Fakta Mengejutkan Film Kartun Boboiboy

Reporter : Sandy Mahaputra
Minggu, 13 Maret 2016 17:02
Fakta Mengejutkan Film Kartun Boboiboy
Anak-anak di Indonesia pasti telah mengenal Boboiboy. Ternyata...

Dream - Anak-anak di Indonesia pasti telah mengenal Boboiboy, serial animasi yang diimpor dari Negeri Jiran Malaysia.

Kini Boboiboy yang telah diangkat ke layar lebar menuai sukses besar dengan memperoleh pendapatan 3,5 juta ringgit (setara Rp 11 miliar). Angka ini diraih hanya dalam tempo lima hari tayang di bioskop-bioskop Malaysia.

Menurut direkturnya yang juga CEO Animonsta Studios, Nizam Razak, film ini memakan waktu lebih dua tahun dalam persiapannya dan melibatkan hampir 70 tenaga kerja kreatif.

Menurut Nizam, normalnya pembuatan film animasi membutuhkan waktu yang lama untuk siap tayang. Di luar negeri saja bisa memakan waktu hampir lima tahun.

" Menghasilkan film animasi tidak semudah yang dikira karena prosesnya sangat kompleks. Setiap tampilan yang dilihat pada layar digambar. Yan paling penting tidak boleh menggunakan visual yang sudah ada," katanya.

Nizam menambahkan film Boboiboy The Movie sepenuhnya selesai pada pertengahan Februari lalu sebelum mulai ditayangkan pada 3 Maret. (Ism) 

1 dari 3 halaman

Membongkar Rahasia `Upin & Ipin`

Dream - Upin dan Ipin. Film animasi asal Malaysia ini begitu kondang di Indonesia. Tayangan serialnya rutin diputar oleh salah satu stasiun televisi di Tanah Air. Lantas bagaimana sebenarnya dapur produksi film kartun Upin dan Ipin ini?

Film ini diproduksi oleh Les’ Copaque Production Sdn Bhd yang berlokasi di Shah Alam, Malaysia. Para animator, termasuk Marsha Chikita Fawzi dari Indonesia, mempersiapkan film itu berjam-jam sampai matang.

Meski demikian, suasana rumah produksi itu tetap didominasi kelucuan-kelucuan. " Saya selalu ingin lingkungan kerja jadi menyenangkan," kata pendiri Les’ Copaque Production, Burhanuddin Md Radzi, sebagaimana dikutip Dream dari The Star, Minggu 28 Desember 2014.

" Saya mungkin bukan orang berbakat di perusahaan, tapi saya mencoba menciptakan lingkungan kerja yang bebas stres bagi semua orang di sini," tambah dia.

Menurut Burhanuddin, industri animasi berbeda dengan televisi maupun industri film. " Les’ Copaque merupakan perusahaan teknologi bercerita," kata Burhanuddin.

Dari suasana seperti itulah kisah Upin dan Ipin dibangun. Kini film animasi ini menjadi ikon produksi film di negeri jiran itu. Menurut Burhanuddin, film itu telah dinikmati oleh 300 juta orang.

Berkibarnya serial Upin dan Ipin ini sungguh luar biasa. Mengingat, film ini diproduksi oleh sebuah perusahaan animasi independen yang tergolong kecil, yang didirikan pada bulan Desember 2005 silam.

Selama sembilan tahun berjalan, Les’ Copaque telah banyak menginspirasi industri animasi lokal. " Saya memilih nama Les’ Copaque sebab saya ingin nama internasional dan ini terdengar seperti bahasa Prancis dari frase Malaysia ‘Last Kopek’ (kartu terakhir),” tutur Burhanuddin.

" Namanya cocok dengan tujuan kami, karena ini menanamkan frase unik Malaysia dengan bakat internasional di mana animator muda Malaysia, bisa membawa imajinasi dan aktivitas mereka dalam kehidupan," tambah dia.

Mulanya, Burhanudin memasuki bisnis ini hanya untuk melakukan sesuatu berbeda dan hanya untuk bersenang-senang. Kebetulan dia diperkenalkan dengan para lulusan animator yang bercita-cita membuat film animasi seperti Walt Disney.

Burhanuddin kemudian memilih membuat film animasi, Geng: The Adventure Begins. Dia bersedia membiayainya, sementara sang istri, Ainon Ariff, memegang bagian konten kreatif.

Burhanuddin mendapat berbagai masukan. Dia disarankan membuat cerita dengan seting kampung tradisional Malaysia. Itu termasuk juga makanan, cerita-cerita rakyat, kerajinan, dan lain sebagainya yang berbau budaya Malaysia. Semua karakter orisinil, tak ada duplikat dari perusahaan besar luar negeri.

Film itu diselesaikan dalam tiga tahun. Menghabiskan dana 4 juta ringgit Malaysia (sekitar Rp 14 miliar) dan 1 juta ringgit Malaysia (sekitar Rp 3,5 miliar) dari Kementerian Inovasi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi. Film itu dirilis pada 2009.

Sebagai bagian dari pemasaran, Les’ Copaque memulainya dengan membuat cerita pendek dengan dua karakter utama, Upin dan Ipin. “ Saya ingin membuktikan sejumlah poin dengan Upin & Ipin, untuk mengukur reaksi masyarakat Malaysia terhadap seri animasi yang dibuat perusahaan lokal. Ke dua, ini menjadi uji coba untuk melihat penerimaan masyarakat internasional terhadap film animasi Malaysia.”

Dan film ini menuai sukses besar. Meski pada awalnya para animator Le Copaque ini harus bekerja di ruangan sempit dan dengan anggaran minimal. Les’ Copaque memotong biaya dengan memastikan ada karakter yang lebih sedikit.

Pada tujuh pekan perdana saat dirilis tahun 2009 silam, film ini telah meraup untuk 6 juta ringgit Malaysia (sekitar Rp 21,3 miliar). Geng: The Adventure Begins kemudian mendapat penghargaan ‘Film Animasi Terbaik’ pada Kuala Lumpur International Film Festival dan penghargaan bergengsi lainnya.

Dalam beberapa tahun, Upin dan Ipin meraih sukses internasional. Pada 2011, perusahaan ini memproduksi film lain dengan judul Pada Zaman Dulu, sebuah film soal binatang yang bersumber pada folklore yang ceritanya berbeda dari Upin & Ipin.

Ini menjadi yang serial Malaysia pertama yang mengandalkan fitur teknik animasi komputer. Film ini berkisah tentang petualangan anak-anak kota, Ara dan Aris, yang mengeksplorasi kehidupan di sebuah desa dengan cerita Sang Kancil dari cerita rakyat Melayu. Serial ini kemudian ditayangkan di TV Al-HijrahAstro Ceria, dan MNC TV.

Tahun lalu, Les 'Copaque mulai mengembangkan seri, Puteri, yang menyoroti petualangan prajurit perempuan KasturiManisNipisPurut dan Bali. Puteri akan keluar tahun depan. Sementara film ke dua Upin & Ipin The Movie dijadwalkan rilis pada tahun 2016. (Ism)

2 dari 3 halaman

Kenapa Upin dan Ipin Berkepala Botak? Ini Jawabnya

Dream - Karakter Upin dan Ipin dalam film animasi asal Malaysia menjadi populer di Indonesia. Dua bocah ini terkenal dengan tingkah kocak serta ungkapan khasnya: betul... betul... betul...

Karakter bocah kembar ini sangat mudah dikenali karena berkepala botak. Upin hanya memiliki sedikit rambut di tengah kepala. Sementara Ipin tak punya sama sekali.

Pemilihan karakter Upin dan Ipin ini ternyata tidak kebetulan. Kedua karakter ini dipilih karena alasan teknis. Termasuk membuat kepala Upin dan Ipin botak.

" Upin & Ipin dipilih karena alasan teknis," kata pendiri Les’ Copaque Production, rumah produksi pembuat " Upin & Ipin" , Burhanuddin Md Radzi, sebagaimana dikutip Dream dari The Star..

" Karena kembar dan tidak punya rambut, ini mempermudah aspek animasi. Membuat rambut merupakan proses animasi yang melelahkan," tambah dia.

Tidak mengherankan, Upin & Ipin merupakan karakter yang paling menarik bagi anak-anak. Karakter, bocah kembar berusia lima tahun yang telah kehilangan orangtua mereka, tinggal di kampung dengan kakak mereka, Ros, dan nenek dari pihak ibu, Opah, di sebuah rumah kayu.

Cerita-cerita di sekitar Upin dan Ipin ini merupakan petualangan lucu mereka di Kampung Durian Runtuh.

Film pertama, Geng: The Adventure Begins diluncurkan pada 2009 silam dan menuai sukses di Malaysia serta sejumlah negara. Sementara, Les’ Copaque, perusahaan yang membuat Upin & Ipin, akan meluncurkan Upin & Ipin The Movie pada 2016 mendatang. (Ism)

3 dari 3 halaman

Biaya 1 Menit `Adit & Sopo Jarwo` Setara 40 Episode Sinetron

Dream - Animasi Adit Sopo Jarwo sepertinya sedang digandrungi anak-anak Indonesia. Film animasi yang dirilis pada 27 Januari 2014 bercerita tentang persahabatan antara Adit, Dennis, Mitha, dan Devi serta si mungil Adelya.

Adit berperan sebagai penggerak, motivator, juga inspirator bagi para sahabatnya untuk melewati hari–hari dalam menggapai mimpi di masa mendatang. Ada juga Sopo dan Jarwo yang selalu berbeda cara pandang dengan karakter lainnya.

Mereka selalu mencari celah untuk mendapat keuntungan tanpa usaha. Animasi ini dikemas begitu kental dengan suasana Indonesia. MD Animation sebagai perusahaan yang memproduksi film animasi tersebut mengatakan untuk biaya produksi terbilang tidak murah.

" Biaya untuk satu menit produksi Adit Sopo Jarwo itu setara dengan membuat 40 episode sinetron," kata CEO MD Animation, Manoj Punjabi, Rabu 23 September 2015.

Meskipun menghabiskan biaya yang tidak sedikit, MD Animation akan terus mempertahankan serial ini. " Saya percaya ini konsep masa depan. Konsep saya nanti akan terbentuk enterpreneur muda di serial film animasi," harap Manoj. (Ism) 

Beri Komentar