Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Memberi sedekah kepada kaum kurang mampu merupakan salah satu anjuran agama. Tidak memandang apakah yang diberi itu pengemis atau bukan.
Namun belakangan, banyak tersiar kabar pengemis ternyata menjadi profesi. Dengan profesi itu, mereka ternyata memiliki simpanan harta, sehingga sudah dapat dikategorikan mampu.
Lantas, bagaimana hukumnya memberi sedekah para pengemis yang ternyata hanya berpura-pura miskin?
Terkait perkara ini, ada anjuran untuk menghukumi seseorang sebatas pada kondisi lahiriahnya. Sebagai misal, seseorang melihat pengemis itu sebenarnya berpura-pura agar terlihat kasihan.
Terdapat hadits tentang anjuran untuk menghakimi seseorang sebatas dari lahiriyahnya saja. Hadits tersebut memuat kisah Usamah bin Zaid RA yang membunuh seorang renta.
" Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu berkata, 'Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kami serang mereka secara tiba-tiba pada pagi hari di tempat air mereka. Saya dan seseorang dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelaki dari golongan mereka. Setelah kami dekat dengannya, ia lalu mengucapkan laa ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar menahan diri dari membunuhnya, sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga membuatnya terbunuh.
Sesampai di Madinah, peristiwa itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya padaku,
'Hai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?' Saya berkata, 'Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.' Beliau bersabda lagi, 'Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?' Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR Bukhari).
Dalam riwayat Muslim disebutkan, " Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?' Saya menjawab, 'Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.' Beliau bersabda, 'Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?' Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.”
Terkait hadis ini, Imam Nawawi memberikan penjelasan dalam kitab Syarh Shahih Muslim.
" Manusia hanya dibebani menghukumi seseorang dari lahiriyahnya saja dan sesuatu yang keluar dari mulutnya saja. Sedangkan hati, itu bukan urusan manusia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya