Penjual Mainan Dilarang Masuk Kampung Ini, Alasannya Sedih

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 15 November 2018 08:02
Penjual Mainan Dilarang Masuk Kampung Ini, Alasannya Sedih
Di kampung itu pedagang mainan mendapat aturan yang ketat. Sampai-sampai spanduk larangan masuk bagi pedagang mainan itu beredar.

Dream - Kegiatan menjual mainan untuk anak-anak merupakan kegiatan yang halal. Tetapi, beda cerita ketika berhadapan dengan kondisi keuangan masyarakat yang sulit.

Itulah yang terjadi di RT 012/RW 004, Desa Karanganyar, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah.

Di kampung itu pedagang mainan mendapat aturan yang ketat. Sampai-sampai spanduk larangan masuk bagi pedagang mainan itu beredar luas di Instagram @ics_infocegatansolo.

 
 
 
View this post on Instagram

Saiki desoku di kei peraturan ngeneki lur pas ono wong ewoh, ben anake ora jajan akeh � .. .. Source fb Van Hao

A post shared by ICS InfoCegatanSolo (@ics_infocegatansolo) on Nov 10, 2018 at 6:55pm PST

Berdasarkan keterangan unggahan itu, para pedagang mainan yang menjual daganganya senilai lebih dari Rp5.000 diminta tak masuk ke wilayah itu.

" Mohon maaf. Tidak boleh berjualan mainan di atas harga Rp5.000. Mengetahui: Warga Desa Karanganyar RT 12/04, Sambungmacan, Sragen."

Dikutip dari Solopos.com, Ketua RT 012/RW 004, Harloso, membenarkan larangan itu. Awalnya, kata dia, larangan itu hanya kesepakatan secara lisan, namun kemudian karang taruna setempat membuat tulisan itu.

1 dari 2 halaman

Alasannya...

“ Semula saya tidak tahu. Kemudian pada malam harinya, ada pemuda yang memberi tahu saya tentang adanya pemasangan tulisan itu di tempat hajatan warga," ujar Harloso.

Persoalannya, kata Harloso, penjual mainan anak di atas Rp5.000 itu dinilai memberatkan warga. Orang tua kerap dibuat bingung karena anak-anaknya merongrong mainan yang harganya tak dapat mereka jangkau.

" Bahkan ada orangtua yang sampai utang demi menuruti keinginan anak beli mainan,” ujar dia.

Harloso menyampaikan larangan tersebut juga ada di desa-desa lainnya. Dia menyebut di daerah Plumbon, Sambungmacan, Sragen, juga ada kesepakatan warga tentang larangan itu.

 

2 dari 2 halaman

Terjadi di Desa Lainnya

Hal itu dibenarkan Siswodiyono, warga Paingan RT 006/RW 002, Desa Plumbon, Sambungmacan. Menurut Siswadiyono, larangan penjual mainan itu kerap muncul saat hajatan.

Dia menyebut orang tua yang mendatangi hajatan seseorang sudah terbebani.

“ Kemudian ketika anak minta mainan padahal harganya sampai Rp25.000 per buah, orang tua tidak bisa membelikan karena tidak punya uang. Anak sering kali menangis dan anak mana tahu orang tuanya punya uang atu tidak. Bagi yang mampu tidak masalah, bagi yang tidak mampu jadi persoalan,” tutur Siswodiyono.

(ism, Sumber: Solopos.com)

Beri Komentar