Guru Rudapaksa Santriwati di Bandung Dituntut Mati

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 11 Januari 2022 16:00
Guru Rudapaksa Santriwati di Bandung Dituntut Mati
Sebagai hukuman tambahan, terdakwa dituntut kebiri kimia dan denda Rp500 juta.

Dream - Terdakwa kasus rudapaksa santriwati di Bandung, Jawa Barat, HW, mendapat tuntutan maksimal dari Jaksa. Bahkan, tuntutan yang diajukan Jaksa ke Majelis Hakim berlapis.

" Menuntut terdakwa dengan hukuman mati," ujar Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Asep N Mulyana, usai persidangan tertutup yang digelar Selasa, 11 Januari 2022.

Selain hukuman mati, tuntutan lain yang diajukan yaitu kebiri. Terdakwa juga dituntut membayar denda Rp500 juta.

" Hukuman tambahan berupa kebiri kimia, membayar denda senilai Rp500 juta subsider 1 tahun kurungan," kata Asep.

Tak hanya itu, jaksa juga mengajukan tuntutan agar hakim memerintahkan pembekuan lembaga pendidikan yang dikelola terdakwa. Selain itu, memohon majelis hakim untuk membolehkan penyebaran identitas terdakwa ke hadapan publik.

" Identitas terdakwa disebarkan," kata Asep.

 

1 dari 5 halaman

Dasar Tuntutan

Selanjutnya, Asep menjelaskan tuntutan ini dibuat dengan tujuan untuk menimbulkan efek jera. Juga untuk membuktikan komitmen kejaksaan dalam penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Sementara, tuntutan ini sudah sesuai dengan Pasal 81 ayat (1), ayat (3) Dan (5) juncto Pasal 76D UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP, seperti dalam dakwaan pertama.

Asep juga menyatakan sejumlah hal yang memberikan terdakwa. Seperti terdakwa memakai simbol agama melalui lembaga pendidikan untuk melancarkan perbuatan kejinya. Hal itu membawa dampak psikologis luar biasa pada korban.

Dalam pembacaan tuntutan, terdakwa HW dihadirkan di persidangan. Sehingga terdakwa mendengarkan sendiri tuntutan yang disampaikan jaksa, dikutip dari Merdeka.com.

2 dari 5 halaman

Guru Rudapaksa Santriwati di Bandung Akui Seluruh Dakwaan

Dream - Terdakwa kasus rudapaksa 12 santriwati di Kota Bandung, Jawa Barat, HW, mengakui perbuatan kejinya. Dia membenarkan seluruh dakwaan yang disusun jaksa.

" Terdakwa HW mengakui seluruh perbuatannya, dia mengakui perbuatannya dan seluruh apa yang didakwakan itu dibenarkan oleh terdakwa HW," ujar Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Dodi Gazali.

Pengakuan tersebut disampaikan dalam persidangan tertutup pada Selasa, 4 Desember 2021. Terdakwa menjalani persidangan secara virtual dari Rumah Tahanan Kebonwaru karena sejumlah pertimbangan dari jaksa dan pengadilan.

" Tidak jadi (hadir di ruang sidang) karena masalah kesehatan dan keamanan," kata Dodi.

 

3 dari 5 halaman

Keterangan Saksi Tak Dibantah

Dodi melanjutkan seluruh materi dakwaan diakui yang bersangkutan. Termasuk fakta yang terungkap dari sejumlah saksi yang dihadirkan dalam persidangan.

" Dakwaan kita tanyakan semua, fakta persidangan melalui saksi-saksi kita tanyakan semua, dan dia membenarkan semuanya, dari cara dia melakukan (rudapaksa), bagaimana dia melanggengkan tindak pidananya," kata Dodi.

Hanya saja, HW sempat berbelit-belit ketika menjawab pertanyaan soal motif kejahatan yang ditanyakan jaksa. meski pada akhirnya tetap mengakui perbuatannya.

" Ketika ditanyakan motifnya itu jawabannya yang masih berbelit-belit, tapi ujung-ujugnya dia minta maaf dan khilaf, itu yang disampaikan oleh HW," kata Dodi, dikutip dari Merdeka.com.

4 dari 5 halaman

Kejinya Guru Rudapaksa Santriwati, Istri Dicuci Otak Sampai Tak Bisa Melapor

Dream - HW, guru perudapaksa santriwati di Kota Bandung ternyata benar-benar keji. Ternyata sang istri juga mengetahui perbuatan keji HW, bahkan menyaksikan secara langsung.

Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Asep N Mulyana, menyebutkan fakta ini terungkap pada persidangan yang berlangsung tertutup Kamis kemarin. Muncul dugaan para korban dan istri HW sendiri telah dicuci otak.

" Jadi kalau teman-teman bertanya kenapa ini baru terungkap sekarang, kenapa istrinya tidak mau melapor, itu seperti itu (cuci otak). Di dalam istilah psikolog ada dampak dirusak fungsi otak," ujar Asep.

Menurut Asep, HW membuat kondisi kejiwaan istrinya tidak berdaya dengan cara-cara licik. Sehingga, istri pelaku tidak bisa membedakan antara benar dan salah.

" Boro-boro melapor, istrinya pun tidak berdaya," kata Asep.

Apalagi saat mendapati HW sedang melakukan tindak pelecehan seksual kepada santriwati, wanita tersebut hanya diam. Bahkan sampai meminta maaf sudah melihat suaminya melakukan kekejian tersebut.

" Bahkan, mohon maaf, ketika istri pelaku mendapati suaminya kemudian pada saat malam, tidur malam, naik ke atas dan mendapati pelaku melakukan perbuatan tidak senonoh pada koorban, dia tidak bisa apa-apa," kata dia.

5 dari 5 halaman

Tega Rudapaksa Sepupu Istri

Parahnya, kata Asep, pelaku juga melancarkan aksinya kepada salah satu santriwati yang merupakan sepupu istrinya sendiri. Malah, aksi itu dilakukan di saat sang istri sedang hamil besar sehingga mengalami guncangan kejiwaan.

" Dia melakukan itu pada saat istri si pelaku itu dalam kondisi hamil besar, jadi ada dampak psikologis terhadap istrinya itu secara luar biasa," ucap dia.

Yang lebih memprihatinkan, HW tega menyuruh istrinya ikut merawat bayi hasil hubungan gelapnya dengan para korban. Wanita itu juga hanya menurut saja.

" Karena kondisi otaknya yang dibekukan tadi, sehingga dia (istri HW) pun nurut, termasuk disuruh pelaku mengurus anak-anak yang sebetulnya dilahirkan dari perbuatan pelaku," kata Asep, dikutip dari Merdeka.com.

Beri Komentar