`Cinlok` Bersemi di Tempat Observasi WNI di Natuna

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 19 Februari 2020 12:00
`Cinlok` Bersemi di Tempat Observasi WNI di Natuna
Cinta yang bersemu di antara mahasiswa.

Dream - Seorang mahasiswa Blang Bintang, Aceh Besar, Fadil, mengisahkan pengalamannya saat menjalani observasi di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau selama 14 hari.

Fadil mengatakan, bertemu dengan berbagai latar belakangan etnis bersatu penuh dengan kekeluargaan. Fadil merasa mendapatkan teman dan saudara baru.

Selain itu, dia juga menemukan kisah cinta antarwarga yang menjalani observasi. " Hal menarik, apa ya. Cinta lokasi mungkin ya," kata Fadil, dilaporkan Merdeka.com, Rabu, 19 Februari 2019.

Fadil mengatakan, cinta yang bersemi terjadi di antara mahasiswa yang diobservasi di Natuna. Fadil menyebut tidak mengalami cinta lokasi karena tidak sempat memikirkan hal semacam itu.

Fadil merupakan mahasiswa semester satu studi doktor di Central China Normal University (CCNU) Wuhan, China. 

1 dari 5 halaman

Belajar via Internet

Fadil mengaku setelah situasi semua terkendali, dia akan kembali ke Huwan untuk melanjutkan pendidikannya. Apalagi sekarang, dia baru semester satu, masih panjang perjalanan untuk bisa memperoleh gelar doktor di sana.

Kendati demikian, pendidikan mereka tetap berjalan seperti biasa. Tetapi, bedanya tidak bertatap muka, mereka tetap belajar dan berkomunikasi dengan dosen di Wuhan melalui internet.

" Kita tetap belajar, tetapi kita lewat internet," ucap dia.

Saat ini, Fadil berharap tidak ada lagi stigma negatif kepada seluruh mahasiwa yang diobservasi di Natuna. Dia berharap tidak ada lagi penolakan dari masyarakat.

" Kita berharap jangan ada intimidasi, secara fisik, secara mental juga, kita akan kembali beraktivitas seperti biasa dengan masyarakat," ujar dia.

(Sah, Sumber: Merdeka.com/Afif)

2 dari 5 halaman

Kisah Pilu Satu Keluarga Meninggal Bergantian karena Corona

Dream - Berita duka dikeluarkan oleh sebuah rumah produksi di Hubei, China pada 16 Februari lalu. Hubei merupakan provinsi tempat kota Wuhan berada. Kota yang menjadi pusat penyebaran virus mematikan corona. 

Berita itu berisi pengumuman tentang kematian seorang sutradara film Tionghoa bernama Chang Kai.

Pria 55 tahun itu meninggal di sebuah rumah sakit komunitas di Distrik Huangpi, Wuhan sekitar pukul 4:50 sore pada 14 Februari 2020 karena infeksi Covid-19 atau corona virus.

Kisah pilu keluarga sutradara ini menyita perhatian khalayak.

Pasalnya sebelum kepergian Chang, satu per satu orang tersayangnya juga menjadi korban keganasan wabah mematikan itu.

3 dari 5 halaman

4 Anggota Keluarga Meninggal

Chang dan tiga anggota keluarganya meninggal dunia karena Covid-19.

Dilansir todayonline.com, bermula pada malam tahun baru Imlek saat seluruh keluarga menyempatkan diri untuk bertemu.

Pada hari pertaman Tahun Baru China atau tepatnya 25 Januari, ayah Chang tiba-tiba sakit.

Ia mengalami batuk dan demam disertai kesulitan bernafas. Chang pun sontak membawa ayahnya ke rumah sakit untuk perawatan.

4 dari 5 halaman

Ditolak Rumah Sakit

Namun sayangnya mereka ditolak karena sudah tidak ada lagi tempat tidur. Rumah sakit menyarankan untuk mengarantina ayahnya di rumah dan mengirimkan dokter.

Mereka kembali ke rumah dan berusaha merawat ayahnya yang sakit parah.

Seorang dokter pun akhirnya datang pada tanggal 2 Februari untuk memeriksa ayah Chang. Tetapi kondisinya memburuk terlalu cepat dan ia meninggal beberapa jam kemudian di rumah.

Dalam sebuah surat wasiat, Chang menuliskan bahwa meninggalnya ayahnya adalah pukulan besar bagi ibunya yang sudah kelelahan akibat penyakit itu.

Ya, sang ibu juga terinfeksi Covid-19. Chang pun membawanya ke rumah sakit Wuchang pada 4 Februari dan meninggal empat hari kemudian.

5 dari 5 halaman

Chang Memperlihatkan Gejala

Sementara itu, Chang juga memperlihatkan gejala pada 4 Februari Setelah merawat orang tuanya yang terinfeksi selama berhari-hari di rumah.

Ia kemudian dikirim ke rumah sakit di Distrik Huangpi. Chang akhirnya meninggal pada 14 Februari di hari yang sama dengan saudara perempuannya meskipun tinggal beda rumah.

Chang meninggalkan istri dan putranya yang belajar di luar negeri. Istri Chang juga didiagnosis positif beberapa hari setelah Chang masih di rumah sakit.

Di akhir tulisan pada surat wasiatnya, Chang berkata kepada orang-orang yang dicintainya, termasuk putranya yang belajar di Inggris.

Bahwa dirinya melakukan yang terbaik sebagai seorang anak yang berbakti. " Perpisahan, untuk mereka yang kucintai dan mereka yang mencintaiku," ujar dia.

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup