Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Mushaf Alquran Palembang Cetakan 1848 (kemenag.go.id)
Dream - Mushaf Alquran standar yang banyak digunakan di Indonesia punya catatan sejarah cukup panjang. Bermula dari tulisan tangan kemudian berkembang dalam bentuk cetakan typografi dan litografi hingga cetakan modern seperti sekarang ini.
Peneliti Lajnah Pentashihan Mushaf Quran (LPMQ) Kementerian Agama, Abdul Hakim, mengatakan, mushaf Alquran asli Indonesia pertama kali ditulis oleh seorang ulama asal Palembang pada abad ke-19. Mushaf tersebut memuat catatan mengenai tanggal pencetakan yaitu pada 20 Agustus 1848.
" Khottot (penulis) Alquran ini adalah Haji Muhammad Azhari bin Kemas Haji Abdullah di Kampung Tiga Ulu Palembang," ujar Hakim, dikutip dari kemenag.go.id, Kamis 16 November 2017.

Mushaf Alquran Palembang (kemenag.go.id)
Mushaf Palembang ini dicetak ulang pada 1854. Mushaf tersebut kemudian disebarkan ke seluruh Nusantara kala itu.
" Alquran Palembang ini diduga merupakan Alquran cetak tertua di Asia Tenggara, bahkan salah satu cetak tertua di dunia," ucap Hakim.
Selanjutnya, Hakim mengatakan Mushaf Palembang banyak digunakan oleh umat Islam Nusantara dalam kurun waktu akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Di sela periode itu, mushaf cetakan negara lain banyak masuk ke Nusantara.
Beberapa contohnya seperti Mushaf Alquran Singapura yang masuk ke Indonesia sekitar tahun 1868. Kemudian ada Mushaf Istanbul Turki yang beredar di Nusantara dengan angka tahun cetak 1881, juga Mushaf India yang dicetak pada 1885.
Di awal abad ke-20, kata Hakim, di Indonesia mulai bermunculan sejumlah percetakan. Sebagian dari mereka juga mencetak Alquran.
" Antara lain Maktabah Al Misriyah Abdullah Afif Cirebon tahun 1933, Matba'ah Islamiyah di Bukittinggi pada 1933, penerbit Visser & Co pada 1934, dan TB Abd Sitti Sjamsijah Solo. Keempat penerbit ini yang mewarnai permushafan pra kemerdekaan," ucap Hakim.

Mushaf Alquran Cirebon (kemenag.go.id)
Mushaf terbitan Afif Cirebon mengalami cetak ulang pada 1951. Mushaf inilah yang kemudian menjadi acuan Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran tahun 1974 untuk penyusunan Mushaf Alquran standar Indonesia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam