Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Petugas Menggunakan APD Lengkap Saat Melewati Keluarga Yang Sedang Mengkremasi Sanak Famili (Foto: Shutterstock)
Dream - India tengah menghadapi lonjakan kasus Covid-19 sangat mengerikan. Tercatat penambahan kasus harian mencapai 314 ribu kasus.
Jumlah orang meninggal akibat Covid-19 di India juga meroket. Kondisi ini menyebabkan fasilitas kremasi umum sampai kewalahan.
Warga Delhi, Nitish Kumar terpaksa menyimpan jenazah ibunya di rumah selama hampir dua hari lantaran tak mendapati ruang di fasilitas krematorium kota. Kumar akhirnya mengkremasi ibunya, yang meninggal karena Covid-19, di fasilitas kremasi massal darurat yang memanfaatkan lahan parkir bersebelahan dengan krematorium, di Seemapuri, timur laut Delhi.
" Saya pindah dari satu tempat ke tempat lagi, tapi setiap krematorium punya alasan ... ada yang bilang kehabisan kayu," kata Kumar.
India mencatatkan penambahan kasus harian tertinggi di dunia dari 314.835 infeksi virus korona pada hari Kamis. Gelombang kedua pandemi menghancurkan infrastruktur kesehatan negara itu yang lemah.
Di Delhi saja, banyak rumah sakit kehabisan pasokan oksigen medis. Akibatnya, masing-masing rumah sakit mencatatkan kenaikan kematian harian mencapai lebih dari 26 ribu.
Di Ibu kota India itu sebanyak 306 orang meninggal karena Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Mereka terpaksa dikremasi di fasilitas darurat.
Foto udara menunjukkan tumpukan kayu pemakaman hanya berjarak beberapa meter di krematorium terbuka yang penuh sesak. Mayat terbakar di atas tumpukan kayu di tempat parkir.
Jitender Singh Shunty yang menjalankan layanan medis nirlaba, Shaheed Bhagat Singh Sewa Dal, mengatakan hingga Kamis sore 60 jenazah telah dikremasi di fasilitas darurat tempat parkir dan 15 lainnya sedang disiapkan.
" Tak seorang pun di Delhi tidak akan pernah menyaksikan pemandangan seperti itu," kata Shunty dengan air mata berlinang.
" Anak-anak yang berusia lima tahun, 15 tahun, 25 tahun sedang dikremasi. Pengantin baru dikremasi. Sulit untuk dilihat," lanjut dia.
Shunty mengatakan tahun lalu selama puncak gelombang pertama terjadi, jumlah maksimum jenazah yang dia bantu kremasi dalam satu hari adalah 18. Sedangkan rata-rata delapan hingga 10 sehari.
Sementara pada Selasa kemarin, dia menyebut 78 jenazah dikremasi di satu tempat itu saja.
Kumar mengatakan ketika ibunya yang berprofesi sebagai petugas kesehatan pemerintah dinyatakan positif 10 hari yang lalu, pihak berwenang tidak dapat menemukan tempat tidur rumah sakit untuknya.
" Pemerintah tidak melakukan apa-apa. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan keluargamu. Kamu sendirian," katanya.
Sumber: abc.net.au.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya