Kena PHK, Kakek Kayuh Sepeda Berhari-hari untuk Pulang Kampung

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Senin, 27 April 2020 09:01
Kena PHK, Kakek Kayuh Sepeda Berhari-hari untuk Pulang Kampung
Kakek itu sudah tidak punya uang.

Dream - Pandemi virus corona di sejumlah negara banyak menyisakan kisah pilu. Tak hanya mereka yang sakit ataupun meninggal namun juga mereka yang kesulitan ekonomi.

Tidak sedikit orang kehilangan pekerjaan akibat Covid-19. Perusahaan tempat mereka bekerja memberlakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena bisnisnya sudah tak bisa lagi mendatangkan pemasukan.

Pengalaman pilu inilah yang dialami seorang kakek asal Thailand. Dia usia senjanya, dia harus mengayuh sepeda ratusan kilometer untuk pulang kampung.

Kakek tersebut bekerja sebagai tenaga keamanan. Dia menjadi salah satu korban PHK.

 

1 dari 6 halaman

Kelelahan Kayuh Sepeda

Dilaporkan borakdaily, sebuah unggahan asal Thailand viral dan menjadi perbincangan publik. Unggahan tersebut menunjukkan seorang kakek yang sedang menaiki sepeda menuju kampung halamannya lantaran terkena PHK.

Dia terlihat membawa sebuah tas. Sesekali kakek itu terlihat mendorong sepedanya karena kelelahan.

Seorang yang bertemu dengannya di jalan membantu kakek itu dengan sekadar memberikan makanan dan membagikan kisahnya lewat Facebook. Unggahannya kini sudah dibagikan lebih dari 25 ribu kali.

 

2 dari 6 halaman

Kampungnya Masih Jauh

Momen pertemuan itu terjadi di Provinsi Rayong, sementara kampung halaman si kakek di Provinsi Ubon Ratchathani. Butuh waktu berhari-hari untuk bisa sampai ke kampung halaman kakek tersebut.

Sebelum dipecat, kakek tersebut bekerja sebagai seorang penjaga keamanan di sebuah kantor perusahaan yang ada di Thailand. Terlihat, kakek itu masih mengenakan seragam kerjanya saat menaiki sepedanya.

Selain menjelaskan baru saja dipecat dan ingin pulang kampung, kakek itu mengaku punya masalah kesehatan, tepatnya pada penglihatannya. Dia tampak kelelahan saat menuntun sepedanya.

Kakek itu juga tidak mempunyai uang untuk mengobati matanya. Bahkan untuk melanjutkan hidup saja dia dibantu orang-orang sekitar dengan memberikan sebungkus nasi.

Sumber: 

3 dari 6 halaman

Tragis Perawat Meninggal Saat Isolasi Karena Nomor Panggilan Darurat Tak Dijawab

Dream- Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mengingatkan pentingnya peran perawat sebagai garis depan dalam perawatan pasien COVID-19. Hal ini mereka sampaikan dalam kampanye terkait Hari Kesehatan Sedunia pada 7 April 2020 lalu.

WHO juga menyoroti bagaimana para perawat di seluruh dunia saat ini berada di garis depan dalam penanganan pasien, dengan menunjukkan keberanian mereka melawan COVID-19.

Sudah banyak perawat dan tenaga medis yang kehilangan nyawa karena mengurus para pasien Covid-19 dengan perlengkapan seadaanya. Kisahnya memunculkan beragam keharuan bahkan memancing emosional.

Dilansir dari laman Metro, kisah tragis datang dari seorang perawat Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) yang meninggal di ruang isolasi setelah panggilan darurat ke nomor darurat, 111, tidak dijawab. Polisi menemukan tubuh perawat kemoterapi, Donald Suelto, telah meninggal di kamar apartementnya. Saat itu, Suelto harus isolasi mandiri setelah muncul dugaan gejala covid-19.

Tenaga medis Filipina, yang bekerja di Rumah Sakit Hammersmith di London barat ini, sebelumnya telah diberitahu untuk menelepon panggilan darurat  NHS 111 ketika kondisinya memburuk, tetapi ia mendapat kenyataan yang sebaliknya. Ketika Suelto sangat memerlukan bantuan, tak ada yang menjawab panggilan teleponnya.

4 dari 6 halaman

Saya Rasa Saya Tidak Bisa Melawan Virus Ini, ungkap Suelto

Pria 51 tahun ini sebelumnya, telah memberi tahu ibunya yang sudah lanjut usia di Filipina bahwa ia merasa tak sanggup melawan virus covid-19 yang menyerang paru-parunya.

 " Saya rasa saya tidak bisa melawan virus ini. Ini seperti pisau yang menusuk seluruh tubuh saya," kata Suelto. Sebelumnya, Suelto sempat mengeluh tentang kurangnya Alat Pelindung Diri (APD).

Keponakannya, Emylene Suelto-Robertson, mengatakan, " Sangat tragis. Dia disuruh menelpon panggilan darurat 111 tetapi salurannya sangat sibuk. Sehingga dia tidak tertolong,” katanya.

Polisi menemukan Suelto terbujur kaku di kediamannya, London pada 7 April 2020.

 

5 dari 6 halaman

Sempat Memberitahu Rekannya

 Donald Suelto© Sumber (foto/metro)

Suelto juga diketahui telah mengirimkan pesan kepada rekan-rekannya pada 5 April. Ia mengatakan sedang benar-benar berjuang melawan Covid-19. Suelto juga tengah menderita asma dan sempat curhat kepada Emylene mengenai kekhawatirannya terhadap Covid-19 setelah ia merawat pasien batuk dengan suhu tinggi.

Namun, tak disangka Suelto meninggal dunia setelah berulang kali menghubungi telepon darurat. Kisahnya pun membuat para petugas medis lainnya menyayangkan kejadian tersebut.

6 dari 6 halaman

Pengabdian Suelto di NHS

Suelto telah menghabiskan 18 tahun untuk mengabdi sebagai perawat NHS. Kondisi yang sedang terjadi saat ini Rumah Sakit tempatnya bekerja, kehabisan APD sehingga Suelto tidak terlindungi dengan baik.

“ Dia mengatakan bahwa dia belum diberi APD dan manajernya terus mengatakan kepadanya bahwa mereka kekurangan APD,” ungkap Emylene. 

Seorang juru bicara untuk Imperial College Healthcare NHS mengatakan," Kami sangat sedih dengan kematian Donald Suelto dan ucapan belasungkawa kami kepada keluarga, teman dan kolega di saat yang sulit ini. Kami secara ketat mengikuti panduan nasional tentang penggunaan peralatan perlindungan diri.Tapi Suelto tidak bekerja di area pasien Covid-19.” 

Namun menurut laman Metro, NHS tak mau berkomentar setelah Departemen Kesehatan mengatakan panggilan ke layanan NHS 111 telah meningkat sampai 120.000 panggilan tambahan.

(Sah, Metro.co.uk)

Beri Komentar