Melihat Kampung Teraman Dunia: No Medsos, Zero Criminal

Reporter : Arini Saadah
Jumat, 21 Agustus 2020 17:03
Melihat Kampung Teraman Dunia: No Medsos, Zero Criminal
Orang bekerja tanpa bayaran dan nihil tindakan kriminal.

Dream – Sebuah kampung di Inggris ini menjadi kampung paling aman di dunia. Sebuah desa kecil di wilayah Sussex, Inggris, ini menyediakan semua fasilitas, orang bekerja tanpa bayaran hingga tak ada tindakan kriminal di tempat ini.

Penduduk setempat bekerja namun tidak mendapatkan upah. Anak-anak di kampung itu tidak memiliki akses untuk menonton TV maupun ke media sosial.

Bagaimana bisa kampung di Inggris itu bisa dikategorikan kampung paling aman di dunia? Apakah terbatasnya akses ke media sosial dan TV membuat anak-anak dan masyarakat di sana hidup dengan aman dan damai?

Dilansir dari Daily Star, berikut Dream rangkum informasi selengkapnya tentang kampung paling aman di dunia, orang bekerja tanpa bayaran dan nihil tindakan kriminal.

1 dari 5 halaman

Kampung Bebas Kejahatan

Ilustrasi© BBC/CTVC/Toby Lloyd/via Daily Star

Penduduk yang tinggal di kampung Darvell, Robertsbridge, Sussex, Inggris ini mengikuti aturan tertentu yang membantu kampung di Sussex itu menjadi zona bebas dari kejahatan dan gelandangan.

Sebuah komunitas Bruderhof merupakan komunitas pribadi yang dikenal menjalankan hidup yang sederhana. Komunitas itu menyediakan semua fasilitas untuk kebutuhan para penduduk.

Sebanyak 55 keluarga di kampung itu tinggal bersama secara harmonis tanpa konflik apapun. Para warga di kampung ini dengan bebas bisa mendapatkan semua barang yang dibutuhkan dari komunitas Bruderhof.

2 dari 5 halaman

Semua Kebutuhan Disediakan

Ilustrasi© BBC/CTVC/Danny Burrows/via Daily Star

Semua kebutuhan disediakan dengan kerjasama antar warga. Meskipun penduduk bekerja menghidupi komunitas Bruderhof, namun mereka tidak menerima bayaran sepeser pun karena semua fasilitas dan kebutuhan memang disediakan untuk masyarakat. Istilah demokratisnya ‘dari masyarakat untuk masyarakat’.

Setiap warga juga diperbolehkan bekerja di lading, di sekolah, di dapur, dan memproduksi pakaian. Sebanyak 300 warga di kampung itu hidup dengan pemahaman spiritual yang tinggi, menghamba kepada Tuhan kepercayaan mereka.

Mereka yakin bahwa cara hidup sederhana yang dilakukan adalah untuk mengikuti ajaran kepercayaan agama mereka.  

3 dari 5 halaman

Ada Aturan Tertentu

Ilustrasi© BBC/CTVC/Toby Lloyd/via Daily Star

Kampung paling aman di dunia ini sudah menjalankan cara hidup semacam itu sudah hampir 50 tahun, namun pergerakannya sudah berusia sekitar satu abad. Komunitas Bruderhof memiliki hampir 300 anggota di 23 pemukiman di seluruh dunia.

Banyak aturan yang perlu dipatuhi oleh para anggota komunitas seperti dilarang menjalin hubungan sesame jenis, dan aturan berpakaian yang ketat.

Sebelum individu memutuskan untuk menjadi anggota kampung tersebut adalah warga yang sudah berusia 21 tahun, sehingga mereka berkesempatan mempelajari dan merasakan hidup di masyarakat arus utama.

4 dari 5 halaman

Cerita Anggota Komunitas

Ilustrasi© BBC/CTVC/Toby Lloyd/via Daily Star

Gambaran kehidupan kampung paling aman di dunia ini terekam dalam sebuah film documenter berjudul Inside the Bruderhof.

Film ini bercerita tentang seorang gadis berusia 18 tahun bernama Hannah yang pergi ke London untuk merasakan dunia luar sebelum akhirnya memutuskan meninggalkan semua itu untuk menjadi anggota di komunitas Bruderhof.

Ia meninggalkan keluarganya dan hingar bingar kehidupan luar untuk bergabung dengan komunitas itu. Mulanya ia melalui berbagai tantangan hidup, mulai dari kenyamanan hingga kebebasannya. Namun akhirnya ia menemukan jati dirinya dalam komunitas tersebut.

Selain itu, juga diceritakan seorang lelaki bernama Hardy, seorang anggota komunitas, namun sempat meninggalkan kampung tersebut dan menikmati kebebasan di dunia luar. Tapi akhirnya dia kembali dengan segala pengorbanan ambisi, cita-cita, dan karirnya, hingga menemukan kedamaian di kampung paling damai itu.

“ Saya mencari pengalaman di luar Bruderhof. Hampir semua anak muda yang tumbuh di Bruderhof mendapat kesempatan untuk melakukan hal ini. Lalu saya merindukan orang tuda dan teman-teman saya di Bruderhof. Di sana saya memiliki banyak orang untuk diajak bercerita, sementara di London saya tidak mendapatkan itu semua,” ucap Hannah.

5 dari 5 halaman

Berbagi Pengalaman

Ia melanjutkan beberapa orang mengira bahwa tinggal di kampung Bruderhof itu tidak enak. Ia mengaku sebaliknya, justru di kampung inilah ia memiliki banyak kesempatan untuk bepergian, bergaul dengan orang dari budaya dan latar belakang berbeda.

“ Bertemu orang-orang dengan keyakinan dan pengalaman yang berbeda. Tumbuh di Bruderhof tidak membuat kita anti sosial. Faktanya, kita bisa tumbuh dengan nilai-nilai kehidupan yang lebih baik, dan juga mempelajari skill kehidupan.

“ Saya hidup rukun dengan tetangga, mereka sangat tertarik dengan latar belakang saya. Itu adalah pengalaman yang sangat baik, dan saya bahagia bisa melakukan itu,” ucap Hannah.

Ia kembali ke kampung Bruderhof setelah setahun lamanya menetap di London. Saat ini ia menjadi pengajar di salah satu universitas di New York dan tinggal bersama komunitas Bruderhof di sana.

 

 

Beri Komentar