Diduga Depresi Akibat Teror Pinjaman Online, Warga Tulungagung Bunuh Diri

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 25 Juni 2021 13:00
Diduga Depresi Akibat Teror Pinjaman Online, Warga Tulungagung Bunuh Diri
Ditemukan banyak luka benda tajam di tubuh korban.

Dream - Seorang warga Tulungagung, Jawa Timur, Oscar Syarifudin, 36 tahun, meninggal dunia dengan beberapa luka tusuk dan sayatan. Polisi menduga Oscar bunuh diri akibat depresi terkena teror pinjaman online.

Kasubbag Humas Polres Tulungagung, Iptu Trisakti Saiful Hidayat, mengatakan, dari hasil penyelidikan, tidak ditemukan adanya percakapan janggal pada ponsel korban.

" Hanya ditemukan tagihan utang kepada korban dari sejumlah penagih utang dari pinjol (pinjaman online)," ujar Trisakti.

Menurut Trisakti, penyidik mengambil kesimpulan Oscar meninggal karena bunuh diri. Kesimpulan itu didapat setelah penyidik berkoodinasi dengan tim RSUD dr Iskak dalam menggelar autopsi pada jenazah korban.

 

Menurut Trisakti, ditemukan luka sayatan pada tangan dan leher korban. Selain itu, terdapat luka tusukan di perut dan dada.

Pada dada, luka tusuk ditemukan menggerombol di sisi kanan dan kiri dengan lebar rata-rata 1,5-2 centimeter. Sementara luka sayatan ditemukan di pergelangan tangan kanan, kiri, serta leher.

" Cara kematian tidak wajar ini sangat mungkin karena bunuh diri," kata Trisakti.

1 dari 4 halaman

Sempat Minum Cairan Pembersih Lantai

Selain itu, didapat temuan lambung korban mengalami kerusakan akibat terkena cairan pembersih lantai. Diduga, korban sempat meminum cairan tersebut kemudian melukai tubuhnya.

" Kematian korban disebabkan pendarahan dan tusukan yang menyebabkan organ paru-parunya mengempis," kata Trisakti.

Penyidik juga memeriksa rekaman CCTV di rumah korban namun tidak ditemukan aktivitas mencurigakan. Dari keterangan sejumlah saksi, diketahui korban memang bermasalah dengan pinjaman online.

" Korban ini diduga depresi karena terlilit banyak utang dan banyak yang menagih sehingga pada akhirnya korban melakukan bunuh diri," kata dia, dikutip dari Merdeka.com.

2 dari 4 halaman

Polri: Ada 3.000 Lebih Pinjol Ilegal, Modus Teror Sebar Foto Vulgar

Dream - Bareskrim Polri mulai bergerak menindak pelaku jasa pinjaman online ilegal. Para pelaku kerap melakukan teror kepada nasabah dalam menagih pinjaman, bahkan sampai menyebar foto vulgar.

Wakil Direktur Tindak Pidana Khusus Polri, Kombes Whisnu Hermawan Februanto, mengatakan, terdapat sekitar 1.700 jasa pinjol yang resmi dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tetapi, jumlah pinjol ilegal jauh lebih banyak dan sudah meresahkan masyarakat.

" Masih ada 3.000 lebih dan masih ilegal atau tidak terdaftar di OJK. Ini hal-hal yang jadi perhatian Polri untuk mengungkap perkara-perkara yang meresahkan masyarakat," ujar Whisnu.

Menurut Whisnu, ada sejumlah korban mengalami teror berat. Padahal, nilai pinjamannya tidak terlalu besar dan hanya berkisar ratusan ribu rupiah.

" Beberapa korban yang meminjam uang beberapa ribu saja kemudian diteror dengan foto-foto vulgar, info ke teman-teman, keluarga, bahkan ada yang stres akibat pinjaman yang tidak benar ini," kata dia.

3 dari 4 halaman

Tangkap 5 Pelaku Pinjol Ilegal

Baru-baru ini, tambah Whisnu, Polri menangkap beberapa pelaku yang menjalankan bisnis pinjol dengan nama RP Cepat berlokasi di Jakarta Barat. Ada lima tersangka yang ditangkap yaitu EDP, BT, ACJ, SS, dan MRK.

Selain itu, pihaknya mengantongi dua identitas warga negara asing yang terlibat bisnis tersebut. Keduanya berinisial XW dan GK namun masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

" Kami sampaikan kepada masyarakat bahwa aplikasi RP Cepat tidak ada izinnya, secara legalitas perusahaan ini tidak ada izin," kata Whisnu.

Pihaknya telah memastikan status tersebut setelah berkoordinasi dengan OJK. Penyelidikan langsung digelar begitu didapati RP Cepat tidak mengantongi izin.

4 dari 4 halaman

Suku Bunga Gila

Whisnu kemudian menjelaskan kasus ini terkuak berawal dari laporan salah seorang nasabah RP Cepat yang merasa dirugikan. Nasabah tersebut mengaku meminjam uang di RP Cepat sebesar Rp1,7 juta.

Pengajuan pinjaman tersebut hanya disetujui sebesar Rp500 ribu. Tetapi, uang yang diterima nasabah hanya sebesar Rp295 ribu.

Sementara, jasa pinjol tersebut memberikan batas waktu pengembalian antara 91-100 hari. Baru 10 hari meminjam, nasabah sudah ditagih dengan bunga mencapai 41 persen.

" Pinjol ini sangat meresahkan masyarakat meski korban kerugiannya kecil, namun jumlahnya sangat banyak," kata Wishnu.

Dia mengatakan saat ini baru RP Cepat yang terungkap. Masih banyak masyarakat yang melapor lantaran dirugikan pinjol.

" Sampai hari ini anggota kami masih proses penyelidikan di berbagai daerah, bahkan Kabareskrim mengirim telegram ke seluruh jajaran Polri untuk mengungkap perkara pinjol ilegal," kata dia, dikutip dari Liputan6.com.

Beri Komentar