Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

AKBP Ulung, Kapolres yang Ingin Jadi Marbut Masjid

Reporter : Syahid Latif
Rabu, 10 Februari 2016 16:29
AKBP Ulung, Kapolres yang Ingin Jadi Marbut Masjid
"Menjadi pembersih masjid, hal ini saya pandang mulia," kata Ulung.

Dream - Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Ulung Sampurna Jaya. Inilah polisi yang bercita-cita mengabdi pada agama saat pensiun nanti. Kapolres Cilacap, Jawa Tengah, ini ingin menghabiskan masa tua di masjid, mendekatkan diri kepada Allah.

" Kelak, saya ingin lebih banyak menghabiskan waktu di masjid," tutur Ulung sebagaimana dikutip Dream dari Fanspage Facebook Divisi Humas Polri, Rabu 10 Fabruari 2016.

" Mungkin, setelah nanti saya pensiun akan menyenangkan jika saya bisa mengabdikan diri, semisal menjadi pembersih masjid, hal ini saya pandang mulia," tambah dia.

Saat ini, Ulung masih berkutat dengan tugasnya di korps kepolisian. Dia tengah memerangi peredaran minuman keras dan perjudian yang meresahkan masyarakat. Dia bertekad menciptakan Cilacap sebagai wilayah " zero judi" dan " zero miras" .

" Perjudian dan miras merupakan penyakit masyarakat yang mesti diperangi sebelum kekacauan dan keambrukan masyarakat semakin meraja rela," ucap dia.

Ulung tak main-main dengan janjinya. Pengungkapan kasus perjudian tak pernah berhenti. Pemberantasan peredaran minuman keras terus dilakukan. Dia sadar, kondusifitas tak dimulai dari titik nol.

Oleh karena itu, Ulung tidak hanya mengingatkan masyarakat, tapi juga kepada anggotanya. Dia tidak akan memberi toleransi kepada jajarannya yang terlibat kasus judi dan peredaran minuman keras.

" Bagi oknum anggota yang tertangkap tangan ikut main judi, terbukti menjadi backing perjudian, ataupun peredaran miras, mesti berhadapan dengan hukum," tegas Ulung. 

1 dari 4 halaman

Selamatkan Warga Terseret Arus Sungai, Polisi Syahid

Selamatkan Warga Terseret Arus Sungai, Polisi Syahid © Dream

Dream - Komandan Kompi (Danpi) Brimob Subden 3 Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Mukhlis meninggal syahid. Dia gugur saat menyelamatkan warga yang terseret arus sungai.

Dikutip dari akun Facebook Divisi Humas Mabes Polri, Jumat, 27 November 2015, insiden terjadi pada Kamis, 26 November 2015. Sejak pagi, Mukhlis sudah berjaga di Sungai Cikindul, tepatnya di Bendungan Leuwi Pogor, Kampung Cipurut, Desa Cijagang, Kecamatan Cikalong, Cianjur untuk pengamanan kegiatan arung jeram.

Pada pukul 09.00 WIB, seorang warga sekitar, Jamaluddin, 28 tahun, menyeberang bendungan tetapi terpeleset dan jatuh ke sungai. Arus sungai yang kencang menyeret tubuh Jamaluddin.

Mengetahui hal itu, Mukhlis bersama anggota Brimob Subden 3 Cipanas, Bripda Prento segera terjun ke sungai menyelamatkan Jamaluddin. Tetapi, derasnya arus sungai membuat upaya penyelamatan berjalan sulit hingga keduanya ikut tenggelam.

Jamaluddin berhasil diselamatkan. Sementara Prento mengalami kondisi kritis dan Mukhlis tidak terselamatkan.

Tim Dokkes Polda Jawa Barat dan petugas Puskesmas Cijagang segera mengambil tindakan medis menyelamatkan keduanya. Tetapi, Mukhlis tetap tidak tertolong.

 

2 dari 4 halaman

Kala Gus Dur Ditilang Polisi: "Belum Tahu Dia

Kala Gus Dur Ditilang Polisi: "Belum Tahu Dia © Dream

Dream - Cerita lucu tetang sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tak akan pernah ada habisnya. Meski sudah sering dibahas, tetap saja ada cerita-cerita lucu tentang Presiden keempat RI tersebut.

Salah satunya adalah ketika mobil yang membawa Gus Dur dibuntuti mobil polisi. Bahkan sang sopir, Nurudin Hidayat sempat diberondong pertanyaan oleh polisi tersebut.

Cerita ini bermulai saat Gus Dur mendapat undangan menjadi pembicara di luar kota. Tak biasanya Gus Dur pergi tanpa pengawalan mobil patroli.

Mengemudikan dengan kecepatan tinggi, mobil Gus Dur pun disemprit polisi. Sampai akhirnya, polisi itu melihat penumpang yang tengah duduk di belakang.

Setengah terbengong, polisi itu memberanikan diri bertanya. " Itu Pak Gus Dur, ya?" tanyanya.

Si Polisi yang semula bermuka garang pun tiba-tiba berubah. Dia malah mengawal mobil Gus Dur.

Sementara Gus Dur yang sedari tadi tak tahu kejadian itu justru tenang-tenang saja. Mau tahu apa jawaban Gus Dur? Selengkapnya klik disini

Kirimkan blog atau website kamu ke komunitas@dream.co.id, 
dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog/web
3. Foto dengan ukuran high-res (tidak blur)

 

3 dari 4 halaman

Foto Polisi Bantu Anak Sekolah Bikin Publik Terenyuh

Foto Polisi Bantu Anak Sekolah Bikin Publik Terenyuh © Dream

Dream - Ketulusan hati polisi yang satu ini dalam mengemban tugas tampaknya patut diacungi jempol. Anggota Satuan Lalu Lintas (Sat. Lantas) Polres Kebumen yang diketahui bernama Aipda Mariyanto, SH itu dengan sabar membantu memasang rantai sepeda anak sekolah yang lepas di Jalan Pahlawan Kebumen.

Aksi simpatik Aipda Mariyanto pun tertangkap kamera dan diunggah ke dalam akun Facebook Sat. Lantas Polres Kebumen pada Jumat 14 Agustus 2015 kemarin.

Pasca diunggah, foto tersebut menuai banyak reaksi dari netizen. Sebagian besar netizen memberi tanggapan positif lantaran merasa terenyuh melihat aksi tulus sang polisi dalam membantu warga.

Meski ada juga beberapa di antaranya yang menganggap tindakan tersebut sebagai pencitraan belaka. Hingga kini, semakin banyak netizen yang membagikan foto tersebut lantaran mengapresiasi tindakan Aipda Mariyanto.

4 dari 4 halaman

Kisah Aiptu Rusmieadi Bangun Pesantren dari Gaji Polisi

Kisah Aiptu Rusmieadi Bangun Pesantren dari Gaji Polisi © Dream

Dream - Menjadi polisi bukanlah mimpi terakhir dalam kehidupan Aiptu Rusmieadi. Meski sudah menyandang pangkat di pundak, angota Unit Reskrim Polres Klaten, Jawa Tengah, itu masih punya keinginan lain: mendirikan pesantren.

Mimpi itu mulai dirajut pada tahun 2001. Saat Rusmieadi kerap berkunjung ke Masjid Golo di Kecamatan Bayat. Pada saat itulah dia berkenalan dengan seorang guru yang mengajarkan tentang arti hidup.

“ Saya waktu itu sedang dalam titik di mana hati saya bertanya, siapa sesungguhnya orang yang dianggap paling benar,” kata Rusmieadi sebagaimana dikutip Dream dari Fanspage Facebook Divisi Humas Mabes Polri, Jumat 26 Juni 2015.

“ Kemudian dari seorang guru, saya diajarkan bahwa orang yang paling benar adalah orang yang merasa dirinya paling bersalah,” tambah dia.

Pertemuan dengan seorang guru tersebut seolah membuat Rusmieadi tersadar. Bahwa melakukan perbaikan harus dimulai dari diri sendiri. Bukan dari orang lain.

“ Jangan sibuk mencari siapa yang paling benar, namun perbaiki diri kita dulu. Dari situlah saya mencoba membangun mental saya terlebih dahulu,” ujar Rusmieadi.

Kesadaran itu menyeret Rusmieadi pada keinginan untuk membangun sebuah pesantren. Sedikit demi sedikit gaji bulanan dia sisihkan. Dan akhirnya, pondok pesantren yang diidam-idamkan terwujud pada 2006.

Pondok pesantren milik pria 54 tahun itu terletak di Dusun Dukuh, Desa Dukuh, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Jalur menuju ponpes itu tidak mulus. Terjal berbatu, seperti kerasnya usaha mendirikan pesantren ini.

Pendirian pesantren itu dimulai setelah gempa Yogyakarta tahun 2006. Saat itu, Rusmieadi menjadi salah satu warga yang mendapat bantuan. Uang bantuan inilah yang digunakan Rusmieadi untuk memperbaiki rumah dan membangun pondok kecil.

Namun, usaha itu tidak mudah. Sebab, keluarga dan kerabat malah menjadi penentang utama keinginan itu. Rusmieadi sempat bertahan beberapa tahun. Tapi kemudian memutuskan memindah pesantren ke tengah sawah. Ke dekat petilasan Syekh Subakir, ulama terkemuka di Tanah Jawa tempo dulu.

Dari sebuah gubuk kecil yang dipergunakan untuk musala, Rusmieadi kemudian membangun pondok pesantren yang baru secara bertahap. Selain dari sebagian gaji bulanan, Rusmieadi juga mendapat sumbangan dari sejumlah kawan yang berempati atas perjuangannya. (Ism)

Beri Komentar