Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Militer Jerman, salah satu kekuatan yang paling ditakuti di Eropa, dipaksa untuk menghentikan latihan. Ini lantaran adanya aturan baru yang membatasi jam lembur.
Tentara Jerman mengambil bagian dari latihan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Norwegia awal tahun ini yang rencananya akan berlangsung selama empat pekan. Baru berjalan 12 hari, mereka harus berhenti karena batasan jam lembur tersebut.
Para tentara tersebut mengeluh karena aturan ini hanya memberi mereka kesempatan berada di balik meja seharian. Keluhan tersebut disampaikan kepada pengawas parlemen.
" Hal ini membuat kami tidak bisa memenuhi kewajiban kepada NATO karena lembur," ujar Komisioner bidang Angkatan Bersenjata Parlemen Jerman Hans-Peter Bertels kepada harian Bild am Sonntag.
Menteri Pertahanan Ursula von der Leyen menuai banyak kritikan akibat langkahnya melakukan reformasi di lingkungan militer. Saat ini, terdapat TV layar datar dan penitipan bayi di barak-barak militer.
Dia dituding telah melakukan langkah reformasi yang keliru di tubuh militer Jerman. Publik mengibaratkan langkah Ursula seperti mengisi kebutuhan senjata untuk latihan dengan sapu, padahal militer Jerman sedang kekurangan senjata.
Tahun lalu, baru diketahui ternyata kurang dari 66 unit pesawat Tornado milik Jerman yang dinyatakan layak terbang. Sesuai dengan reformasi terbaru, yang berjalan sejak Januari lalu, jam kerja tentara dibatasi menjadi hanya 41 jam setiap pekan.
Lebih dari batasan tersebut, jam kerja tidak akan dihitung atau tidak akan mendapatkan upah lembur. Alhasil, tidak ada pilihan lain selain berhenti bekerja.
Bertels mengatakan aturan ini memaksa kamp pelatihan harus ditutup pukul 17.30 waktu setempat. Akibatnya, banyak tentara yang terpaksa menghabiskan waktu di barak.
Bahkan, kata Bertels, beberapa tentara yang punya kebiasaan pulang pergi saat latihan dipaksa menghabiskan waktu kerja di kamp lantaran tidak ada waktu untuk pulang. Dia lantas mendesak aturan baru tersebut dapat direvisi, setidaknya batasan mingguan diganti dengan tahunan.
Asosiasi Angkatan Bersenjata Jerman juga memprotes kebijakan ini.
" Saat ini angkatan bersenjata sedang memerangi hal yang cacat dari implementasi sistem baru. Kebijakan ini seharusnya tidak diizinkan dan akan membahayakan kesiapan kami," kata Ketua Asosiasi Letkol Andre Wustner.
Sumber: telegraph.co.uk
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya