Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Duka akibat Covid-19 melanda semua kalangan, tidak terkecuali dunia medis. Ikatan Dokter Indonesia kehilangan 100 dokter anggotanya. Jumlah tersebut dihimpun per 30 Agustus 2020.
Ketua Umum Pengurus Besar IDI, Daeng M Faqih, berharap dan mendorong rumah sakit lebih rutin melakukan pemeriksaan PCR kepada tenaga kesehatan.
" Memang sudah ada beberapa rumah sakit yang melakukannya. Contohnya yang saya tahu persis itu RS Wisma Atlet Kemayoran Jakarta," ujar Daeng, dikutip dari Liputan6.com.
Sayangnya, kata Daeng, masih banyak rumah sakit yang belum menerapkan hal itu. Dia pun mendorong semua pihak memberikan perhatian atas persoalan ini.
" Kalau pemeriksaan rutin dilakukan, maka ada satu tenaga kesehatan yang positif Covid-19 itu langsung bisa dilokalisir (isolasi/karantina)," kata Daeng.
Menurut Daeng, pada akhirnya pemeriksaan rutin PCR pada tenaga medis dapat mengurangi risiko tenaga kesehatan terpapar Covid-19. Sekaligus mengurangi kasus kematian tenaga kesehatan.
Selain itu, pemeriksaan PCR rutin di rumah sakit juga diarahkan kepada seluruh tenaga kesehatan. Tidak hanya yang bertugas langsung menangani Covid-19 di ruang isolasi ataupun perawatan.
" Memang prioritasnya untuk yang menangani langsung pasien Covid-19. Tapi tidak menutup kemungkinan ada pasien yang datang ke rumah sakit mungkin dia sudah terinfeksi karena dia termasuk Orang Tanpa Gejala (OTG, masuk dalam kasus suspek)," kata dia.
Awalnya, pasien memang tidak meminta perawatan Covid-19. Ternyata, pasien tersebut adalah OTG dan berpotensi menularkan Covid-19 kepada petugas medis.
" Oleh karena itu, petugas kesehatan harus rutin diperiksa," kata dia.
Lebih lanjut, Daeng juga menekankan adanya perencanaan matang untuk PCR kepada tenaga medis. Sehingga ketika ada tenaga medis yang tertular, rumah sakit bisa segera mengambil keputusan.
" Perlu ada perencanaan pemeriksaan rutin PCR terhadap seluruh petugas kesehatan. Kalau enggak, akan berisiko tertular Covid-19, terlebih lagi karena tidak diketahui dan tidak diperiksa. Hal ini bisa menularkan kepada seluruh orang yang ada di rumah sakit," kata dia.
Jika sampai hal itu terjadi, Daeng mengingatkan, hal itu akan berisiko pada kematian tenaga kesehatan. Ujungnya akan mengarah ke klaster rumah sakit.
" Rumah sakit bisa ditutup. Artinya, rumah sakit nanti enggak bisa menangani pasien lagi," kata dia.
Sumber: Liputan6.com/Fitri Haryanti Harsono
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya