Jadi Biang Macet, Batas Jalan di Kolong Flyover Jalan Satrio Dibongkar Warga

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 6 Desember 2019 08:36
Jadi Biang Macet, Batas Jalan di Kolong Flyover Jalan Satrio Dibongkar Warga
Lokasi ini pernah membuat Presiden Joko Widodo terjebak macet.

Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah mengeluh terjebak macet di Jalan Satrio, Jakarta Selatan pada 28 November 2019. Diduga penyebab kemacetan tersebut yaitu Dishub DKI Jakarta yang sedang menguji coba pengalihan arus dengan harapan memperlancar arus lalu lintas dari arah Jalan Jenderal Sudirman menuju Jalan Satrio-Kuningan yang mulai diberlakukan kemarin.

Untuk mengurai kemacetan tersebut, sejumlah pengemudi bermotor nekat menjebol blokade jalan yang terbuat dari beton.

Video tersebut diunggah akun Jakarta Info. Dari video yang beredar tersebut tampak sejumlah pengemudi ojek online menyingkirkan blokade.

Dilaporkan Liputan6.com, seorang warga Tama Bayu mengaku tak tahu persis kapan blokade tersebut dibongkar. Dia memastikan tidak melihat adanya aparat kepolisian di sekitar lokasi.

"Polisi enggak ada saya lihat, malah mobil sekarang sudah bisa muter di situ," kata Tama.

Sebagai pengguna jalan tersebut, Tama mengamini kebijakan Dishub DKI membuat ruas kemacetan mengular yang luar biasa, khususnya di pagi dan sore hari.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Syafrin Liputo mengatakan, kebijakan itu telah dipertimbangkan dengan masak guna mengantisipasi kemacetan yang lebih parah lagi akibat revitalisasi trotoar di sekirar ruas jalan tersebut.

"Kami rekayasa lalu lintas untuk memperlancar di titik itu, ini kami uji coba sampai kami evaluasi," ujar Kepala Dinas Perhubungan DKI, Syafrin Liputo.

Akibat kebijakan baru tersebut, kendaraan yang bermaksud berputar di ruas Jalan Satrio, saat ini diharuskan lurus dan naik Flyover Satrio, baru berputar di utara TPU Karet Bivak, dan naik kembali ke Flyover Satrio.

1 dari 5 halaman

Jokowi Ngaku Terjebak Macet 30 Menit di Kuningan, Gubernur Anies: Saya Cek Dulu

Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku terjebak macet saat berada di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis, 28 November 2019. Saat itu, Jokowi hendak menghadiri pertemuan dengan Bank Indonesia di Lotte Avenue, Kuningan, Jakarta Selatan

" Tadi ke sini macet, 30 menit berhenti," kata Jokowi, dilaporkan Liputan6.com, Jumat, 29 November 2019.

Jokowi mengaitkan kondisi jalanan Jakarta yang macet itu dengan keinginannya memindahkan Ibu Kota Negara ke Kalimantan Timur.

" Itulah kenapa Ibu Kota dipindah," kata Jokowi.

2 dari 5 halaman

Gubernur Anies Baswedan: Saya Cek Dulu

Meski demikian, Jokowi menegaskan kemacetan bukan hal utama perpindahan Ibu Kota negara tersebut. " Dan karena alasan yang banyak lainnya," ucap dia.

Mendengar aduan Jokowi, Gubernur DKI Jakarta enggan berspekulasi. Dia ingin mencari tahu lokasi Jokowi terjebak macet.

" Nanti saya cek dulu ya, persisnya titiknya," kata Anies.

Anies mengakui, beberapa jalanan Jakarta memang memiliki titik kemacetan. " Saya cek dulu apakah benar karena itu atau tidak. Jadi insiden-insiden begitu sering terjadi tuh. 1-2 ruas jalan yang macet, tapi saya cek dulu, baru saya kasih keterangan," ujar dia.

3 dari 5 halaman

Helikopter, Cara Miliarder Atasi Kemacetan Jakarta

Dream – Banyak orang Jakarta yang berjam-jam berada di jalanan yang macet. Tak jarang, mereka bertanya-tanya tentang solusi untuk mengatasi kemacetan di ibu kota ini.

Ada satu solusi yang bisa mengatasi peliknya kemacetan ibu kota, yaitu helikopter.

Dilansir dari The Guardian, orang-orang super kaya bisa menggunakan alat transportasi ini untuk bepergian ke bandara, lanjut ke rapat di kantor, bahkan ke rumah sakit untuk berkunjung ke dokter. Dengan helikopter, mereka sama sekali tidak menyentuh jalan raya yang macet.

Di Indonesia, ada satu perusahaan konglomerasi terbesar yang pertama kali menggunakan helikopter sebagai “ mobil” petinggi perusahaan, yaitu Lippo Group. Kendaraan ini digunakan sebagai transportasi para eksekutif grup itu sejak tahun 1997.

Kini, perusahaan tersebut menerbangkan enam unit helikopter untuk melayani para petingginya. Dengan helikopter, waktu tempuh untuk berkendara di jantung kota Jakarta yang semula dua jam, bisa dipangkas menjadi 12 menit.

Muliawan Sutanto —seorang financial adviser untuk divisi penerbangan di grup, Air Pacific, menjelaskan, ada tiga unit helikopter yang berjaga-jaga untuk pimpinan Lippo Group. Helikopter ini juga digunakan untuk evakuasi medis di mana setiap orang harus merogoh kocek US$1.500 atau Rp19,99 juta untuk setiap kali penerbangan privat dengan helikopter (atau biasa disebut helimousine).

4 dari 5 halaman

Helikopter Kurang Infrastruktur?

Di Jakarta, harapan bepergian dengan jarak waktu singkat pun seakan mengecil. Sebuah studi menyebutkan bahwa seorang pengendara menghabiskan sepertiga waktu mereka untuk bermacet-macetan di jalan raya.

Transportasi publik di Ibukota terbilang tidak efisien. Transportasi publik seperti mass rapid transit (MRT) pun baru terbangun setelah direncanakan sepuluh tahun silam. Dalam pembangunannya, konstruksi infrastruktur MRT mengeblok lalu lintas di jalan utama.

Helikopter pun ternyata juga memerlukan infrastruktur. “ Di Jakarta ada 60 helipad, tapi mayoritas mereka tidak memiliki sertifikat untuk pendaratan,” kata Sutanto.

Dia mengatakan ada delapan yang mendapatkan sertifikat dan enam di antaranya dimiliki oleh Lippo Group.

Dia mengatakan, operasional helipad itu memerlukan perawatan dan repainting terus-menerus. Jika ingin digunakan pada malam hari, infrastruktur helikopter ini harus dipasang alat navigasi yang terbilang mahal.

5 dari 5 halaman

Berharap Bisnis Taksi Helikopter Berkembang

Sutanto mengatakan, ada potensi pasar yang bagus di Jakarta untuk bisnis ini. Sebuah perusahaan transportasi berbasis aplikasi, Uber, telah merilis penerbangan dengan helikopter dari New York ke Sao Paolo.

Uber juga menawarkan perjalanan gratis di Jakarta dengan helikopter pada tahun lalu. Mereka bekerja sama dengan provider lokal, Premi Air. Tapi, rencana kerja samanya belum dibuat.

Sutanto mengatakan, beberapa penerbangan Air Pacific ini dibatalkan karena perlambatan ekonomi seiring dengan penurunan harga minyak dunia. Perlambatan minyak dunia pun membuat klien memangkas biaya operasional dengan kendaraan ini.

“ Sebuah perusahaan pertambangan yang bekerja dengan kami, menghentikan kerja sama dan menganggapnya sebagai pengeluaran tidak perlu,” kata dia.

Sutanto mengatakan beberapa perusahaan serupa juga membuka bisnis yang sama, tapi ternyata permintaan bisnisnya bukan di Jakarta. Kini, kata dia, Lippo membuka akses gratis ke helipad yang ada di rooftop bangunan, tujuannya untuk menggenjot bisnis penerbangan privat ini.

“ Orang-orang di Indonesia enggan membayar. Mereka memiliki untuk duduk di mobil selama berjam-jam. Tapi, (kebiasaan) ini akan berubah. Lalu lintas akan menjadi lebih buruk,” kata dia. (eko) [crosslink_2]

Beri Komentar
Potret Aktifitas Prisia Nasution Saat Jelajahi Alam