Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Ilustrasi : Shutterstock
Dream - Kekerasan diduga dilakukan oknum kepolisian kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang perawat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rembang, Jawa Tengah bernama Alimuddin Fahmy pada Kamis, 26 September 2019 malam.
Ketua DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Rembang, Tabah Tohamik menyayangkan kejadian kekerasan yang menimpa seorang perawat.
" Ini sangat merendahkan profesi perawat apalagi disaksikan banyak orang," ujar Tabah kepada Liputan6.com.
Berdasarkan data yang dihimpun Liputan6.com dari keluarga oknum polisi, peristiwa bermula ketika korban dan dokter melakukan penanganan terhadap kakek pelaku berinisial U dengan memberikan tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP).
Tindakan itu dilakukan karena pasien mengalami Cardiac Arrest atau henti jantung.
Dengan RJP, rupanya pasien kembali bisa bernafas, namun selang beberapa saat jantungnya kembali berhenti.
Melihat kondisi yang dialami sang kakek, pelaku langsung membentak korban dengan mengatakan " kamu punya tenaga tidak?" sambil mengangkat tangan hendak menampar korban.
Pihak keluarga yang menyaksikan langsung melerai dan membawa pelaku keluar dari ruang tindakan.
Namun, pelaku yang masih emosi kembali datang dengan mengatakan hal yang sama, kali ini ia berhasil menampar korban.
Menurut Tabah, tindakan yang dilakukan korban bersama dokter sudah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) dalam melakukan tindakan gawat darurat.
Tabah berharap, pelaku segera meminta maaf atas perilaku buruknya itu.
" Kami telah memaafkan oknum polisi tersebut. Kami menyadari kondisi emosi keluarga saat menghadapi keluarga dalam keadaan gawat. Namun tindakan tersebut sangat tidak dibenarkan apalagi dilakukan seorang aparat yang seharusnya melindungi masyarakat," kata dia.
(Sumber: Liputan6.com/Ahmad Adirin)
Dream - Propam Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) menetapkan dua anggota polisi Bripda Zulfikar dan Bripda Fislan sebagai tersangka. Penetapan ini dilakukan setelah Propam memeriksa keduanya selama dua belas jam, terkait kasus kematian juniornya, Bripda Faturahman Ismail.
Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Harry Goldenhart mengatakan, penyebab Faturahman meninggal dunia karena dianiaya terlebih dulu oleh kedua pelaku.
Penyebab awalnya karena Zulfikar cemburu karena pernah melihat sang istri makan bersama dengan korban.
" Bripda Zulfikar menaruh cemburu kepada korban. Pelaku menyimpan dendam," ujar Harry.
Kala itu, pada Minggu, 2 September 2018, Zulfikar dan Fislan mengumpulkan 19 juniornya dan salah satunya korban. Dengan penuh rasa cemburu dan dendam, Zulfikar memukul memukuli dan menendang korban beberapa kali. Saat itu, anggota polisi lainnya tidak berani melerai.
Setelah korban terjatuh pingsan, barulah teman-temannya membawa ke rumah sakit. Nahas, nyawa korban tidak dapat ditolong karena menderita luka parah.
Berdasarkan hasil visum, ada luka memar di kiri dan memar di bagian perut bawah. Sementara, hasil autopsi menunjukkan ada retak pada tulang rusuk sebelah kiri, ditemukan juga jejak kemerahan pada pembungkus jantung.
Kapolda Sultra, Brigjen Iriyanto menegaskan, kasus ini akan dijalankan sesuai dengan proses hukum yang berlaku.
" Bukti-bukti sudah cukup, kami sudah proses pelakunya," kata Iriyanto.
(ism, Sumber: pojoksatu.id)
Dream - Oknum polisi berpangkat brigadir berinisial J menjadi pelaku perampokan uang kas Bank Mandiri senilai Rp10 miliar dan US$250.000, setara Rp3,3 miliar. Pelaku yang berdinas di Polres Tabalong, Kalimantan Selatan ini beraksi saat mengawal pengiriman uang dari Cabang Banjarmasin ke Cabang Tabalong.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Muhammad Iqbal membenarkan perampokan yang dilakukan anggota polisi itu.
" Iya benar (ada perampokan)," kata Iqbal di Jakarta, Jumat, 5 Januari 2018.
Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 4 Januari 2018 sekitar pukul 14.30 WITA. Saat beraksi, J dibantu temannya yang berpura-pura menumpang mobil.
Dalam mobil yang digunakan mengangkut uang itu ada teller bank berinisial A dan sopir berinisial G dan . Di tengah jalan, tiba-tiba J meminta mampir terlebih dulu ke Polsek Martapura dengan dalih akan mengambil sesuatu.
Saat berada di jalan sepi, J kemudian menodongkan pistol. J lalu mengancam akan menembak A dan G jika tidak menuruti perintahnya.
J dan rekannya kemudian mengikat tangan dan kaki serta melakban mulut A dan G. Kedua korban itu kemudian dibuang di daerah Gambut.
Tak butuh waktu lama, kedua pelaku itu ditangkap aparat Polda Kalimantan Selatan pagi tadi.
" Keduanya sudah tertangkap tadi pagi jam 05.00 WITA di Tabalong," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, AKBP M. Rifai.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?