Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Keluarga Muslim Asal Suriah Di Selandia Baru (Foto: Shutterstock)
Dream - " Setelah tinggal 12 tahun di Selandia Baru, saya mengatakan bahwa negara ini secara umum aman dan ramah terhadap imigran," tulis warga Selandia Baru keturunan Malaysia, Andrew Lim, di laman Quora.
Sebagai seorang non-Muslim, Andrew punya pengalaman melihat komunitas Muslim. Andrew menyebut, Muslim diterima baik di negara itu. Kaum Muslim, kata dia, memang kebanyakan berasal dari Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Timur Tengah.
" Warga lokal kulit putih dan (suku) Maori yang jadi mualaf juga ada," tambah dia.
Islam di Selandia Baru memang terbilang agama minoritas. Sensus yang digelar pada 2013 menyebut, populasi penduduk beragama Islam di negara itu berjumlah 1,1 persen. " Sementara itu data warga yang tidak beragama 38,5 persen," tulis data CIA.
Tekanan menjadi minoritas di negara tersebut nyata terjadi. Sejumlah Muslimah pernah mengalami diskriminasi akibat jilbab dan niqab yang dipakai.
Hamda Barkhad salah satunya. Ketika menjajal niqab dia mendapat pandangan aneh. " Orang-orang di jalanan dan di toko mengamatiku seolah aku orang Mars," kata Hamda, dikutip dari Radio NZ.
Keturunan Ethiopia yang lahir di Somalia itu mengatakan, " tugasnya berat."
Andrew juga mengakui adanya diskriminasi terhadap Muslim tersebut. Warga Selandia baru memperoleh persepsi terhadap Islam dari berita media massa tentang konflik di Timur Tengah dan serangan teror ISIS dan Al Qaeda.
" Sejumlah orang Selandia Baru juga tampaknya tak nyaman dengan (perempuan) yang mengenakan burka, namun lebih `menerima` ketika melihat (perempuan) dengan kerudung atau jilbab yang tidak menutupi seluruh tubuh mereka," ujar Andrew.
Meski menyebut diri sebagai negara dengan tingkat multikulturalisme yang tinggi, mengapa Muslim di Selandia Baru menghadapi diskriminasi?
Psikolog dan peneliti Universitas Victoria, Selandia Baru, Jaimee Stuart mengatakan, warga Selandia Baru nyaman dengan simbolisme-simbolisme berkaitan dengan multikulturalisme.
" Tapi kami tidak realistis terhadap multikulturalisme karena keberagaman itu menjadi representasi dan kesempatan saya yang akan mengganggu kita," ujar Jaimee.
Jaimee mengatakan, populasi Muslim di Selandia Baru, akan akan meningkat drastis. Dari data PEW Research Center, diperkirakan Muslim di Selandia Baru akan mencapai 100.000 orang pada 2030, atau 2 persen total populasi.
“ Secara umum, komunitas yang besar merupakan tantangan dan komunitas yang besar itu akan menghadapi lebih banyak diskriminasi dari kelompok lainnya," kata dia.
Kehidupan Muslim di Selandia Baru cukup terwadahi. Sebuah kelompok The Federation of Islamic Associations of New Zealand (Fianz) telah dibentuk sejak 1979. Belakangan kelompok tersebut semakin besar.
Dalam buletin komunitas tersbeut, Presiden Fianz, Mustafa Farouk, menyebut ingin terus mendorong kekompakan, ketaatan, dan mendorong perdamaian Muslim di dunia.
" Berkontribusi untuk segala aspek kehidupan harmonis di Selandia Baru dengan pemerintahan, kelompok kultural dan agama, serta LSM," ujar Mustafa.
Di laman resmi Fianz, sejumlah agenda yang bersifat keumatan kerap digelar. Pada 2018 misalnya, Fianz menggelar pelatihan menyembelih hewan ternak dengan halal, menggelar sholat Idul Fitri bersama, dan berdonasi untuk korban gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah.
Segala kegiatan tersebut tentu saja untuk menguatkan peran serta umat Islam di Selandia Baru. Mustofa punya alasannya, " Dibutuhkan kepemimpinan untuk menjaga komunitas muslim di Selandia Baru dari dampak negatif dan kebijakan di beberapa negara lain, yang mana berpotensi memecah kehidupan umat Islam di sebagai komunitas minoritas."
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya