Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Generali Indonesia Menggunakan "strategi" Untuk Menarik Minat Masyarakat Indonesia Untuk Berasuransi Syariah.
Dream – CEO Generali Indonesia, Edy Tuhirman, mengatakan, pihaknya mendapat temuan terkait kecenderungan Muslim Indonesia yang enggan berasuransi. Tetapi, menurut dia, umat Islam justru lebih tertarik dengan wakaf karena bagian dari ajaran agama.
" Masih sedikit orang yang ingin berasuransi. Tapi kalau wakaf, orang ingin,” kata Edy saat peluncuran iPlan Syariah di Jakarta, ditulis Kamis 26 Januari 2018.
Fakta tersebut mendasari Generali Indonesia meluncurkan produk asuransi barunya, Insurance Protection Linked Auto Navigation (iPLAN) Syariah. Asuransi ini dilengkapi fasilitas wakaf sehingga pemilik premi dapat menikmati dua manfaat sekaligus, yaitu asuransi sekaligus wakaf.
Selanjutnya, Edy mengatakan masih banyak orang Indonesia yang tidak berasuransi karena belum tahu manfaatnya. Fitur wakaf dihadirkan untuk menarik minat masyarakat, khususnya Muslim, untuk berasuransi.
“ Masih banyak yang anti asuransi karena belum tahu fungsinya. Dengan (produk) ini, orang melihat wakafnya—bukan asuransinya, melainkan ibadahnya. Asuransi cuma alat mencapai wakaf,” kata dia.
Edy mengatakan iPLAN Syariah memiliki kontribusi minimum Rp10 ribu per hari atau Rp300 ribu per bulan untuk berwakaf sambil berasuransi. Setiap lima tahun sekali, hasil asuransi akan diwakafkan ke lembaga penerima wakaf, termasuk Dompet Dhuafa.
Menurut Edy, rata-rata nasabah berkontribusi sebesar Rp2 juta per bulan, bahkan ada yang menambah kontribusi. “ Jarang ada nasabah yang berhenti di tengah jalan. Kebanyakan malah top up,” kata dia.
(Laporan: Annisa Mutiara Asharini)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya