Imam Besar Masjid Istiqlal: Sebut Pandemi Tak Ada Membodohi Masyarakat

Reporter : Ahmad Baiquni
Minggu, 25 Oktober 2020 12:15
Imam Besar Masjid Istiqlal: Sebut Pandemi Tak Ada Membodohi Masyarakat
Pandemi bahkan pernah terjadi di masa Rasulullah Muhammad SAW.

Dream - Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menegaskan masyarakat tidak perlu mengingkari upaya pemerintah dan berbagai pihak untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Apa yang dilakukan pemerintah, menurut Nasaruddin, sama seperti cara Rasulullah Muhammad SAW menghadapi pandemi.

" Protokol yang diterapkan itu mencontoh apa yang dilakukan Nabi. Pandemi itu ada. Kalau dibilang tidak ada itu melakukan pembodohan terhadap masyarakat. Tanggung jawab itu nantinya," ujar Nasaruddin.

Nasaruddin mengingatkan masyarakat, terutama santri dan pengelola pesantren untuk tidak berdiam diri menghadapi pandemi Covid-19. Santri harus proaktif dalam menyosialisasikan protokol kesehatan di kalangan internal, juga masyarakat.

" Jadi kalau para santri pernah melakukan komando jihad mengusir Belanda maka komunitas santri harus tampil mengusir virus corona dengan caranya sendiri, harus banyak berdoa dan menjadi contoh bagi masyarakatnya," kata Nasaruddin.

 

1 dari 4 halaman

Metode Nabi Muhammad SAW Masih Relevan

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Masdalina Pane, mengatakan metode menghadapi pandemi yang dijalankan Rasulullah Muhammad SAW dulu masih sangat relevan diterapkan saat ini. Dia mengatakan pandemi bukanlah masalah baru dalam peradaban manusia.

Rasulullah sendiri punya cara untuk menekan penyebaran pandemi yaitu dengan tidak bepergian ke pusat penyakit. Metode tersebut dikenal saat ini dengan masa karantina.

Masdalina melanjutkan santri yang tinggal dalam satu populasi cukup lama seperti di pesantren memiliki risiko lebih tinggi terpapar virus corona. Tetapi jika tidak banyak terhubung dengan dunia luar, justru relatif lebih aman.

Begitu juga dengan melakukan penanganan karantina di pesantren jauh lebih mudah dibanding di lingkungan rumah.

" Santri yang memiliki gejala ringan mohon segera melaporkan pada pengurus agar segera mendapat tindakan. Dan kalau ada petugas kesehatan dari puskesmas setempat melakukan pengecekan, mohon didukung," ucap Masdalina, dikutip dari Covid19.go.id

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

2 dari 4 halaman

Sempat Muncul di 2002, Ini Penyebab Wabah Covid-19 Saat Ini Lebih Ganas

Dream - Penyebaran virus Covid-19 ternyata sudah pernah dideteksi sekitar 18 tahun yang lalu atau pada 2002-2003. Kala itu virus SARS COVID-19 pernah muncul di Hong Kong namun dengan vatality rate mencapai 20 persen.

Delapan tahun berselang, penyakit tersebut kembali muncul di China dengan efek yang lebih mengerikan. Penyebarannya berlangsung cepat dan hampir terjadi di seluruh dunia. Diduga hal ini terjadi karena penyebaran virus dibantu dengan interaksi masyarakat dunia yang semakin mudah.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Dwi Agustian, yang menilai pola perjalanan global menjadi dalang dari cepatnya penyebaran virus Covid-19.

" Virus ini hanya bisa menimbulkan sebaran yang sangat cepat seperti ini di dunia modern pada saat teknologi bisa membuat orang berinteraksi dengan cepat," katanya dalam talkshow Titik Balik Penyintas Covid-19 di Media Center Satgas Penanganan Covid-19 Graha BNPB Jakarta, Jumat kemarin dilansir dari Covid19.go.id.

3 dari 4 halaman

Efek biologisnya lebih cepat saat ini

Menurut Dwi, virus ini tidak menimbulkan efek biologis secara cepat pada 20 tahun lalu. Maka dari itu, virus ini tergolong baru dan pengetahuannya masih perlu diakumulasi agar lebih konkrit.

Menurut data statistik, pengembangan terakhir dari populasi umum paling tinggi mencapai 5 persen. Masih ada beberapa pasien yang terjangkit Covid-19 tanpa gejala seperti di Bandung, Jawa Barat.

Sehingga, penelitian dan pemeriksaan masih harus dilakukan untuk bisa mengidentifikasi karakteristik virus Covid-19. Salah satu orang yang terjangkit Covid-19 akibat perjalanan global adalah motivator Tung Desem Waringin.

4 dari 4 halaman

Cerita penyintas

Ia tertular saat berada di pesawat terbang 15 Maret lalu. Kebetulan, ia menumpang pesawat penuh dan hanya penumpang sakit yang memakai masker.

Tiga hari kemudian, ia terkena demam dan suhu tubuhnya naik turun. Lalu, ia divonis positif Covid-19. Namun tak lama kemudian, ia sembuh karena setelah menjalani kebiasaan minum air putih selama perawatan.

Ada juga cerita dari penyintas Covid-19 Susi Rudiati yang telah hidup dengan satu ginjal selama 23 tahun dan mengalami demam tinggi serta kenaikan tensi drastis.

Sempat putus asa, ia pun berhasil sembuh setelah berbagi rezeki dengan petugas cleaning service.

(Sumber: Covid19.go.id)

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

Beri Komentar