Fajar tahun baru menawarkan kesempatan untuk memperbarui respon  kolektif kita terhadap ancaman bersama,” katanya saat berbicara dari Jenewa.

Ia berharap para pemimpin global menunjukkan tekad untuk mengakhiri ketidakadilan vaksin. Untuk memastikan bahwa seluruh dunia semakin aman dan terlindungi dari varian baru yang lahir akibat ketimpangan vaksinasi secara global.

Tedros menggambarkan ketidakadilan vaksin sebagai " pembunuh manusia dan lapangan pekerjaan" yang juga merusak pemulihan ekonomi global. Tingkat vaksinasi yang rendah juga telah menciptakan kondisi yang sempurna untuk munculnya varian baru virus.

Dia mengatakan " tsunami" kasus Omicron telah membuat kewalahan sistem kesehatan di seluruh dunia sekarang.

WHO sendiri telah menetapkan target untuk memvaksinasi 70 persen populasi dunia pada pertengahan tahun 2022.

Tedros juga mengritik vaksin booster yang dilakukan negara maju. “ Beberapa negara bergerak ke arah memvaksinasi warganya untuk keempat kalinya. Sementara negara yang lain bahkan tidak memiliki cukup pasokan untuk memvaksinasi petugas kesehatan mereka, padahal mereka yang paling berisiko terpapar,” katanya.

Ia mengungkapkan, ketidakadilan vaksin secara global, akan selalu menjadi lahirnya varian baru di masa depan yang boleh jadi bakal kebal terhadap vaksin. Karena ketimpangan vaksin adalah rahim bagi lahirnya varian-varian Covid-19 baru yang lebih ganas dan menular. Entah sampai kapan. (eha)

Sumber: The Guardian, WHO

Beri Komentar