Polwan (4): Kisah Polwan Berhijab di Negeri Barat

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 6 April 2015 19:43
Polwan (4): Kisah Polwan Berhijab di Negeri Barat
Di negara Barat yang mayoritas penduduknya non-muslim, hak polisi wanita berhijab sudah lama diakui. Tersebar sejak Swedia, Inggris, sampai Kanada.

Dream - Wajah Donna Eljamal, 26 tahun, terlihat sumringah. Wanita berhijab ini akhirnya  bisa bernapas lega. Keinginannya untuk menjadi polisi wanita (Polwan) di Swedia tanpa harus melepas hijab dapat terwujud. Beberapa tahun lalu, Pemerintah Swedia resmi mencabut larangan penggunaan hijab bagi polisi wanita.

Donna pun menyambut gembira pencabutan larangan ini. Dengan kebijakan baru tersebut, ia yang notabene seorang muslimah bisa berkarir sebagai petugas keamanan di negara Barat semacam Swedia.

“ Jika ini merupakan refleksi dari Swedia yang multikultural, kami hidup di dalamnya,” ujar Donna kepada The Local.

Donna sendiri merupakan generasi pertama muslimah yang bisa menjadi polisi setelah menempuh beberapa tahapan ujian seleksi. Ia merupakan produk seleksi setelah lima tahun sebelumnya, tepatnya tahun 2006, saat kebijakan membolehkan Polwan berhijab diberlakukan di Swedia.

Meski demikian, aturan tersebut tetap saja mengundang kontroversi. Banyak masyarakat Swedia yang masih belum menerima kebijakan tersebut. Hal ini diiringi dengan masih sedikitnya Polwan muslimah yang mau mengenakan hijab di sana.

Menjadi seorang Polwan merupakan cita-cita Donna sejak kecil. Mungkin mimpi itu tidak akan pernah terwujud jika tidak ada pencabutan larangan ini. Ia pun menyatakan hijab yang ia kenakan sejak kecil bukanlah sebuah penghalang bagi wanita dalam menjalankan profesi apapun, termasuk sebagai polisi.

“ Dan ini menunjukkan kepada masyarakat sisi lain dari wanita yang memakai hijab, bahwa kami tidak tertindas, dan kami bisa menjadi wanita yang kuat dan mandiri,” katanya.

Sebelum menjadi Polwan, Donna pernah bekerja di Kriminalvarden, semacam lembaga pemasyarakatan di Swedia. Meski berhijab, ia sama sekali tidak mendapat perlakuan buruk dan justru sangat dihormati oleh rekan-rekannya.

“ Hijab sangat jelas menunjukkan bahwa saya memiliki pengetahuan tentang sisi lain dari masyarakat Swedia,” terangnya.

Pencabutan larangan memakai hijab juga disambut positif oleh pihak kepolisian Swedia. Hal ini dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap multikulturalisme, yang memungkinkan polisi merekrut anggota dari pelbagai latar belakang budaya dan agama.

“ Kita hidup di masyarakat modern dan multikultur tanpa perlu mengatakan kita harus mengakui hak-hak dasar di dalamnya, termasuk juga kebebasan beragama,” kata salah satu anggota Dewan Polisi Nasional Kalle Wallin.

***

Swedia ternyata bukan...

1 dari 2 halaman

Inggris Bolehkan Polwan Muslim Berhijab


Swedia ternyata bukan merupakan satu-satunya negara barat yang membolehkan para Polwan muslim berhijab. Potret serupa juga bisa ditemukan di Inggris. Pihak kepolisian di beberapa negara bagian di Inggris bahkan sudah membuat rancangan khusus memadukan hijab dengan seragam. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi para muslimah yang ingin mendaftar sebagai polisi.

Rancangan tersebut menunjukkan hijab berwarna hitam polos. Hijab tersebut dibuat dengan bahan yang tahan api, kemudian dipadukan dengan seragam standar kepolisian setempat. Rancangan ini sudah dipakai di beberapa kepolisian negara bagian seperti Leichestershire, Thames Valley, dan Polisi Kota Metropolitan.

Kepala Tim Perekrutan Polisi Leichestershire, Inspektur Geoff Feavyour mengatakan kaum wanita menempati 23 persen jumlah perwira kepolisian di sana. Sebagian dari mereka merupakan polisi muslimah. Sehingga, menurut dia, kebijakan yang mencabut larangan berhijab bagi Polwan di Inggris sangat membantu kepolisian merekrut petugas baru.

“ Jelas kami ingin orang-orang dari semua lapisan masyarakat bergabung menjadi pasukan kepolisian dan fakta dibolehkannya Polwan berhijab merupakan komitmen kami untuk itu. Rancangan seragam ini merupakan bentuk perhatian bahwa mereka, para pengguna hijab, diperbolehkan,” katanya kepada Leichester Mercury.

Aturan mengenai Polwan berhijab di Inggris muncul beberapa tahun setelah keluarnya kebijakan yang membolehkan aparat kepolisian menggunakan simbol-simbol agama. Sebelumnya, Inggris membolehkan penganut Sikh mengenakan turban saat bertugas. 

Sebelum menjalankan kebijakan ini, pihak kepolisian mengadakan sosialisasi dengan kelompok masyarakat. Di antaranya adalah dengan Federasi Organisasi Muslim dan Dewan Keyakinan Kebudayaan dan Kesejahteraan Masyarakat Sikh Leichester. Kebijakan ini mendapat sambutan positif dari organisasi masyarakat tersebut.

“ Ini langkah yang indah dan membantu polisi memperluas cakupan dalam perekrutan anggota,” ujar juru bicara Federasi Organisasi Muslim, Suleman Nagdi.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Dewan Keyakinan, Kebudayaan dan Kesejahteraan Masyarakat Sikh Leichester, Resham Singh Sandu. “ Ini merupakan langkah maju bagi orang-orang beragama yang ingin melayani masyarakat sebagai polisi,” ungkapnya.
.
***

Potret tersebut terjadi...

2 dari 2 halaman

Kanada Rancang Seragam Khusus Polwan Berhijab

Potret tersebut terjadi di negara kawasan Eropa. Di negara yang mayoritas penduduknya non-muslim. Lantas bagaimana dengan negara barat di kawasan Amerika? Faktanya, potret kebebasan Polwan mengenakan hijab ternyata juga dapat ditemui di Kanada.

Tepatnya di Edmonton, Alberta, Kanada. Para Polwan muslim di sana dibolehkan mengenakan hijab saat bertugas. Otoritas kepolisian di sana pun membuat rancangan baju khusus bagi Polwan muslim. Rancangan tersebut dibuat setelah mendapat beragam usulan dari masyarakat sebelumnya.

Hal ini semata untuk memberikan hak bagi kaum muslimah Edmonton untuk dapat bergabung menjadi anggota polisi. Meski sebagai minoritas di kota itu, keberadaan komunitas muslim di Kanada begitu dihargai. 

Langkah ini juga dimaksudkan untuk merespon perubahan yang terjadi pada masyarakat Edmonton. “ Juga untuk memfasilitasi pertumbuhan minat menjadi polisi pada komunitas muslim Edmonton,” menurut keterangan pers polisi, seperti dilansir Huffingtonpost.

Kebijakan ini mendapat persetujuan dari Dewan Kota Edmonton. Salah satu anggota dewan, Scott McKeen, mengatakan persetujuan ini merupakan ‘sikap inklusif’ bagi wanita yang mengenakan hijab sebagai ekspresi iman mereka.

Hal senada juga disampaikan oleh Presiden Dewan Muslimah Kanada bagian Edmonton, Soraya Zaki Hafez. “ Ini membuat Muslimah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat,” ungkap dia.

Rancangan seragam Polwan di Edmonton dibuat cukup sederhana, tanpa mengubah bentuk standar. Bagi muslimah, seragam hanya ditambahkan hijab untuk menutupi kepala. Di samping itu, para muslimah masih dapat mengenakan topi polisi meski ia berhijab.

Rancangan tersebut dibuat dengan beragam pertimbangan. Salah satunya adalah bentuk hijab yang sederhana, sehingga tidak menghambat Polwan ketika bergerak, juga tidak menutupi pandangan.

Potret tiga negara yang memperbolehkan penggunaan hijab bagi polisi wanita tersebut merupakan cerminan bagaimana Islam mulai diterima di negara-negara Barat.

Bagi mereka, Islam dianggap bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang berkontribusi pada pembangunan sebuah kawasan. Sebuah bentuk toleransi yang indah… (eh)

Beri Komentar