Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Jack Ma Punya Alasan Untuk Tidak Merekrut Orang-orang "terbaik" Dan Lulusan Sekolah Bisnis. (Foto: CNBC)
Dream – CEO Alibaba, Jack Ma, ogah merekrut kandidat terbaik untuk sebuah posisi di Alibaba. Mengapa?
Dilansir dari Next Shark, Minggu 29 Juli 2018, Ma tidak ingin mempekerjakan orang yang lulus dari sekolah bisnis. Dia berpendapat belajar bisnis di sekolah itu tidak penting dan lulusannya kebanyakan tidak bermanfaat.
“ Kecuali kalau mereka kembali dari sekolahnya dan melupakan apa saja yang dipelajari di sekolah,” kata dia dalam buku Alibaba: The House That Jack Ma Built.
Mantan guru bahasa Inggris ini mengatakan sekolah mengajarkan ilmu, sedangkan bisnis memerlukan kebijaksanaan.
“ Kebijaksanaan didapat dari pengalaman. Ilmu bisa didapat dari kerja keras,” kata dia.
Ma juga berpendapat, tim kerja yang bagus bukanlah tim yang anggotanya berasal dari universitas ternama, atau orang-orang yang dulu pernah bekerja di perusahaan yang tembus daftar 500 perusahaan kelas dunia Fortune.
Dia bercerita, pernah mempekerjakan seorang pakar pemasaran dari perusahaan besar untuk membuat rencana pemasaran. Ketika itu, Alibaba “ naik kelas” dari yang bermodal US$50 ribu (Rp721,36 juta) menjadi US$5 juta (Rp72,13 miliar). Tapi, sang pakar itu membuat rencana bisnis yang senilai US$12 juta (Rp17,31 miliar).
“ Dan saya berkata, ‘Hei, kita hanya punya uang US$5 juta. Bagaimana bisa kamu memberi rencana bisnis yang bujet pemasarannya US$12 juta?’. Dia (pakar) itu berkata, ‘Jack, saya tak pernah membuat rencana bisnis (yang bujetnya) di bawah US$20 juta (Rp28,85 miliar),” kenang Ma.
Dari sini, Ma tersadar bahwa yang terpenting adalah menjaring orang yang tepat. Orang yang terbaik justru didapat dari orang-orang yang dilatih.
“ Tak ada ‘orang terbaik’ di pasar. Orang terbaik adalah orang yang selalu kamu latih,” kata dia. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya