Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Penanganan Kebakaran Hutan Dan Lahan (karhutla) Di Riau. (Liputan6.com/M Syukur)
Dream - Kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutala) menjadi salah satu topik debat capres beberapa waktu lalu. Tak hanya d ranah politik, kasus ini rupanya sudah menjadi bahan penelitin.
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Profesor Bambang Hero Saharjo, mengatakan, kasus karhutla sudah masuk dalam ranah penelitian ilmiah yang dimuat dalam jurnal internasional berjudul Field measurements of trace gases and aerosols emitted by peat fires in Central Kalimantan, Indonesia, during the 2015 El Nino.
Penelitan yang dilaporkan dalam jurnal ini dipublikasikan pada 2016. Dari riset itu diketahui bahwa gas yang muncul akibat kebakaran hutan punya dampak berbahaya.
" Lebih dari 90 jenis gas yang terlepas ke udara selama kebakaran gambut berlangsung, 50 persennya beracun," ujar Bambang dalam keterangan tertulis yang diterima Dream, Senin 25 Februari 2019.
Bambang menjelaskan, gas yang berasal dari kebakaran lahan gambut dapat menyebabkan asma, pneumonia, gangguan penglihatan, penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan juga mengakibatkan kematian.
Menurut dia, gas yang keluar dari kebakaran gambut sama berbahanya dengan kandungan senyawa hidrogen sianida. " Efeknya memang tidak langsung membunuh, tapi layaknya bom waktu, mengintai dan siap meledak," ucap Bambang.
Selain hidrogen sianida, masyarakat juga dapat terdampak penyakit dari senyawa lain. Misalnya, furan yang dapat mengakibatkan cacatnya janin atau janin meninggal.
Saat ini, kata dia, ada upaya pasti dari pemerintah untuk mengurangi atau menghilangkan karhutla dengan membentuk Badan Restorasi Gambut melalui Perpres Nomor 1 Tahun 2016.
" Saya memandang upaya Pemerintah untuk merestorasi gambut patut diapresiasi. Berkurangnya titik panas dan kebakaran di lahan gambut hingga lebih 80% dariangka yang samapadatahun 2015 memberibukti," kata Bambang.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya