Kekuatan Doa Sang Juara

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 18 Februari 2016 21:48
Kekuatan Doa Sang Juara
Bakat-bakat muda Indonesia tengah berusaha menembus pentas dunia.

Dream - “ Manor Racing, secara resmi memastikan Rio bergabung ke tim Manor Racing.” Pengumuman itu menggema. Terdengar ke sekujur ruangan lantai dua Gedung Pertamax, Pertamina Pusat.

Tepuk tangan langsung membahana. Semua orang bersorak. Kegirangan. Raut tegang di wajah, perlahan luruh. Terhapus oleh senyuman. Kebahagiaan meruap dari ruangan itu.

Keputusan yang disampaikan Direktur Balap Tim Manor Racing, Dave Ryan, melalui Skype itu memang ditunggu banyak orang. Indonesia berharap punya wakil di lintasan balap bergengsi dunia, Formula One alias F1. Dan hari ini, Rio Haryanto membuat mimpi itu jadi nyata.

Tak mudah bagi Rio mencapai titik ini. Pemuda asal Surakarta ini harus menempuh jalan berkelok. Bak lintasan yang selalu dia lewati saban balapan. Peluang Rio ke F1 nyaris pupus karena kendala dana.

Untuk tampil di ajang F1, Rio harus menyerahkan uang 15 juta Euro atau sekitar Rp 226 miliar untuk keperluan balapan. Rio sudah menyetor 3 juta Euro atau sekitar Rp 45 miliar. Namun dia kesulitan membayar sisanya.

Rio tak putus asa. Dia kumpulkan segenap semangat. Terus berusaha. Menggalang dukungan. Satu hal yang tak dia lupa adalah doa. Di tengah kesusahan itu, dia dekatkan diri dengan Tuhan.

“ Kemarin-kemarin itu dia lagi deg-degan karena terus menunggu kepastian sponsor. Jadi, dia hanya meminta kepada Tuhan jawaban yang terbaik melalui salat Tahajud begitu,” ujar Indah.

Dan doa itu rupanya terkabul. Tim Manor memastikan Rio menjadi pembalapnya di ajang adu cepat jet darat bergengsi itu. Berduet dengan pembalap Inggris, Pascal Wehrlein.

“ Rio memiliki talenta yang besar untuk bergabung ke tim kami,” tambah Dave yang berbicara melalui layar lebar. Kini, semua bersyukur. Bisa bernafas lega.

***
Pemuda kelahiran Surakarta, 22 Januari 1993, ini memang layak dipilih. Dia bukan pembalap yang bisa diremehkan. Berbagai prestasi telah dia torehkan. Baik saat mengikuti ajang GP3 maupun GP2. Namanya sudah moncer.

Prestasi Rio tak datang dalam semalam. Putra bungsu pasangan Sinyo Haryanto dan Indah Pennywati itu harus merintis dari nol. Sejak usia enam tahun, dari balapan gokart amatiran.

Darah pembalap Rio memang kental. Sang bapak merupakan mantan pembalap nasional. Dan saat Rio berusia tujuh tahun, sebuah mobil gokart dihadiahkan sang bapak. Itulah suntikan semangat dari keluarga.

Gairah balap Rio terus meluap. Dia rela wara-wiri antara Surakarta dan Jakarta. Membagi waktu antara balap dan sekolah. Berbagai lomba dia ikuti. Dan tak jarang tangisnya pecah karena kalah di lintasan.

“ Tapi, lama-kelamaan setelah dikasih tahu ya nggak nangis lagi,” kenang Indah sambil tertawa.

Rio memulai karier balap di benua Asia pada 2008. Dia ikut dalam Asian Formula Renault Challenge, Formula Asia 2.0, dan Formula BMW Pacific. Rio menjadi yang tercepat dalam seri 2.0 FAsia.

Tahun berikutnya, Rio kembali berkompetisi dalam berbagai seri, termasuk Australian Drivers Championship dan Asian Formula Renault Challenge. Pada kejuaraan Formula BMW Pacific, dia mendominasi dengan 11 kemenangan dari 15 balapan.

Rio kemudian balapan di ajang GP3 bersama tim Manor Racing. Pada 2012 dia mulai balapan di ajang GP2 bersama tim Carlin. Saat itu juga, Rio berkesempatan menjajal mobil F1 milik Marussia F1 Team sebanyak 79 lap di Sirkuit Silverstone, Inggris.

Uji coba ini menjadikan Rio sebagai orang Indonesia pertama yang memenuhi syarat mendapatkan FIA superlisence, syarat yang wajib dimiliki calon pembalap F1. Rio berada di ajang GP2 hingga tahun 2015.
***

Seperti kebanyakan pendatang. Rio semula diremehkan. Bahkan dia tak masuk hitungan saat mengikuti balapan perdana GP3 di sirkuit Speed Park, Istanbul, Turki. Pada lomba 30 Mei 2010 itu, nama Rio tenggelam di bawah pembalap semacam Miki Monras dan Alexander Rossi.

Tapi Rio memberi jawaban. Mobil nomor 8 yang dia tunggangi dipacu kencang-kencang. Pedal gas terus ditancap. Sekejap, si merah hitam menjadi terdepan. Rio diburu belasan lawan dari belakang. Ketat. Namun tak terkejar hingga finish.

Kala itu, sebagian penonton dirubung rasa penasaran. Bertanya, siapa gerangan nama sang juara. Teka-teki itu baru terjawab setelah panitia menyebut pembalap tim Manor Racing yang finish pertama. Dialah Rio Haryanto dari Indonesia. Semua terperangah!

Kisah unik juga tersaji di belakang podium. Kesibukan terjadi. Panitia tegang. Mereka hilir mudik. Mencari bendera untuk prosesi penobatan jawara. Ternyata tak ada Merah Putih di sana. Begitu pula lagu Indonesia Raya. Penyelenggara kelabakan. Pengukuhan juara tertunda.

Beruntung, ada bendera Polandia. Si Putih Merah. Panji itu pun dibalik. Menjadi Merah Putih. Bendera itulah yang dikerek di podium. Tanpa alunan instrumen lagu kebangsaan. Dari ribuan manusia yang menyemut di sirkuit itu, hanya Rio yang melantunkan lagu kebangsaan, mengiringi pengibaran bendera. Sendirian.

“ Panitia tidak mempersiapkan diri. Mungkin karena tidak ada ekspektasi dari panitia untuk Indonesia sebagai juara,” tutur Rio mengenang balapan di Turki itu.

“ Tetapi, mulai dari situ saya dilihat. Saya ingin terus menunjukkan ada orang Indonesia yang cukup spesial dan berbakat untuk bisa memenangkan balapan. Setelah itu, saya masih terus juara.” Rio memang kejutan!

Dan benar saja. Setelah lomba di Turki, Rio beberapa kali naik podium. Rio mampu naik podium. Mengharumkan Indonesia di pentas internasional. Namanya mulai diperhitungkan. Kini, dia bersiap adu cepat di ajang F1.

***
Indonesia tak cuma Rio. Masih banyak lagi bakat muda di negeri ini. Jangan sebut bulutangkis yang sudah melahirkan puluhan bintang. Bakat-bakat Indonesia mulai muncul di berbagai bidang olahraga, mulai sepak bola hingga balap sepeda.

Sebut saja Evan Dimas Darmono. Arek Suroboyo ini tengah berada di Spanyol. Di negeri para Matador itu, pemain klub Surabaya United itu tengah menjalani trial selama enam bulan di Espanyol. Jika penampilannya bagus, dia akan mendapat kontrak bermain di La Liga.

Sama seperti Rio. Perjalanan Evan Dimas di lapangan hijau penuh liku. Dia lahir dari keluarga pas-pasan. Sehingga, tak disokong fasilitas lengkap. Sepatu bola pertama pun dibeli dari hasil sang ibu jualan sayur keliling.

Evan Dimas tumbuh dari lapangan kampung. Bakatnya dipantau oleh klub Persebaya Surabaya. Bakat luar biasa membawa dia kamp pelatihan raksasa sepak bola Spanyol, Barcelona.

Kemampuan menonjol Evan Dimas diendus petinggi sepak bola tanah air. Dia ditarik ke dalam skuad Timnas U-19. Didaulat menjadi kapten tim, sukses merengkuh gelar juara Piala AFF setelah mengalahkan Korea Selatan. Pada 2013 itu, Evan Dimas juga menjadi pencetak gol terbanyak.

Tak hanya di lapangan hijau. Di lintasan balap sepeda ada nama Muhammad Ketut Purnomo. Pemuda asal Surabaya ini kini tengah merintis karier sebagai pembalap sepeda di Eropa.

Ketut semula hanyalah pengamen jalanan. Karier sebagai pembalap sepeda dimulai berkat cerita sang teman yang terjaring razia Pemkot Surabaya. Sang teman berkisah, di panti sosial terdapat banyak fasilitas olah raga.

Kebanyakan anak jalanan alergi mendengar panti sosial. Tapi tidak bagi Ketut. Dia justru mendatangi tempat yang dihindari oleh kawan-kawannya. Masuk ke Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Dinas Sosial Pemkot Surabaya.

Di sanalah dia mendapat guru. Jamhari. Di tangan sang pelatih inilah Ketut berubah menjadi pembalap andal. Sejumlah kejuaraan nasional dia ikuti. Sebagian dia menangkan. Dan kini, sejumlah kejuaraan internasional telah menunggunya. Mulai Maret hingga akhir tahun ini.

Rio, Evan, dan Ketut, merupakan bakat-bakat muda Indonesia yang perlu disokong. Pemuda-pemuda semacam inilah yang kelak mengharumkan nama bangsa di ajang dunia. Selamat berjuang!

Beri Komentar