Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© MEN
Dream - Baru-baru ini, ilmuwan dari China dan Amerika menemukan penelitian terbaru bahwa manusia mungkin tidak pernah memiliki kekebalan atau imunitas terhadap Covid-19.
Kesimpulan mereka didasarkan pada penelitian yang dilakukna pada pekerja rumah sakit di Wuhan yang secara langsung terpapar oleh pasien --yang terinfeksi pada tahap awal wabah-- telah memiliki antibodi ini.
Setidaknya seperempat dari lebih dari 23.000 sampel yang diuji bisa terinfeksi virus pada tahap tertentu, menurut para ilmuwan. Tetapi hanya 4 persen yang berhasil mengembangkan atau memiliki antibodi pada April.
" Orang-orang tidak mungkin menghasilkan antibodi pelindung jangka panjang terhadap virus ini," demikian kesimpulan para peneliti dalam makalah non-peer-review yang diunggah di situs pracetak medRxiv.org sebagaimana dikutip dari South China Morning Post, Kamis 18 Juni 2020.
Para peneliti melakukan tes antibodi pada sampel pekerja rumah sakit yang terpapar pada tahap awal wabah. Hanya 4 persen dari 23.000 sampel yang memiliki antibodi.
Banyak ilmuwan yang berasumsi upaya untuk memerangi pandemi yakni asumsi bahwa orang yang telah terkena COVI-19 akan menghasilkan antibodi yang akan melindungi diri agar tak tertular lagi.
Asumsi tersebut dipertimbangkan oleh banyak negara. Lebih dari 100 vaksin potensial sedang dalam masa pengembangan dan pasien yang telah pulih didorong untuk mendonorkan darahnya untuk obat serta terapi eksperimental.
Namun penelitian terbaru di Wuhan menunjukkan tidak semua orang yang terinfeksi dapat memproduksi antibodi atau antibodi yang bertahan lama.
Antibodi merupakan molekul yang dihasilkan oleh sistem kekebalan untuk mengikat protein lonjakan virus dan menghentikannya dari menginfeksi sel lain. Beberapa antibodi seperti immunoglobulin G, atau IgG, dapat bertahan dalam sistem antibodi untuk waktu yang lama - telah ditemukan pada pasien SARS parah yakni 12 tahun setelah mereka terinfeksi.
Dipimpin oleh Wang Xinhuan dari Rumah Sakit Zhongnan Universitas Wuhan, dan ilmuwan dari Universitas Texas Galveston AS, riset ini meneliti sampel dari pekerja kesehatan dan staf umum rumah sakit di kota Wuhan.
Mereka menemukan, 4 persen dari pekerja perawatan kesehatan dan 4,6 persen dari staf rumah sakit umum memiliki antibodi IgG.
Penelitian sebelumnya menemukan 2,5 persen dari karyawan rumah sakit di Wuhan terinfeksi Covid-19 selama wabah pertama, tetapi telah diperkirakan bahwa proporsi sebenarnya dari penyebaran infeksi di antara kelompok ini dapat mencapai 25 persen.
Pasien dengan infeksi yang terkonfirmasi, dimana gejalanya biasanya lebih jelas, cenderung menghasilkan lebih banyak antibodi, menurut para peneliti. Sebuah penelitian menemukan semua kasus yang dikonfirmasi telah mengembangkan antibodi IgG dua pekan setelah terkena penyakit.
Tim Wang juga memperkirakan lebih dari 10 persen orang dalam penelitian mereka mungkin kehilangan perlindungan antibodi dalam waktu kurang lebih sebulan.
" Temuan kami memiliki implikasi penting untuk kekebalan komunitas (herd immunity), terapi berbasis antibodi, strategi kesehatan masyarakat, dan pengembangan vaksin," jelas mereka.
Berdasarkan hasil penelitian Tim Wang, tes antibodi mungkin tidak cukup untuk mengetahui apakah seseorang telah terinfeksi dan keberadaan antibodi seperti IgG belum tentu dapat memberikan kekebalan.
Sementara itu, penelitian terpisah oleh tim di Universitas Tsinghua di Beijing menunjukkan bahwa semakin banyak antibodi yang diproduksi oleh pasien Covid-19, semakin buruk hasilnya - pasien dengan respons antibodi terkuat dalam penelitian mereka meninggal.
Mereka menunjuk sebuah fenomena yang dikenal sebagai peningkatan yang tergantung pada antibodi, di mana virus “ mencari tumpangan” pada antibodi untuk menginfeksi sel yang tidak bisa mereka masuki.
Wang mengatakan itu adalah " masalah besar untuk diawasi secara ketat" .
Tetapi Wu Yingsong, direktur penelitian rekayasa antibodi di Southern Medical University di Guangzhou, mengatakan penelitian Wuhan ini harus ditanggapi dengan hati-hati. Dia mencatat sebagian besar tes antibodi hanya memeriksa beberapa antibodi untuk menghemat waktu dan biaya - dan itu bisa berarti hasil yang salah.
" Masih ada banyak hal mendasar tentang virus corona yang tidak kita mengerti," pungkasnya.
Sumber: Merdeka.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya