Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Ilustrasi. (Foto: Pixabay.com)
Dream - Sebuah penelitian bersama yang dilakukan tim ilmuwan dari Monash University dan Doherty Institute di Australia baru-baru ini telah menemukan cara mematikan virus corona baru penyebab penyakit Covid-19.
Menurut penelitian tersebut, obat antivirus bernama Ivermectin diklaim bisa membunuh virus SARS-CoV-2, penyebab penyakit Covid-19, hanya dalam dua hari. Obat ini sekarang tersedia secara global.
Namun, perlu diingat bahwa penelitian ini dilakukan secara in vitro - di lingkungan yang terkendali di luar organisme hidup. Selain itu data yang lebih kredibel diperlukan sambil menunggu uji klinis terhadap manusia.
" Kami melaporkan bahwa Ivermectin, obat yang disetujui FDA (Badan Makanan dan Obat Amerika Serikat) yang dikenal memiliki sifat antivirus spektrum luas secara in vitro, merupakan penghambat pertumbuhan virus (penyebab Covid-19)," tulis penelitian tersebut.
Penelitian itu lebih lanjut mengungkapkan bahwa Ivermectin sebelumnya terbukti efektif melawan beragam virus, termasuk HIV, demam berdarah, influenza, dan virus Zika.
Kylie Wagstaff, seorang ilmuwan di Monash Biomedicine Discovery Institute yang memimpin penelitian ini, mengatakan hasil yang menjanjikan dari penelitian tersebut telah membuka kemungkinan uji coba terhadap manusia.
Dengan menguji coba terhadap manusia akan menghasilkan informasi yang lebih kredibel mengenai keefektifan obat dalam sel hidup.
" Kami menemukan bahwa dosis tunggal (dari Ivermectin) dapat membunuh semua RNA virus (asam ribonukleat) dalam waktu 48 jam. Bahkan dalam waktu 24 jam terdapat pengurangan (jumlah virus)," tambah Wagstaff.
Saat ini mereka hanya tinggal mencari tahu dosis yang tepat pada manusia agar obat tersebut bisa bekerja secara efektif.
Menurut Wagstaff, Ivermectin diduga mampu menghambat kemampuan virus SARS-CoV-2 dalam melemahkan sel inang agar bisa masuk ke dalamnya.
Namun, cara unik Ivermectin dalam menghambat kemampuan virus untuk masuk ke dalam sel inang masih belum ditemukan, ia menambahkan.
Banyak negara, termasuk Indonesia, berjuang keras untuk menemukan solusi untuk mengatasi virus mematikan itu, di saat para ilmuwan melakukan berbagai penelitian cepat untuk menciptakan vaksin.
Presiden Joko 'Jokowi' Widodo mengumumkan bulan lalu bahwa pemerintah telah menyiapkan obat-obatan, termasuk 3 juta dosis choloroquine phosphate.
Saat itu, Presiden Jokowi menggambarkan choloroquine phosphate 'telah terbukti menyembuhkan Covid-19 di negara lain'.
Tetapi para ilmuwan memperingatkan risiko menggunakan choloroquine phosphate - obat antimalaria.
Obat tersebut memiliki berbagai efek samping yang berbahaya termasuk diare, kesulitan bernapas, otot melemah dan gangguan mental.
(Sah, Sumber: AsiaOne)
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari