Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Foto burung pelatuk berjambul merah sedang bertangger di pohon menjadi viral di Twitter. Foto tersebut sekilas terlihat biasa saja, burung pelatuk menyembunyikan suplai buah geluk.
Warganet tidak mengomentari burung atau biji-bijian dalam foto. Tetapi, lebih terfokus pada lubang di pohon itu.
Lubang dengan pola yang tidak teratur itu mengganggu karena kondisi yang disebut trypophobia.
Trypophobia ditandai dengan keengganan melihat pada pola-pola lubang atau benjolan yang tidak beraturan. Istilah ini diciptakan seseorang di forum daring pada 2005.
Meski demikian para ilmuwan mengatakan, kondisi tersebut kemungkinan sudah ada sejak lama.
" Kami tahu bahwa kondisi ini sudah ada sebelumnya di internet - meskipun internet mungkin telah memperburuknya," kata Arnold Wilkins, seorang psikolog di University of Essex, mengatakan kepada Live Science, Selasa, 11 Juni 2019.
This Acorn Woodpecker admiring his stash in a granary tree pic.twitter.com/ppHgSVoyfK
— 41 Strange (@41Strange)June 6, 2019
Fobia ini tergolong bukan gangguan resmi. Artinya tidak terdaftar dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental.
Wilkins mengatakan, sebanyak 10 persen orang melaporkan mengalami gejala, yang meliputi kecemasan, mual, dan sensasi " merinding" , setelah melihat gambar tertentu.
Lantas, mengapa fobia ini sangat umum? Para ilmuwan masih berusaha menjawab pertanyaan ini, tetapi banyak yang percaya keengganan itu bersifat adaptif evolusioner.
" Anda menghindari hal-hal yang cenderung membahayakan Anda," kata Wilkins.
Dalam dokumentasi ilmiah trypophobia yang pertama kali diterbitkan dalam Psychological Science, Wilkins membandingkan gambar-gambar yang memicu trypophobia dengan gambar-gambar binatang beracun, seperti gurita cincin biru.
Dia dan rekan penulisnya menemukan bintik-bintik, benjolan atau lubang yang sama, serta tingkat kontras yang serupa dalam gambar. Para peneliti menyimpulkan bahwa fobia dapat berasal dari keengganan adaptif evolusioner terhadap makhluk beracun.
Sementara itu, dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2018 di jurnal Cognition and Emotion, para ilmuwan berpendapat bahwa fobia berkembang sebagai respons terhadap penyakit.
Kondisi ini disebabkan karena kelompok lubang terlihat seperti lesi, benjolan dan pustula yang disebabkan penyakit infeksi seperti cacar. Penyakit itu sendiri membunuh hingga 10 persen dari populasi dalam milenium terakhir.
Jadi, menurut para psikolog, respons yang muncul yaitu, jijik atau disebut sebagai " emosi penghindaran penyakit" .
Wilkins tidak yakin tentang model penghindaran penyakit - dia pikir itu kemungkinan merupakan bagian dari teka-teki atas reaksi manusia. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam