Reformasi Militer, Barak Tentara Jadi Tempat Penitipan Bayi

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 12 April 2016 08:29
Reformasi Militer, Barak Tentara Jadi Tempat Penitipan Bayi
Menteri Pertahanan Jerman jadi sasaran kekesalan. Buannya mengisi kebutuhan senjata, menteri disebut menyuruh tentara latihan dengan sapu.

Dream - Militer Jerman, salah satu kekuatan yang paling ditakuti di Eropa, dipaksa untuk menghentikan latihan. Ini lantaran adanya aturan baru yang membatasi jam lembur.

Tentara Jerman mengambil bagian dari latihan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Norwegia awal tahun ini yang rencananya akan berlangsung selama empat pekan. Baru berjalan 12 hari, mereka harus berhenti karena batasan jam lembur tersebut.

Para tentara tersebut mengeluh karena aturan ini hanya memberi mereka kesempatan berada di balik meja seharian. Keluhan tersebut disampaikan kepada pengawas parlemen.

" Hal ini membuat kami tidak bisa memenuhi kewajiban kepada NATO karena lembur," ujar Komisioner bidang Angkatan Bersenjata Parlemen Jerman Hans-Peter Bertels kepada harian Bild am Sonntag.

Menteri Pertahanan Ursula von der Leyen menuai banyak kritikan akibat langkahnya melakukan reformasi di lingkungan militer. Saat ini, terdapat TV layar datar dan penitipan bayi di barak-barak militer.

Dia dituding telah melakukan langkah reformasi yang keliru di tubuh militer Jerman. Publik mengibaratkan langkah Ursula seperti mengisi kebutuhan senjata untuk latihan dengan sapu, padahal militer Jerman sedang kekurangan senjata.

Tahun lalu, baru diketahui ternyata kurang dari 66 unit pesawat Tornado milik Jerman yang dinyatakan layak terbang. Sesuai dengan reformasi terbaru, yang berjalan sejak Januari lalu, jam kerja tentara dibatasi menjadi hanya 41 jam setiap pekan.

Lebih dari batasan tersebut, jam kerja tidak akan dihitung atau tidak akan mendapatkan upah lembur. Alhasil, tidak ada pilihan lain selain berhenti bekerja.

Bertels mengatakan aturan ini memaksa kamp pelatihan harus ditutup pukul 17.30 waktu setempat. Akibatnya, banyak tentara yang terpaksa menghabiskan waktu di barak.

Bahkan, kata Bertels, beberapa tentara yang punya kebiasaan pulang pergi saat latihan dipaksa menghabiskan waktu kerja di kamp lantaran tidak ada waktu untuk pulang. Dia lantas mendesak aturan baru tersebut dapat direvisi, setidaknya batasan mingguan diganti dengan tahunan.

Asosiasi Angkatan Bersenjata Jerman juga memprotes kebijakan ini.

" Saat ini angkatan bersenjata sedang memerangi hal yang cacat dari implementasi sistem baru. Kebijakan ini seharusnya tidak diizinkan dan akan membahayakan kesiapan kami," kata Ketua Asosiasi Letkol Andre Wustner.

Sumber: telegraph.co.uk

Beri Komentar