Ini Grand Design Dalang Kerusuhan 22 Mei

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 22 Mei 2019 15:35
Ini Grand Design Dalang Kerusuhan 22 Mei
Dugaan itu diperkuat dengan ditemukannya senjata api ilegal beserta amunisinya ke Tanah Air.

Dream - Polri menduga aksi-aksi kerusuhan setelah demo damai di kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) merupakan rancangan pihak tertentu. Dugaan itu diperkuat dengan ditemukannya senjata api ilegal beserta amunisinya ke Tanah Air.

" Ini senjata panjang jenis M4 yang dilengkapi peredam. Jadi kalau ditembakkan suaranya tidak kedengaran. Juga dilengkapi tanpa pisir (alat pembidik). Ini artinya bisa dipakai untuk teleskop untuk sniper," terang Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dalam keterangan pers bersama di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Rabu 22 Mei 2019.

Tito menyebut polisi tak cuma menemukan senjata api jenis M4 tapi juga senjata revolver Taurus, pistol Glock 22, dan 2 dus peluru yang berisi sekitar 60 butir.

Sebanyak tiga orang ditangkap atas kepemilikan senjata-senjata api berikut amunisinya. Salah satu yang dibekuk yakni mantan Danjen Kopassus Mayjen (Purn) TNI Soenarko.

Lalu, apa rencana para pelaku kerusuhan dengan kepemilikan senjata api yang begitu berbahaya itu? Tito menyebut ada design besar untuk menyudutkan aparat Polri dan TNI sehingga menjadi tertuduh pelaku penembakan.

" Kami mendapat info akan ada rencana aksi 22 Mei. Akan ada aksi penembakan termasuk penembakan terhadap massa supaya nanti diciptakan martir. Seolah-olah yang melakukan penembakan adalah dari aparat. Sehingga, timbul kemarahan publik menjadi martir untuk pembenar langkah-langkah berikutnya," jelas Tito.

Tito menekankan, massa yang melakukan aksi damai di Bawaslu kemarin siang berbeda dengan massa yang melakukan kerusuhan malam harinya. Massa yang aksi damai di Bawaslu sudah membubarkan diri saat Maghrib tiba.

" Tapi sekitar pukul 23.00, ada massa sekitar 300-400 orang mendatangi Bawaslu dari arah Tanah Abang dan langsung melempari anggota yang ada di sana dengan alat-alat yang membahayakan. Seperti batu besar, sampai ke conblock, bom molotov dan juga petasan," jelas Tito yang didampingi Menko Polhukam Wiranto dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. (ism)

1 dari 5 halaman

Wiranto: Kami Tahu Dalang Kerusuhan 22 Mei

Dream - Wiranto mengaku telah mengetahui dalang kerusuhan Jakarta pada 22 Mei 2019. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, itu memastikan intelijen sudah mengetahui perkembangan situasi sebelum dan sesudah Pemilu 2019.

" Kalau saudara-saudara jeli, mengamati berbagai kasus yangg terjadi, ada keterkaitan kasus satu dengan yang lain," kata Wiranto di kantornya, Jakarta.

Berdasarkan pengamatan tersebut, Wiranto mengklaim telah mengetaui dalang kerusuhan tersebut. Namun hingga saat ini pemerintah masih melakukan kajian yang lebih mendalam.

" Jangan dikira kita belum tahu, tapi ada hal-hal menyangkut hukum, ada prosedur-prosedur yang harus kita taati," tambah dia.

2 dari 5 halaman

Martir untuk Raih Simpati

Aparat keamanan, sambung Wiranto, telah siap dan melakukan langkah-langkah hukum. Aparat juga akan bertindak tegas, " dengan bertumpu pada hukum."

Menurut Wiranto, skenario kerusuhan tersebut terlihat jelas. Kerusuhan itu bertujuan menimbulkan korban yang kemudian dijadikan untuk menarik simpati publik.

" Setelah ada korban, kan ada tokoh komporin masyarakat, seolah itu kesalahan pemerintah," tutur Wiranto.

3 dari 5 halaman

Cegah Hoax Rusuh 22 Mei, Menkominfo Batasi Akses WhatsApp

Dream - Buntut kerusuhan aksi 22 Mei yang terjadi di beberapa titik Jakarta, terjadi penyebaran foto-foto dan video-video hoax di sosial media yang dikaitkan dengan kerusuhan. Untuk mengantisipasi penyebaran hoax itu pemerintah membatasi akses sosial media.

 Gagal Registrasi Kartu Seluler? Ini Penjelasan Menkominfo

" Pembatasan ini bersifat sementara dan bertahap. Pembatasan dilakukan terhadap platform-platform sosial media," ujar Menkominfo Rudiantara dalam keterangan pers bersama di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Rabu 22 Mei 2019.

Menurut Rudiantara, foto-foto dan video-video yang beredar itu kemudian bukan menjadi viral di sosial media melainkan di fitur aplikasi WhatsApp.

Pembatasan ini dalam bentuk perlambatan saat akan mengunduh atau mengunggah foto atau video di aplikasi WhatsApp.

" Modusnya screencapture diambil kemudian viralnya bukan di sosial media melainkan di WhatsApp. Jadi teman-teman, kita semua akan mengalami perlambatan bila melakukan download atau upload video dan foto," terang Rudiantara.

Mengapa itu dilakukan? Karena secara psikologis, lanjut Rudiantara, gambar foto atau video yang provokatif, meski tanpa teks, dapat memicu emosi mereka yang membaca.

" Saya mohon maaf, tapi ini sekali lagi sementara. Jadi sekarang kita kembali ke media mainstream, kita appreciate media mainstream," tutup Rudiantara.

Sejak semalam, memang beredar sejumlah foto dan video yang tidak ada hubungannya dengan peristiwa kerusuhan semalam. Seperti misalnya, Brimob mengejar demonstran ke dalam masjid sampai seorang pria yang tertusuk sangkur di kepalanya. Semua gambar dan video itu terbukti hoax. (ism)

4 dari 5 halaman

Perusuh 22 Mei Dibayar Rp6 Juta

Dream - Polisi menyita amplop dari sejumlah orang yang ditangkap saat terjadi kerusuhan di beberapa wilayah Jakarta, Rabu dinihari, 22 Mei 2019. Amplop-amplop itu berisi uang.

" Yang diamankan ini kita lihat termasuk di depan Bawaslu juga ditemukan di mereka amplop uang yang berisi uang total kurang lebih Rp6 juta terpisah amplop-amplopnya," kata Kapolri, Jenderal Polisi Toto Karnavian, di Jakarta.

Menurut Tito, orang-orang yang ditangkap dalam kerusuhan itu mengaku dibayar. Namun, Tito tidak menyebut pihak yang membayar para perusuh tersebut.

" Mereka mengaku ada yang membayar dan kemudian kita lihat sebagian dari pelaku yang melakukan aksi anarkis ini memiliki tato. Nanti bisa dilihat sendiri," tambah dia.

5 dari 5 halaman

Datang, Langsung Serang

Berdasarkan hasil pemeriksaan, Tito menyebutkan bahwa kelompok perusuh ini berbeda dengan massa pendemo yang menggelar aksi di depan kantor Baawaslu pada Selasa siang. Kelompok perusuh ini datang setelah massa pendemo di Bawaslu bubar.

Dia menambahkan, sekitar pukul 22.30 WIB atau 23.00 WIB sekelompok pemuda, dengan jumlah sekitar 300 orang, mendatangi Bawaslu dari arah Tanah Abang.

Para pemuda itu langsung melempari aggota polisi yang berjaga di Bawaslu dengan alat-alat membahayakan. " Ada batu besar, conblock, kemudian bom molotov dan petasan," tutur Tito.

Beri Komentar
Lebih Dekat dengan Tiffani Afifa, Dokter Cantik Juara Kpop World Festival