Keluarga Berantakan Karena Ayah Penjudi, Sang Gadis Memeluk Islam Berawal Baca Quran Soal Larangan Berjudi

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 13 Januari 2022 12:00
Keluarga Berantakan Karena Ayah Penjudi, Sang Gadis Memeluk Islam Berawal Baca Quran Soal Larangan Berjudi
Yang Weiwei atau Fatimatuz Zahra tinggal di Indonesia dan mendirikan sebuah restoran Chinese Food Halal.

Dream - Di pinggiran Ibu Kota, tepatnya di Bintaro, Tangerang Selatan, terdapat sebuah restoran Chinese Food Halal cukup terkenal. Long Feng Tang namanya. Menu-menunya otentik khas China Utara.

Tapi, ada yang lebih menarik dari balik restoran ini. Kisah tentang pemiliknya, seorang warga negara China yang tersentuh hatinya oleh iman Islam.

Dia adalah Yang Weiwei, yang punya nama Islam Fatimatuz Zahra. Sudah dua tahun dia tinggal di Indonesia bersama suaminya, Yuda.

Yang adalah seorang mualaf yang lahir di Harbin, kota yang memiliki suhu sangat dingin bahkan mencapai -30 derajat Celcius di malam harinya. Dia memeluk Islam ketika sedang kuliah di Jerman saat bertemu Yuda.

Yang mengucap kalimat syahadat pada 2017. Dia mengakui, awalnya memeluk Islam karena akan menikah namun setelah itu dia banyak belajar tentang agama barunya.

" Saya belajar bagaimana cara sholat, cara membaca Alquran, dan mempelajari isi dari Alquran," ujar Yang, dalam kanal YouTube PecahTelur.

Dia mendapat banyak pengetahuan dan hikmah dari belajar Islam. Seperti rasa tenang dan sabar ketika berhadapan dengan masalah.

Ajaran Islam ternyata membawa banyak perubahan dalam diri Yang. Dari Alquran, dia seperti mendapat berlimpah saran yang begitu dekat dengan kehidupannya.

1 dari 5 halaman

Hidup Susah Sejak Kecil

Yang bercerita, sejak kecil dia hidup dalam keluarga yang tidak mampu dan selalu kesulitan keuangan. Bahkan ketika musim dingin tiba, keluarganya harus membakar batu bara untuk menghangatkan ruangan lantaran tak mampu beli alat penghangat berbahan bakar bensin.

" Karena penghangat ruangan menggunakan batu bara, debu-debunya menempel di hidung dan wajah kami," kata dia.

Belum lagi, ketika sekolah dia harus banyak berhemat. Yang bahkan hanya punya satu buku tulis dan dipakai sampai benar-benar tidak layak.

Setiap selesai sekolah, ibunya menghapus seluruh catatan Yang agar keesokan harinya bisa dipakai lagi. Jika sudah sangat tipis, buku tulis itu menjadi tisu toilet.

" Contoh-contoh lainnya sangat banyak," kata dia.

 

2 dari 5 halaman

Ekonomi Keluarga Sempat Membaik, Tapi

Pada 2008, perekonomian keluarganya mulai membaik. Orangtua Yang akhirnya bisa mengirim dia ke Jerman untuk sekolah.

Sayangnya, kata Yang, sang ayah terkena sindrom orang kaya baru. Ayahnya gemar berjudi hingga seluruh harta habis, bahkan surat-surat berharga terpaksa jadi jaminan utang.

" Di keluarganya saya tidak ada seorang pun yang mempunyai agama, oleh karena tiu Papa tidak punya aturan untuk diri sendiri," terang Yang.

Andai saja saat itu keluarganya memeluk Islam. Ayahnya seperti tidak punya kontrol sehingga berdampak buruk pada kondisi keluarga.

Yang kemudian menemukan aturan dalam Islam yang melarang perjudian. Hal itu dia dapat setelah mempelajari isi dalam Alquran.

" Di dalam Alquran ada peraturan yang sebenarnya memudahkan hidup kita yang harus kita ikuti. Peraturan itu dibuat supaya kita tidak melakukan banyak kesalahan dalam hidup," ucap dia.

" Apabila Papa tahu bahwa berjudi itu dosa, maka uang yang susah-susah dia cari tidak segampang itu hilang," kata Yang melanjutkan.

Akhirnya seluruh aset, termasuk perusahaan ayahnya, hilang untuk bayar utang. Di tengah kondisi yang sulit, Yang bertekad mencari uang sendiri sembari kuliah di Jerman.

 

3 dari 5 halaman

Bertemu Calon Suami

Awal pertemuannya dengan Yuda bermula dari permasalahan Bahasa Jerman. Dia mengaku tidak menguasai Bahasa Jerman sehingga merasa kesulitan belajar di tahun pertama.

Dia bahkan terancam pulang jika nilai Bahasa Jermannya tidak juga membaik. Di tengah kesulitan itulah, Yuda hadir dalam kehidupannya.

" Saya sangat berterima kasih kepada Allah, saat saya belajar Bahasa Jerman, saya bertemu dengan suami saya, Yuda. Dia seorang Muslim, dulu saya tidak punya teman, Yuda membantu saya belajar Bahasa Jerman," kata dia.

Dulu, dia sempat berpikir mengapa ada Muslim yang mau membantunya. Kini, Yang tersadar itu adalah cara Allah menolong hamba-Nya.

" Saya berpikir ini semua karena Allah, Allah mengirim Yuda untuk membantu saya," ungkap Yang.

 

4 dari 5 halaman

Mantap Peluk Islam dan Pindah ke Indonesia

Setelah lama berkenalan, Yang mantap memeluk Islam. Setelah itu, dia banyak belajar tentang Islam, mulai dari cara sholat, membaca Alquran, juga belajar kultur dan Bahasa Indonesia.

Setelah menikah, Yang mengikuti suaminya tinggal di Indonesia dan membuka restoran Chinese Food Halal. Dia pun banyak berinteraksi dengan pelanggan Muslim, dan menambah pengetahuannya tentang Islam.

Tidak jarang, dia berbagi cerita tentang Muslim China. Itu mendapat sambutan begitu hangat dari para pelanggan.

Perjalanan hidup mengajarkan yang betapa berharganya keputusan menjadi Muslim. Dia bisa merasakan ketenangan yang tak pernah didapat sebelumnya.

" Dulu saat saya mempunyai masalah saya hanya bisa menangis, tapi sekarang saya bisa sholat dan berdoa kepada Allah," kata Yang.

5 dari 5 halaman

Beri Komentar