Polwan (1): Hijab Para Polwan Kita

Reporter : Syahid Latif
Senin, 6 April 2015 19:47
Polwan (1): Hijab Para Polwan Kita
Banyak Polwan berhijab yang berprestasi. Bahkan di negeri yang jauh dari bayangan kita, Swedia.

Dream - Hari memang masih pagi. Namun wanita itu cepat bergegas. Sejumlah dokumen terkepit dalam pelukan. Melangkah tegas, dia meluncur ke sebuah ruangan. Ketika banyak orang di ibukota berlelah membelah kemacetan jalan, wanita ini sudah siap bekerja. Sepagi itu.

Dia seorang polisi dan namanya Widi. Jalan hidupnya di kepolisian sudah berbilang tahun. Sudah perwira. Pangkatnya Ajun Komisari Besar Polisi. Orang ramai akrab dengan singkatannya AKBP. Seperti pagi yang sudah-sudah, hari itu dia sungguh  sibuk. Serial rapat sudah menunggu.

Jika ada yang berubah dari Nina beberapa hari belakangan, itu adalah penampilannya. Seragam memang tetap cokelat. Khas kepolisian. Dua kuntum melati bertahta dipundak. Tapi kerudung sudah menutup seluruh rambut. Sesuatu yang selama ini terlihat langka di kepolisian.

Kesibukan yang menumpuk pagi itu membuat Widi tak bisa lama meladeni reporter Dream.co.id. Apalagi peraturan soal hijab ini memang masih tergolong baru. Widi juga belum berani berkomentar banyak kepada media massa. Misalnya, bagaimana rasanya setelah memakai hijab.

Yang sudah pasti, kebijakan yang memperbolehkan Polwan berhijab itu tidak hanya melegakan bagi Widi, bagi para polwan Muslim di seluruh negeri, tapi juga bagi banyak tokoh agama. Para polisi kita bisa bertugas sembari tetap menjalankan kewajiban beragama. Sungguh melegakan.

Sebagaimana luas dikabarkan, ijin pemakaian hijab itu resmi berlaku, setelah Pelaksana Tugas Kepala Polri, Komisari Jenderal Badrodin Haiti, menerbitkan surat keputusan. Surat bernomor 245/III/2015 itu terbit tanggal 25 Maret 2015, setelah melewati diskusi yang panjang.

Keputusan itu sesungguhnya merupakan perubahan atas sebagian surat keputusan yang diterbitkan 30 September 2006, tentang pengunaan pakaian dinas seragam Polri dan PNS di lingkungan kepolisian.   

Meski baru belakangan ini ramai diberitakan media massa, sejatinya soal hijab bagi para Polwan ini sudah lama jadi dibahas di kepolisian. Meski sedikit menimbulkan pro dan kontra, gagasan ini didukung penuh warga masyarakat. Mereka memang polisi, tapi mereka juga muslimah.

Itu sebabnya, ketika menjabat sebagai Kapolri, Jenderal Sutarman pernah melontarkan usul soal hijab ini. Hanya saja peraturan tidak bisa diterbitkan serta merta, oleh karena harus dibahas rinciannya. Dan ketika 25 Maret lalu itu, ijin itu diterbitkan, banyak orang menyambut gembira.

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, menegaskan bahwa kebijakan itu patut diapresiasi dengan baik. " Ini adalah penantian panjang. Polwan Muslim bisa menggunakan kerudung dalam menjalankan tugas," ujar Lukman saat ditemui Dream.co.id di ruangan kerjanya di Jakarta Pusat, Senin, 30 Maret 2015 lalu.

Lukman menambahkan kebijakan ini hanya bersifat membolehkan dan tidak mewajibkan. Dia melanjutkan bahwa, “ Sekarang Polwan tidak lagi bermasalah bertugas menggunakan hijab. Tidak menyalahi aturan berseragam kepolisian.” Modifikasi hijab itu, tambahnya, diserahkan kepada kepolisian.

Sejumlah tokoh agama dan partai politik, juga menyambut gembira ijin berhijab itu. Umumnya memberi apresiasi yang tinggi kepada kepolisian.
Selain sejumlah tokoh itu, ijin itu sendiri disambut gembira para polisi wanita. Sejumlah Polwan  mengaku lega dengan terbitnya peraturan itu. Kini mereka tak lagi sungkan.

***

Memakai hijab memang tidak akan menganggu tugas sebagai polisi di manapun. Mereka bahkan bisa lebih bekerja keras. Lihat saja Nina Oktoviana. Pangkatnya Bripda, berhijab, dengan prestasi yang sungguh  menganggumkan.

Nina memang bertugas di Aceh, daerah yang sudah lama membolehkan para polisi wanita berjilbab. Dia bertugas sebagai  anggota pasukan Perlawanan Teror (Wanteror) Brimob Aceh. Semua Polwan di daerah itu memang wajib berjilbab. Tapi Nina memakai hijab bukan karena peraturan yang diterbitkan pemerintah, tapi karena kesadaran yang terbit dari relung jiwanya.

Hijab itu juga tidak menghalangi tugasnya. " Dalam Wanteror, laki perempuan tidak ada beda. Yang penting kerjasama tim," kata gadis kelahiran Samahani, Aceh Besar 24 Oktober 1993 ini. Pada satuan elit itu, Bripda Nina dituntut memiliki kemampuan khusus seperti anti teror, penjinakan bom, intelijen, anti anarkis dan penanganan bahan kimia, biologi dan radioaktif.

Dan pada setiap tugas yang menantang risiko, Nina tak pernah melepaskan hijab. Bagi alumni SMPN Jeureula Sibreh ini, hijab bukanlah penghalang dalam bertempur atau latihan fisik. Malah ia merasa risih jika terbuka aurat. " Saya dari kecil sudah pakai hijab. Nyaman saja dan tidak terganggu," katanya.

Pertauran yang membolehkan Polwan berhijab, kata Nina, haruslah disyukuri. " Alhamdulillah sangat bersyukur. Polwan muslimah yang ingin memakai  hijab sudah bisa menggunakannya," begitu komentar Bripda Nina kepada Merdeka.com.

Pada sejumlah negara, bahkan di negara yang bukan mayoritas Muslim, polisi wanita juga boleh berhijab. Lihatlah Donna Eljamal. Wanita berusia 26 tahun itu menjadi polisi di Swedia. Memang sempat ada larangan Polwan berhijab, tapi beberapa tahun lalu pemerintah mencabut larangan itu.

Donna Eljamal menyambut gembira pencabutan larangan ini. Dengan kebijakan baru tersebut, ia yang notabene seorang Muslimah bisa berkarir sebagai petugas keamanan di negara barat, yang mayoritas warganya bukan Muslim seperti Swedia.

Soal pencabutan larangan itu dia menegaskan, “ Ini merupakan refleksi dari Swedia yang multi kultural dan kami hidup di dalamnya,” ujar Donna kepada The Local. Para Polwan kita, sebagaimana Donna nun di Swedia itu, menjalankan kewajiban negara, tanpa harus menanggalkan kewajiban agama.


Beri Komentar