7% Pasien Covid-19 di Wisma Atlet Ternyata Tak Pernah Keluar Rumah

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 22 September 2020 17:01
7% Pasien Covid-19 di Wisma Atlet Ternyata Tak Pernah Keluar Rumah
Pasien tersebut diduga tertular dari anggota keluarganya sering keluar rumah.

Dream - Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo, mengungkap data cukup mengejutkan terkait pasien positif yang dirawat di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat. Sebanyak 7 persen dari total pasien tidak memiliki riwayat keluar rumah selama masa pandemi Covid-19.

" Data dari pasien Wisma Atlet beberapa minggu lalu dilakukan survei terdapat 7 persen mereka yang dirawat adalah orang yang tidak pernah keluar rumah," ujar Doni, dikutip dari Merdeka.com.

Menurut Doni, para pasien itu kemungkinan tertular dari anggota keluarganya yang sering keluar rumah. Dari fenomena tersebut, Doni mengimbau masyarakat untuk waspada dan hati-hati.

" Jadi bagi mereka tetap di rumah harus waspada, harus hati-hati, karena apabila ada anggota keluarga yang sering keluar rumah dan tidak memperhatikan protokol kesehatan di rumah maka bisa menulari saudara yang lain," kata Doni.

 

1 dari 5 halaman

Bahaya Bagi Kelompok Rentan

Doni juga mengingatkan tentang rentannya orang lanjut usia terhadap Covid-19. Apalagi jika punya penyakit penyerta atau komorbid.

Mengutip dari RS Persahabatan, kematian pasien Covid-19 dipicu gejala berat dan kondisi kritis. Potensi kematian semakin tinggi jika pasien memiliki komorbid.

Sehingga, perlu ada pemisahan kelompok rentan dengan kaum muda yang berpotensi menjadi pembawa (carrier) virus.

" Inilah yang harus kita ingatkan kepada masyarakat bahwa kelompok komorbid harus dipisahkan dari kelompok muda yang aktif bekerja, yang bisa saja terpapar Covid-19 tapi tidak mengalami gejala apa saja," kata Doni.

Sumber: Liputan6.com/Ahda Bayhaqi.

2 dari 5 halaman

Satgas Penanganan Covid-19: Tenaga Kesehatan Mulai Menipis dan Kelelahan

Dream - Kepala Bidang Koordinator Relawan Medis Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Jossep F William, mengatakan, banyak tenaga medis serta relawan yang kelelahan karena harus selalu siap siaga menangani pasien. Jossep mengatakan, jumlah tenaga medis terus berkurang, bahkan mulai habis.

" Banyak tenaga medis yang kelelahan. Mereka harus selalu disiagakan dalam memberikan pelayanan pasien. Jumlah tenaga medis jadi berkurang bahkan mulai habis," ujar Jossep dalam diskusi BNPB, Senin 21 September 2020.

Jossep menyebutkan, saat ini jumlah perawat dan bidan masih cukup tersedia, yakni sekitar 2.000 orang. Namun, jumlah ketersediaan dokter berkurang.

3 dari 5 halaman

Menurut Jossep, salah satu opsi mengatasi kekurangan jumlah dokter yang harus ditempuh Satgas adalah dengan menambah jumlah dokter internship. Namun, mereka juga harus tetap didampingi dokter yang sudah berpengalaman.

Oleh karena itu, Satgas Penanganan Covid-19 telah berkomunikasi dengan organisasi profesi, baik dokter maupun perawat agar bisa menambah jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang dikirim untuk penanganan pasien Covid-19.

“ Kami Bekerja sama dengan organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan lainnya untuk menyiapkan tenaga yang dibutuhkan di RS darurat,” katanya.

4 dari 5 halaman

Komitmen Mengutamakan Kesehatan Relawan

Jossep berkomitmen mengutamakan kesehatan relawan. Menurutnya para relawan harus tetap bergembira dan tenang dalam mengatasi setiap situasi. Ia menyediakan ruang curhat bagi para relawan, agar mereka tetap bahagia, tidak memendam bebannya sendiri, sehingga daya tahan tubuhnya tidak turun.

" Kita mengajak tim pekerja sosial untuk mengatasi kesepian para relawan dengan membuka ruang curhat, hal ini untuk membuat mereka tetap bahagia dan sehat," ujarnya.

5 dari 5 halaman

Khawatir Terhadap Petugas Ambulans

Penambahan jumlah kasus yang semakin tinggi, kata dia, bukan hanya berdampak terhadap pekerjaan para tenaga medis saja. Melainkan pekerjaan para petugas ambulans, dan semua unsur yang melayani pasien Covid-19 di RSD Wisma Atlet.

“ Tenaga medis seminggu terakhir ini sangat sibuk. Ambulans hampir setiap hari juga sibuk dan penuh sekali. Ambulans yang mentransfer mereka yang positif di Wisma Atlet, kami berlakukan antrean. Sehingga tidak bisa langsung menjemput para pasien,” jelas Jossep.

Untuk itu, ia berharap masyarakat bisa bekerja sama membantu semua unsur pelayanan kesehatan, dengan cara menerapkan protokol kesehatan. Sehingga, mereka tidak harus bekerja super ekstra yang bisa berdampak pada kesehatan bahkan nyawanya.

Sumber: Merdeka.com

Beri Komentar