Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 Dengan Warna Merah (Twitter @alvinlie21)
Dream - Pesawat Kepresiden Indonesia-1 resmi berganti warna dari biru muda ke merah. Pergantian warna ini masuk dalam agenda perawatan pesawat yang sudah dijadwalkan Sekretariat Negara.
Kebijakan ini memicu kritik dari sejumlah pihak. Termasuk pula dari para pejabat di lingkungan Partai Demokrat.
Ketua Badan Pemenangan Pemilihan Umum (Bappilu) Partai Demokrat, Andi Arief, mempertanyakan alasan dari penggantian warna tersebut. Tak lupa Andi turut menjelaskan latar belakang pemilihan warna biru yang pertama kali dipergunakan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
" Sekarang Pesawat Kepresidenan berwarna merah. Entah maksudnya apa, bisa warna bendera bisa juga corona. Dulu biru," cuit Andi lewat Twitternya.
Andi mengatakan warna biru untuk Pesawat Kepresidenan lebih baik. Alasan dia, warna tersebut bisa menjadi sarana kamuflase sehingga meningkatkan keamanan saat terbang.
" Desain dan warna karya seorang mayor desainer di TNI AU. Dominasi biru langit adalah upaya peningkatan keamanan penerbangan, sebagai warna kamuflase saat terbang," kata dia.
Juru Bicara DPP Demokrat, Herzaky Mahendra Putra, menilai pengecatan ulang Pesawat Kepresidenan menunjukkan Pemerintah tidak memiliki prioritas. Sementara saat ini Indonesia tengah berjuang melawan pandemi Covid-19.
" Anggaran terbatas, banyak utang, tapi malah memilih mengecat pesawat presiden daripada menambah stok oksigen atau stok vaksin gratis yang sangat bermanfaat untuk menyelamatkan sebanyak mungkin rakyat Indonesia," kata dia.
Dia menyatakan pengecatan pesawat dapat ditunda karena tidak masalah yang bersifat urgent. Sehingga anggaran dapat dialihkan untuk penanganan Covid-19.
" Esensi sebenarnya adalah kalau tidak membahayakan nyawa presiden saat memakai, mengapa perlu mengecat pesawat sekarang? Kan jauh lebih baik fokuskan semua anggaran yang tidak penting, untuk penyelamatan nyawa rakyat Indonesia dulu di tengah kepungan pandemi Covid-19," kata dia, dikutip dari Merdeka.com.
Dream - Istana Negara sedang menjalankan perawatan rutin terhadap Pesawat Kepresidenan Indonesia-1. Dalam tahap peremajaan kali ini, pesawat yang bisa mengantar presiden dan rombongan dalam lawatan kerja itu akan memiliki tampilan baru.
Sebelumnya, Pesawat Indonesia-1 dicat dengan warna biru muda menyerupai langit. Kini, pesawat itu berganti warna menjadi Merah Putih.
Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono, mengatakan pesawat tersebut memang telah diusulkan untuk pengecatan ulang dan masuk dalam agenda perawatan pesawat.
" Benar, Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 atau Pesawat BBJ 2 telah dilakukan pengecatan ulang," ujar Heru.
Menurut Heru, pengecatan tersebut sudah direncanakan sejak 2019 sekaligus menyambut perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-75 pada 2020 lalu. Pengecatan dilakukan satu paket bersama dengan Heli Super Puma dan Pesawat RJ.
" Namun, pada tahun 2019, pesawat BBJ 2 belum memasuki jadwal perawatan rutin sehingga yang dilaksankanan pengecatan terlebih dahulu untuk Heli Super Puma dan pesawat RJ," kata dia.
Heru menerangkan jadwal perawatan rutin pesawat memiliki interval yang sudah ditetapkan oleh produsen. Jadwal harus dipatuhi dan perawatan dilaksanakan secara tepat waktu.
" Perawatan rutin Pesawat BBJ 2 jatuh pada tahun 2021 merupakan perawatan Check C sesuai rekomendasi pabrik, maka tahun ini dilaksanakan perawatan sekaligus pengecatan yang bernuansa Merah Putih sebagaimana telah direncanakan sebelumnya," kata dia.
Selanjutnya, Heru membantah jika perawatan tersebut disebut sebagai pemborosan anggaran negara. Dia menekankan perawatan sudah direncanakan sejak 2019.
" Perlu kami jelaskan bahwa alokasi untuk perawatan dan pengecatan sudah dialokasikan dalam APBN," kata dia.
Dia juga menyatakan untuk penanganan Covid-19, Kementerian Sekretariat Negara telah menjalankan refocusing pada APBN 2020 dan 2021. Sehingga, anggaran pengecatan sudah sesuai dengan penetapan oleh Menteri Keuangan.
" Proses perawatan dan pengecatan dilakukan di dalam negeri, sehingga secara tidak langsung mendukung industri penerbangan dalam negeri yang terdampak pandemi," kata dia, dikutip dari Merdeka.com.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya